Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surat At-Tin (QS. At-Tin [95]) dalam shalat Isya ketika sedang safar (bepergian), tepatnya pada salah satu dari dua rakaat pertama. Ini menjadi dalil bahwa membaca surat pendek dalam shalat malam hukumnya boleh dan sah, serta menunjukkan betapa Nabi ﷺ terkadang memilih surat sesuai keadaan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa bacaan Nabi ﷺ dalam safar bisa lebih ringan, namun tetap penuh makna.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ dalam hadits ini:
QS. At-Tin [95]: 1-4
وَٱلتِّينِ وَٱلزَّيْتُونِ ١ وَطُورِ سِينِينَ ٢ وَهَٰذَا ٱلْبَلَدِ ٱلْأَمِينِ ٣ لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ٤
Terjemahan ringkas: "Demi buah tin dan buah zaitun. Dan demi gunung Sinai. Dan demi negeri yang aman ini (Makkah). Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu. Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) meriwayatkannya melalui jalur Hajjaj bin Minhal dari Syu'bah dari 'Adi bin Tsabit dari Al-Bara'.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membaca surat apa saja yang dihafal dalam shalat, dan tidak ada keharusan membaca surat tertentu setelah Al-Fatihah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan kitab-kitab fiqihnya menegaskan bahwa membaca surat setelah Al-Fatihah dalam dua rakaat pertama adalah sunnah, dan boleh memilih surat sesuai keadaan.
- Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan makna surat At-Tin secara mendalam, termasuk bahwa Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, lalu manusia bisa turun derajatnya jika tidak beriman dan beramal saleh.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Bolehnya membaca surat pendek dalam shalat wajib.
Nabi ﷺ membaca surat At-Tin dalam shalat Isya. Ini menunjukkan bahwa membaca surat setelah Al-Fatihah tidak harus surat panjang. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa sunnahnya adalah membaca surat pada dua rakaat pertama, dan boleh memilih surat yang dihafal. Ibn Hajar menambahkan bahwa Nabi ﷺ terkadang membaca surat panjang dan terkadang pendek, sesuai keadaan dan maslahat.
Kedua: Keadaan safar mempengaruhi bacaan.
Dalam hadits ini disebutkan Nabi ﷺ sedang dalam safar. Ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan, Nabi ﷺ terkadang meringankan bacaan. Namun perlu dicatat, dalam hadits lain Nabi ﷺ juga membaca surat panjang dalam safar, seperti surat Ath-Thur dan Al-Qamar. Ini menunjukkan fleksibilitas dan tidak ada keharusan satu pola tertentu.
Ketiga: Surat At-Tin memiliki kandungan tauhid yang agung.
Ibn Katsir menjelaskan bahwa surat ini dimulai dengan sumpah Allah dengan makhluk-makhluk-Nya yang mulia: buah tin, buah zaitun, gunung Sinai, dan negeri Makkah. Kemudian Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan manusia dalam bentuk terbaik. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat "تَقْوِيمٍ" (sebaik-baik bentuk) mencakup keseimbangan fisik, akal, dan fitrah beragama. Manusia diberi potensi untuk mengenal Allah, namun bisa jatuh jika tidak bersyukur.
Keempat: Perbedaan pendapat tentang membaca surat dalam shalat.
Para ulama dari daftar seperti Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik sepakat bahwa membaca surat setelah Al-Fatihah adalah sunnah, bukan wajib. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa membaca surat dalam dua rakaat pertama adalah sunnah muakkadah. Tidak ada perbedaan yang signifikan bahwa membaca surat pendek itu sah dan tidak mengurangi keutamaan shalat.
Kelima: Adab dalam memilih bacaan.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa Nabi ﷺ terkadang memilih surat yang mengandung peringatan atau kabar gembira sesuai keadaan. Dalam safar, beliau memilih surat yang mengingatkan tentang penciptaan dan tujuan hidup, seperti At-Tin.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits tentang shalat Nabi ﷺ. Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan bersama Nabi ﷺ, Al-Bara' mendengar bacaan Nabi ﷺ dalam shalat Isya. Ia memperhatikan dengan seksama, dan setelah shalat ia mengingat betul bahwa Nabi ﷺ membaca "وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ" hingga ayat "تَقْوِيمٍ". Al-Bara' kemudian menyampaikan hal ini kepada murid-muridnya, sehingga sampai kepada kita melalui Imam Al-Bukhari.
Hikmahnya: Para sahabat sangat memperhatikan gerakan dan bacaan Nabi ﷺ, bahkan dalam keadaan safar. Mereka tidak hanya beribadah, tetapi juga mencatat dan menyampaikan ilmu. Ini mengajarkan kita untuk memperhatikan sunnah dengan cermat dan menyampaikannya kepada orang lain.
Kesimpulan Praktis
- Boleh membaca surat pendek dalam shalat wajib, termasuk shalat Isya, baik dalam keadaan safar maupun di rumah.
- Membaca surat setelah Al-Fatihah adalah sunnah, bukan kewajiban. Jika tidak hafal surat panjang, bacalah yang dihafal dengan tartil.
- Surat At-Tin mengandung pelajaran tauhid: Allah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik, maka hendaklah kita bersyukur dan beramal saleh.
- Dalam safar, boleh meringankan bacaan sesuai keadaan, namun tetap menjaga kekhusyukan.
- Teladani para sahabat dalam memperhatikan sunnah Nabi ﷺ dan menyampaikannya dengan benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.