Penjelasan Hadits Bukhari No. 4967 tentang Doa Nabi setelah surat An-Nasr

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa setelah turunnya Surat An-Nashr, Nabi ﷺ selalu membaca doa "Subhaanaka Rabbanaa wa bihamdika, Allahumma ighfir lii" di dalam shalatnya. Doa ini adalah bentuk pengamalan langsung dari perintah Allah dalam Surat An-Nashr ayat 3, yaitu bertasbih, memuji Allah, dan memohon ampunan. Ini juga menjadi dalil bahwa istighfar adalah penutup amal shalih yang paling utama.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. An-Nashr [110]: 3

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

Terjemahan: "Dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong."

Kemudian Allah memerintahkan:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Terjemahan: "Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Sanadnya: Al-Hasan bin Ar-Rabi' → Abu Al-Ahwash → Al-A'masy → Abu Adh-Dhuha → Masruq → 'Aisyah.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pengamalan Nabi ﷺ terhadap perintah Surat An-Nashr secara langsung dalam shalat.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa doa ini dibaca dalam shalat, dan para ulama berbeda pendapat apakah dibaca dalam ruku', sujud, atau setelah membaca surat.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Surat An-Nashr adalah isyarat dekatnya ajal Nabi ﷺ, dan beliau diperintahkan menutup hidupnya dengan tasbih, tahmid, dan istighfar.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

'Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa setelah turunnya Surat An-Nashr, setiap kali Nabi ﷺ shalat, beliau selalu mengucapkan: "Subhaanaka Rabbanaa wa bihamdika, Allahumma ighfir lii" (Maha Suci Engkau ya Rabb kami, dan segala puji bagi-Mu; ya Allah ampunilah aku).

Pemahaman para ulama:

  1. Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, menunjukkan bahwa hadits ini adalah tafsir amali (pengamalan) dari Surat An-Nashr. Beliau ingin menunjukkan bahwa ayat "fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirh" benar-benar diamalkan Nabi ﷺ.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa pendapat tentang tempat membaca doa ini:
  • Sebagian ulama berpendapat dibaca dalam ruku', karena ada riwayat lain yang menyebutkan Nabi ﷺ membaca "Subhaanaka Allahumma Rabbanaa wa bihamdika, Allahumma ighfir lii" dalam ruku' dan sujud (riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah).
  • Sebagian berpendapat dibaca setelah membaca surat, sebelum ruku'.
  • Pendapat yang paling kuat menurut jumhur: doa ini dibaca dalam ruku' dan sujud, sebagaimana hadits lain yang lebih tegas menjelaskan tempatnya.
  1. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama sepakat doa ini disyariatkan, dan yang paling utama adalah membacanya dalam ruku' dan sujud, karena itulah tempat yang paling dekat dengan pengamalan Nabi ﷺ.
  2. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Surat An-Nashr adalah surat terakhir yang turun secara lengkap, dan menjadi isyarat bahwa tugas kenabian Nabi ﷺ telah sempurna. Maka Allah memerintahkan beliau menutup dengan tasbih, tahmid, dan istighfar — sebagai bentuk syukur dan taubat.
  3. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa istighfar setelah amal shalih adalah sunnah para nabi. Seperti Nabi Adam, Nabi Yunus, dan Nabi Muhammad ﷺ — semuanya menutup amal dengan istighfar.

Perbedaan pendapat:

  • Hanafiyah dan Syafi'iyah: doa ini dibaca dalam ruku' dan sujud.
  • Hanabilah: dibaca dalam ruku' dan sujud, dan sebagian membolehkan setelah membaca surat.
  • Malikiyah: sebagian membolehkan, sebagian memakruhkan menambah doa ini dalam shalat wajib.

Pendapat yang paling kuat: dibaca dalam ruku' dan sujud, berdasarkan hadits 'Aisyah yang lain yang lebih tegas menyebutkan tempatnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah membaca Surat An-Nashr dan menangis. Ketika ditanya, beliau berkata: "Ini adalah berita wafatnya Nabi ﷺ." (Riwayat Al-Bukhari secara makna).

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma juga berkata: "Surat An-Nashr adalah surat terakhir yang turun, dan itu adalah isyarat dekatnya ajal Nabi ﷺ." (Riwayat Al-Bukhari).

Hikmah: Ketika seorang hamba mencapai puncak amal, hendaklah ia menutupnya dengan tasbih, tahmid, dan istighfar — bukan dengan bangga diri. Inilah adab para nabi dan salafus shalih.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa ini dalam shalat — terutama dalam ruku' dan sujud: "Subhaanaka Rabbanaa wa bihamdika, Allahumma ighfir lii".
  2. Jadikan istighfar sebagai penutup amal shalih — setelah shalat, setelah mengajar, setelah berdakwah, setelah berbuat baik.
  3. Jangan merasa suci — semakin tinggi amal, semakin banyak istighfar, seperti Nabi ﷺ yang ma'shum tetap beristighfar.
  4. Renungkan Surat An-Nashr — bahwa kemenangan sejati adalah ketika kita kembali kepada Allah dengan taubat.
  5. Ikuti pemahaman ulama — jangan berijtihad sendiri dalam ibadah, ikutilah penjelasan Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Katsir.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?