Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang makna kata "الْقَصْرِ" (al-qashr) dalam firman Allah QS. Al-Mursalat [77]: 32. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "qashr" di sini bukanlah istana, melainkan kayu bakar besar yang mereka kumpulkan sepanjang tiga hasta atau lebih untuk persiapan musim dingin. Ini menunjukkan bahwa percikan api neraka itu sangat besar, jauh melebihi gunung atau bangunan, dan ini adalah gambaran dahsyatnya neraka yang harus kita renungkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah Ta'ala:
إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ
QS. Al-Mursalat [77]: 32
Terjemahan: "Sesungguhnya (neraka) itu melemparkan percikan api yang besarnya seperti (pohon) qashr (benteng/kayu besar)."
Hadits Shahih:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman Allah "Sesungguhnya ia melemparkan percikan api seperti qashr" (no. 4932), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Kaitan dengan Ulama:
- Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan tafsir Al-Qur'an. Penjelasannya tentang makna qashr ini menjadi rujukan utama para ulama tafsir.
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) memuat hadits ini dalam kitab tafsirnya untuk menjelaskan makna ayat tersebut.
- Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil riwayat ini dan menguatkannya sebagai penafsiran yang benar.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa percikan api neraka itu sebesar qashr (benteng/kayu besar), menunjukkan betapa dahsyatnya api neraka.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kata "الْقَصْرِ" (al-qashr) dalam ayat ini memiliki dua makna:
- Benteng/istana — Ini adalah makna yang umum dikenal.
- Kayu bakar besar — Inilah makna yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa di masa itu, orang-orang Arab biasa mengumpulkan kayu besar sepanjang tiga hasta atau lebih untuk persiapan musim dingin. Mereka menyebut kayu-kayu besar itu dengan al-qashr. Maka ketika Allah berfirman bahwa neraka melemparkan percikan api seperti qashr, maknanya adalah percikan api itu sebesar kayu bakar yang sangat besar — bahkan lebih besar dari itu.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ini menunjukkan betapa dahsyatnya api neraka. Percikan api yang keluar dari neraka saja sudah sebesar kayu besar, maka bagaimana dengan api neraka itu sendiri? Ini adalah gambaran yang sangat menakutkan bagi orang-orang yang beriman.
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini adalah peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Percikan api neraka yang besar itu akan menimpa orang-orang kafir dan pendurhaka.
Hadits ini juga menunjukkan pentingnya memahami Al-Qur'an dengan penjelasan para sahabat, karena mereka adalah orang-orang yang paling memahami bahasa Arab dan konteks turunnya Al-Qur'an. Tanpa penjelasan Ibnu Abbas, kita mungkin akan salah memahami makna qashr dalam ayat ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma adalah seorang pemuda yang sangat bersemangat dalam menuntut ilmu. Beliau pernah berkata: "Aku datang ke pintu rumah para sahabat Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ilmu. Jika mereka sedang tidur, aku berbaring di depan pintu mereka, dan angin menerbangkan debu ke wajahku. Maka mereka berkata: 'Wahai anak paman Rasulullah ﷺ, mengapa tidak engkau panggil kami saja?' Aku menjawab: 'Aku adalah penuntut ilmu, dan tidak pantas bagi penuntut ilmu untuk menyuruh ulama datang kepadanya.'"
Karena kesungguhannya inilah, Allah memberkahi Ibnu Abbas dengan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur'an, sehingga beliau dijuluki "Turjuman Al-Qur'an" (penerjemah/penafsir Al-Qur'an). Penjelasannya tentang makna qashr ini adalah salah satu bukti keutamaannya.
Hikmah: Kesungguhan dalam menuntut ilmu akan membuka pintu pemahaman yang dalam terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Renungkan kebesaran dan dahsyatnya neraka — Percikan apinya saja sebesar kayu besar, maka bagaimana dengan api neraka itu sendiri? Ini harus mendorong kita untuk takut kepada Allah dan menjauhi maksiat.
- Pelajari Al-Qur'an dengan pemahaman para sahabat — Mereka adalah generasi terbaik yang paling memahami Al-Qur'an. Jangan menafsirkan Al-Qur'an dengan akal semata tanpa merujuk kepada penjelasan mereka.
- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu — Sebagaimana Ibnu Abbas yang bersusah payah mencari ilmu, kita pun harus bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama.
- Jadikan neraka sebagai pengingat — Selalu mengingat neraka akan menjaga kita dari perbuatan dosa dan menjadikan kita lebih semangat dalam beribadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.