Penjelasan Hadits Bukhari No. 4937 tentang Keutamaan penghafal Al-Qur'an dan pahalanya

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua keadaan orang yang berinteraksi dengan Al-Qur'an. Pertama, orang yang mahir dan hafal Al-Qur'an akan bersama para malaikat mulia. Kedua, orang yang membaca Al-Qur'an dengan susah payah dan terbata-bata tetap mendapatkan pahala, bahkan dua pahala: pahala membaca dan pahala kesabarannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Surah 'Abasa, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks Hadits:

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهْوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ، فَلَهُ أَجْرَانِ"

Terjemahan:

Nabi ﷺ bersabda, "Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur'an dan menghafalnya adalah bersama para penulis yang mulia dan saleh. Dan perumpamaan orang yang membaca Al-Qur'an tetapi menghafalnya dengan susah payah, baginya dua pahala."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

Allah Ta'ala berfirman:

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ﴿١٥﴾ كِرَامٍ بَرَرَةٍ ﴿١٦﴾

Bi aydī safarah. Kirāmim bararah.

"Di tangan para utusan (malaikat). Yang mulia lagi berbakti."

(QS. 'Abasa [80]: 15-16)

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "safarah" adalah bentuk jamak dari "safir" yang berarti utusan atau perantara, yaitu para malaikat yang menyampaikan wahyu. "Kiram" berarti mulia, dan "bararah" berarti taat dan berbakti kepada Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi para penghafal Al-Qur'an yang mengamalkannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan motivasi dan penghiburan bagi setiap muslim yang berusaha berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Pertama: Orang yang Mahir dan Hafal Al-Qur'an

Nabi ﷺ menggambarkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan lancar, hafal, dan menguasainya akan bersama "safarah" (para malaikat utusan) yang mulia dan taat. Imam Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menjelaskan bahwa mereka adalah para malaikat pencatat yang mulia di sisi Allah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ini adalah kedudukan yang sangat tinggi, karena seseorang yang hatinya dipenuhi Al-Qur'an akan dikumpulkan bersama makhluk paling mulia.

Kedua: Orang yang Membaca dengan Susah Payah

Bagian kedua hadits ini sangat menenangkan. Nabi ﷺ menyebut orang yang membaca Al-Qur'an namun merasa berat, terbata-bata, atau belum lancar, tetap mendapatkan pahala. Bahkan, baginya dua pahala. Imam An-Nawawi menjelaskan dua pahala tersebut adalah: (1) pahala membaca Al-Qur'an itu sendiri, dan (2) pahala atas kesulitan dan kesabarannya dalam berusaha. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga melihat usaha dan perjuangan hamba-Nya.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama:

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa "dua pahala" ini berlaku bagi orang yang belum mahir, namun tetap bersungguh-sungguh. Sementara Imam Al-Bukhari sendiri memasukkan hadits ini dalam Kitab Tafsir Surah 'Abasa, yang mengisyaratkan kaitan antara perintah Allah kepada Nabi untuk tidak berpaling dari orang buta (Abdullah bin Ummi Maktum) dengan keutamaan orang yang berjuang dalam kesusahan. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini berlaku umum untuk siapa saja yang berusaha membaca Al-Qur'an dengan susah payah, baik karena belum lancar, sedang belajar, atau memiliki kesulitan tertentu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta, pernah datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang sibuk berdakwah kepada para pembesar Quraisy. Abdullah meminta Nabi ﷺ mengajarinya Al-Qur'an. Karena kesibukannya, Nabi ﷺ sempat berpaling dan bermuka masam. Lalu turunlah Surah 'Abasa sebagai teguran halus dari Allah. Abdullah bin Ummi Maktum, meskipun buta dan memiliki keterbatasan, tetap bersemangat belajar Al-Qur'an. Kisah ini mengajarkan bahwa semangat dan kesungguhan dalam belajar Al-Qur'an, meskipun penuh kesulitan, adalah sesuatu yang sangat mulia di sisi Allah. (Sumber: Shahih Al-Bukhari dan Tafsir Ibnu Katsir).

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan Berputus Asa: Jika Anda merasa sulit membaca Al-Qur'an, teruslah berusaha. Allah menjanjikan dua pahala bagi Anda.
  2. Perbaiki Bacaan: Bagi yang sudah lancar, bersyukurlah dan gunakan kemampuan itu untuk membaca dan mengamalkan Al-Qur'an.
  3. Niat yang Benar: Jadikan membaca Al-Qur'an sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas. Niatkan untuk mencari ridha Allah.
  4. Bersabar dalam Belajar: Kesulitan dalam belajar Al-Qur'an adalah bagian dari ujian, dan kesabaran itu bernilai pahala.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?