Penjelasan Hadits Bukhari No. 4968 tentang Bacaan rukuk dan sujud sesuai perintah Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memperbanyak membaca doa “Subhānakallāhumma Rabbanā wa bihamdika, Allāhummaghfirlī” ketika rukuk dan sujud. Bacaan ini bukan sekadar zikir, tetapi juga bentuk pengamalan langsung terhadap perintah Al-Qur’an, khususnya dalam QS. An-Nashr [110]: 3. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah contoh sempurna bagaimana sunnah Nabi ﷺ menafsirkan dan mengamalkan Al-Qur’an.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir, no. 4968, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Dalil Al-Qur’an yang menjadi rujukan bacaan ini:

QS. An-Nashr [110]: 3

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Terjemahan:

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.”

Kaitan dengan hadits:

Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebut bahwa Nabi ﷺ membaca doa ini sebagai ta’wīl (pengamalan/penerapan) dari Al-Qur’an. Artinya, beliau mengamalkan perintah dalam QS. An-Nashr [110]: 3 dengan membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

Terjemahan:

“Maha Suci Engkau, ya Allah, Tuhan kami, dan segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.”

Penjelasan ulama terkait:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya membaca tasbih dan istighfar dalam rukuk dan sujud, dan bahwa Nabi ﷺ mengamalkan ayat tersebut secara langsung.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa bacaan ini termasuk sunnah yang dianjurkan dalam shalat, dan menggabungkan antara tasbih, tahmid, dan istighfar.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa QS. An-Nashr [110]: 3 adalah perintah untuk memperbanyak tasbih dan istighfar, terutama setelah menyelesaikan tugas besar, dan Nabi ﷺ mengamalkannya dalam shalat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini sangat penting karena menunjukkan cara Nabi ﷺ mengamalkan Al-Qur’an secara praktis. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Nabi ﷺ “يَتَأَوَّلُ الْقُرْآنَ” — yaitu beliau mengamalkan atau menerapkan makna Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa bacaan dalam rukuk dan sujud bukan hanya zikir biasa, tetapi merupakan realisasi dari perintah Allah dalam QS. An-Nashr [110]: 3.

Makna bacaan:

  1. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ — “Maha Suci Engkau, ya Allah”

Ini adalah tasbih, yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan.

  1. رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ — “Tuhan kami, dan segala pujian bagi-Mu”

Ini adalah tahmid, yaitu memuji Allah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya.

  1. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي — “Ya Allah, ampunilah aku”

Ini adalah istighfar, yaitu memohon ampunan kepada Allah.

Pemahaman ulama:

  • Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, menunjukkan bahwa beliau memandang hadits ini sebagai penjelasan langsung dari ayat Al-Qur’an.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa rukuk dan sujud adalah tempat yang tepat untuk berdoa dan berzikir, karena saat itu seorang hamba berada dalam keadaan paling dekat dengan Allah.
  • Imam an-Nawawi menegaskan bahwa membaca tasbih dan istighfar dalam rukuk dan sujud adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang keutamaannya.
  • Ibn Katsir menambahkan bahwa ayat ini turun sebagai isyarat bahwa akhir hidup Nabi ﷺ sudah dekat, sehingga beliau diperintahkan memperbanyak tasbih dan istighfar. Maka Nabi ﷺ pun mengamalkannya dalam shalat.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya bacaan ini.

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa bacaan ini sunnah, bukan wajib.
  • Imam Abu Hanifah juga berpendapat bahwa tasbih dalam rukuk dan sujud adalah sunnah.
  • Tidak ada ulama dari daftar yang menyatakan bahwa bacaan ini wajib, sehingga pendapat yang paling kuat adalah sunnah yang sangat dianjurkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha memperhatikan Nabi ﷺ dalam shalatnya. Beliau melihat bahwa Nabi ﷺ tidak hanya membaca tasbih, tetapi juga memperbanyak istighfar dalam rukuk dan sujud. Aisyah kemudian bertanya tentang hal itu, dan Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Allah telah menurunkan ayat:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ

Maka Nabi ﷺ pun mengamalkan ayat itu secara langsung dalam shalatnya.

Hikmah: Seorang mukmin sejati adalah orang yang membaca Al-Qur’an lalu mengamalkannya, bukan hanya menghafal atau membacanya tanpa tindakan. Nabi ﷺ adalah contoh terbaik dalam hal ini.

(Kisah ini disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.)

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah membaca

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

dalam rukuk dan sujud.

  1. Pahami maknanya — bahwa kita sedang menyucikan Allah, memuji-Nya, dan memohon ampunan.
  2. Jadikan shalat sebagai sarana mengamalkan Al-Qur’an, bukan hanya membaca ayat, tetapi juga menerapkannya.
  3. Ikutilah sunnah Nabi ﷺ dalam ibadah, karena beliau adalah teladan terbaik dalam mengamalkan Al-Qur’an.
  4. Jangan tinggalkan istighfar dalam shalat, karena itu adalah bentuk kerendahan hati di hadapan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?