Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang seorang wanita yang berkata kepada Nabi ﷺ bahwa wahyu sudah lama tidak turun, sehingga ia mengira Allah "meninggalkan" dan "membenci" beliau. Maka Allah langsung menurunkan QS. Ad-Dhuha [93]: 3 sebagai bantahan dan penghibur bagi Nabi ﷺ. Hadits ini mengajarkan bahwa keterlambatan wahyu atau ujian bukan berarti Allah murka, justru bisa jadi bentuk kasih sayang dan persiapan untuk kebaikan yang lebih besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ad-Dhuha [93]: 3
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
"Tuhanmu (wahai Muhammad) tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu."
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari no. 4951, dari Jundub Al-Bajali radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat lain (Shahih Muslim no. 1797), disebutkan bahwa yang bertanya adalah Ummu Jamil atau istri Nabi ﷺ, Khadijah radhiyallahu 'anha, ketika wahyu berhenti selama beberapa waktu.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas orang-orang musyrik yang berkata, "Muhammad telah ditinggalkan oleh Rabbnya dan dibenci." Allah membantah dengan tegas.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa makna mā wadda'aka adalah "Allah tidak meninggalkanmu" dan mā qalā adalah "Allah tidak membencimu." Ini adalah kabar gembira sekaligus penegasan bahwa Allah senantiasa menjaga dan mencintai Nabi-Nya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini berkaitan dengan peristiwa fatrah al-wahy (terhentinya wahyu sementara). Setelah wahyu pertama turun di Gua Hira, wahyu berhenti selama beberapa waktu. Kaum musyrik Quraisy mengejek Nabi ﷺ dengan mengatakan bahwa Rabbnya telah meninggalkannya dan membencinya.
Pandangan Ulama:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir pada bab penafsiran QS. Ad-Dhuha, menunjukkan bahwa hadits ini adalah asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut.
- Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil riwayat dari Jundub bin Abdillah Al-Bajali bahwa seorang wanita berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, aku tidak melihat sahabatmu (Jibril) kecuali ia telah lambat datang kepadamu." Maka turunlah ayat ini. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan Nabi-Nya dan tidak membencinya, justru Allah senantiasa bersamanya.
- Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini adalah penghibur bagi Nabi ﷺ. Allah menyampaikan dua kabar: pertama, Allah tidak meninggalkan beliau; kedua, Allah tidak membenci beliau. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang sangat besar kepada Rasul-Nya.
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa keterlambatan wahyu adalah ujian kesabaran bagi Nabi ﷺ, dan Allah mengajarkan bahwa di balik ujian selalu ada hikmah dan kebaikan.
Pelajaran penting: Keterlambatan wahyu bukan berarti Allah murka. Justru Allah sedang mempersiapkan Nabi ﷺ untuk menerima wahyu berikutnya dengan hati yang lebih siap. Ini juga menjadi pelajaran bagi kita bahwa ketika doa terasa lambat dikabulkan atau ujian datang bertubi-tubi, bukan berarti Allah meninggalkan kita. Allah senantiasa bersama hamba-Nya yang beriman.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah wahyu pertama turun di Gua Hira, wahyu berhenti selama beberapa waktu. Nabi ﷺ sangat bersedih dan rindu akan turunnya wahyu. Bahkan beliau keluar rumah dan pergi ke puncak gunung untuk merenung, ingin menjatuhkan diri karena sedihnya, namun Jibril selalu menampakkan diri dan menenangkan beliau.
Ketika seorang wanita (dalam riwayat lain disebutkan Ummu Jamil atau istri Nabi) berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak melihat sahabatmu kecuali ia telah lambat datang," maka turunlah QS. Ad-Dhuha. Allah berfirman: "Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu."
Imam Ibnu Katsir menukil bahwa setelah ayat ini turun, Nabi ﷺ merasa sangat tenang dan gembira. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah melupakan hamba-Nya yang ikhlas berjuang di jalan-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berprasangka buruk kepada Allah ketika ujian atau keterlambatan datang. Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman.
- Bersabar dalam menunggu pertolongan Allah — seperti Nabi ﷺ yang bersabar saat wahyu terhenti.
- Yakinlah bahwa setiap keterlambatan ada hikmahnya — Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik.
- Jadikan QS. Ad-Dhuha sebagai penguat hati ketika merasa sendirian atau tertekan.
- Jangan mudah terpancing ejekan orang lain — sebagaimana Nabi ﷺ tidak terpancing ejekan kaum musyrik, tetapi justru mendapat dukungan dari Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.