Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa jarak waktu antara tiupan sangkakala pertama (kematian) dan tiupan kedua (kebangkitan) adalah "empat puluh" yang tidak dijelaskan secara pasti oleh Nabi ﷺ. Setelah masa itu, Allah menurunkan hujan yang menyebabkan jasad manusia tumbuh kembali dari tulang ekor (عَجْبُ الذَّنَبِ), lalu manusia dibangkitkan pada Hari Kiamat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
Teks hadits:
مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ
Terjemahan: "Antara dua tiupan (sangkakala) adalah empat puluh."
Dan sabda beliau ﷺ:
لَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَىْءٌ إِلاَّ يَبْلَى إِلاَّ عَظْمًا وَاحِدًا وَهْوَ عَجْبُ الذَّنَبِ، وَمِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Terjemahan: "Tidak ada bagian dari tubuh manusia yang tidak membusuk kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor (عجب الذنب), dan dari tulang itulah manusia disusun kembali pada Hari Kiamat."
Ayat terkait:
يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
QS. An-Naba' [78]: 18
Terjemahan: "Pada hari ketika sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong."
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan hari kebangkitan setelah tiupan kedua, di mana manusia keluar dari kubur dalam keadaan berkelompok sesuai amal mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama, tentang "empat puluh" yang disebutkan Nabi ﷺ. Abu Hurairah رضي الله عنه sendiri tidak memastikan apakah itu empat puluh hari, bulan, atau tahun. Ini menunjukkan bahwa beliau menyampaikan apa adanya tanpa menambah, dan tidak memaksakan penafsiran. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat: sebagian memahami sebagai empat puluh tahun (pendapat yang masyhur), sebagian mengatakan maknanya diserahkan kepada Allah karena Nabi ﷺ tidak menjelaskannya. Yang jelas, ini menunjukkan betapa panjangnya masa antara kematian dan kebangkitan.
Kedua, tentang tulang ekor (عجب الذنب). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tulang ini adalah bagian terkecil di ujung tulang ekor manusia yang tidak akan hancur seluruhnya. Dari tulang inilah Allah menyusun kembali jasad manusia. Ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali yang telah mati.
Ketiga, tentang air yang diturunkan Allah. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa air ini adalah hujan yang menyebabkan bumi dan jasad yang terkubur tumbuh kembali, seperti tumbuhnya tanaman dari biji. Ini adalah gambaran kebangkitan yang nyata dan mudah dipahami.
Keempat, hadits ini menegaskan bahwa kebangkitan adalah haq (benar). Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya dan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan hadits serupa yang menguatkan makna ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Hurairah رضي الله عنه ditanya oleh seseorang tentang jarak antara dua tiupan sangkakala. Beliau menjawab, "Empat puluh." Orang itu bertanya lagi, "Empat puluh hari?" Abu Hurairah menolak menjawab. "Empat puluh bulan?" Beliau tetap menolak. "Empat puluh tahun?" Beliau juga menolak. Beliau hanya menyampaikan apa yang didengar dari Rasulullah ﷺ tanpa menambah atau mengurangi. Sikap ini menunjukkan kehati-hatian para sahabat dalam menyampaikan hadits — mereka tidak berbicara tentang hal ghaib tanpa dalil. Kemudian beliau menyebutkan tentang tulang ekor dan bagaimana Allah menumbuhkan kembali manusia seperti tumbuhnya tanaman. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada hari kebangkitan adalah bagian dari rukun iman. Kita wajib meyakini bahwa Allah akan menghidupkan kembali manusia dari tulang ekor.
- Tidak memaksakan penafsiran pada hal-hal yang tidak dijelaskan Nabi ﷺ secara pasti, seperti jumlah "empat puluh" tersebut. Cukup kita imani dan serahkan maknanya kepada Allah.
- Merenungkan kekuasaan Allah dalam menumbuhkan kembali jasad yang telah hancur — ini menumbuhkan rasa takut dan harap kepada Allah.
- Bersiap untuk hari kebangkitan dengan amal saleh, karena setelah dibangkitkan, setiap manusia akan dihisab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.