Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa takdir tempat seseorang di surga atau neraka telah ditulis, namun hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk malas beramal. Sebaliknya, setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya. Maka kita diperintahkan untuk terus beramal saleh, karena Allah memudahkan hamba-Nya menuju jalan yang telah ditetapkan-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ * فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ
(QS. Al-Lail [92]: 5-10)
Artinya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى", no. 4949, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (8/464-465) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan bantahan terhadap golongan yang berdalih dengan takdir untuk meninggalkan amal. Beliau menukil perkataan Imam Al-Bukhari sendiri bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban beramal dan larangan bertawakal (pasrah tanpa usaha) atas takdir.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/205) mengatakan: "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa amal perbuatan menjadi sebab masuk surga atau neraka, dan bahwa setiap orang dimudahkan untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya."
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/144) menjelaskan: "Makna hadits ini adalah bahwa Allah telah menulis takdir setiap hamba, lalu memudahkan mereka untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdir tersebut. Maka barangsiapa yang ditakdirkan bahagia, ia akan dimudahkan beramal saleh, dan barangsiapa ditakdirkan sengsara, ia akan dimudahkan beramal buruk."
Penjelasan Rinci
Hadits ini terjadi saat Rasulullah ﷺ berada di suatu pemakaman. Beliau mengambil sebatang dahan atau kayu kecil, lalu menggaruk-garuk tanah dengannya. Kemudian beliau menyampaikan kabar yang sangat penting: bahwa tempat setiap manusia di surga atau neraka telah ditulis.
Para sahabat yang mendengar hal ini langsung bertanya dengan penuh keheranan: "Kalau begitu, apakah kita tidak boleh bersandar pada takdir dan meninggalkan amal?" Pertanyaan ini menunjukkan pemahaman mereka yang mendalam, bahwa berita tentang takdir bisa disalahpahami sebagai alasan untuk pasif.
Rasulullah ﷺ dengan tegas menjawab: "Beramallah kalian! Karena setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan amal yang sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya." Beliau tidak membiarkan pemahaman yang keliru tentang takdir. Justru, takdir menjadi motivasi untuk beramal, bukan penghalang.
Kemudian beliau membaca ayat dari surat Al-Lail yang menjelaskan bahwa orang yang gemar bersedekah, bertakwa, dan membenarkan pahala surga, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju kebaikan. Sebaliknya, orang yang bakhil, merasa cukup tanpa Allah, dan mendustakan pahala, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju keburukan.
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim (8/402) menjelaskan bahwa ayat ini mengandung makna: "Barangsiapa yang memiliki sifat-sifat baik ini, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melakukan amal saleh dan memberinya taufik untuk mengerjakannya. Dan barangsiapa yang memiliki sifat-sifat buruk ini, maka Allah akan membiarkannya dan memudahkan baginya jalan menuju keburukan."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (hlm. 929) menafsirkan: "Ini merupakan balasan yang setimpal. Barangsiapa yang berusaha melakukan ketaatan, maka Allah akan memudahkan jalannya. Dan barangsiapa yang berpaling dari ketaatan, maka Allah akan mempersulit urusannya dan memudahkan jalannya menuju maksiat."
Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan amal. Sebab, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beramal dan melarang mereka dari kemalasan. Takdir adalah rahasia Allah yang tidak diketahui manusia, dan amal perbuatan adalah jalan yang mengantarkan kepada takdir tersebut.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ keluar menemui para sahabat. Saat itu beliau membawa dua buah buku atau catatan. Beliau bersabda: "Tahukah kalian apa ini?" Para sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Maka beliau bersabda tentang buku yang di tangan kanan: "Ini adalah buku dari Rabb semesta alam, berisi nama-nama penghuni surga, nama ayah mereka, dan kabilah mereka. Kemudian disebutkan jumlah mereka secara lengkap, tidak akan ditambah dan tidak akan dikurangi." Kemudian beliau bersabda tentang buku yang di tangan kiri: "Ini adalah buku dari Rabb semesta alam, berisi nama-nama penghuni neraka, nama ayah mereka, dan kabilah mereka. Kemudian disebutkan jumlah mereka secara lengkap, tidak akan ditambah dan tidak akan dikurangi."
Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, jika urusan telah ditetapkan, lalu untuk apa kita beramal?" Beliau menjawab: "Beramallah kalian dan tetapiah berusaha, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang yang termasuk golongan bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amal orang-orang bahagia. Dan adapun orang yang termasuk golongan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amal orang-orang sengsara." Kemudian beliau membaca ayat: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya keseimbangan antara iman kepada takdir dan usaha beramal. Para sahabat yang mulia tidak pernah berhenti beramal meskipun mereka yakin akan takdir. Sebaliknya, keyakinan mereka terhadap takdir justru membuat mereka semakin giat beribadah dan menjauhi maksiat.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada takdir tidak menghalangi amal, justru menjadi motivasi untuk beramal sesuai dengan petunjuk Allah.
- Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan amal yang sesuai dengan kecenderungan hatinya. Maka hendaknya kita memilih amal saleh agar Allah memudahkan kita terus berada di jalan kebaikan.
- Jangan pernah bermalas-malasan dengan alasan takdir, karena takdir adalah rahasia Allah dan amal adalah jalan menuju takdir tersebut.
- Perbanyak sedekah, takwa, dan keyakinan terhadap pahala surga, karena sifat-sifat ini akan memudahkan kita menuju kebaikan.
- Jauhi sifat bakhil, merasa cukup tanpa Allah, dan mendustakan pahala, karena sifat-sifat ini akan memudahkan kita menuju keburukan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.