Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang awal mula turunnya wahyu setelah masa fatrah (terputusnya wahyu). Setelah Nabi ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira berupa Surah Al-'Alaq, beliau pulang dalam keadaan ketakutan dan meminta untuk diselimuti. Kemudian turunlah Surah Al-Muddatsir yang berisi perintah untuk berdakwah, memperingatkan manusia, dan mengagungkan Allah. Hadits ini juga menjelaskan bahwa menurut riwayat Jabir bin Abdillah, Surah Al-Muddatsir adalah surah yang pertama kali turun secara lengkap setelah masa fatrah, dan di dalamnya terdapat perintah pertama untuk memulai dakwah secara terbuka.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Muddatsir [74]: 1-3
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
"Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu."
QS. Al-'Alaq [96]: 1
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "Perkataan-Nya: 'Dan Tuhanmu, Agungkanlah'" (no. 4924), dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa setelah masa fatrah (terputusnya wahyu selama beberapa waktu), Allah menurunkan Surah Al-Muddatsir sebagai wahyu kedua yang berisi perintah dakwah. Beliau juga menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah tentang makna "وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ" yaitu "agungkanlah Dia dalam segala keadaan."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa faedah penting:
1. Urutan Turunnya Wahyu
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa terdapat perbedaan riwayat tentang surah pertama yang turun. Riwayat yang masyhur dari Aisyah radhiyallahu 'anha (dalam Shahih Al-Bukhari no. 3) menyebutkan bahwa awal wahyu adalah mimpi yang benar, kemudian datang malaikat di Gua Hira dengan Surah Al-'Alaq. Adapun hadits Jabir ini menunjukkan bahwa Surah Al-Muddatsir turun setelah masa fatrah, dan sebagian ulama menganggapnya sebagai surah pertama yang turun secara lengkap setelah masa tersebut.
Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara kedua riwayat ini. Riwayat Aisyah berbicara tentang awal mula wahyu secara mutlak (Surah Al-'Alaq), sedangkan riwayat Jabir berbicara tentang surah yang turun setelah masa fatrah dan berisi perintah dakwah secara langsung.
2. Makna "Datsiruni" (Selimuti Aku)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang sangat agung di antara langit dan bumi, beliau merasa sangat takut dan gemetar. Beliau pulang kepada Khadijah dan meminta untuk diselimuti. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang memiliki perasaan takut, namun Allah menjaganya.
3. Perintah Dakwah dan Mengagungkan Allah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa firman Allah "قُمْ فَأَنْذِرْ" (bangunlah, lalu berilah peringatan) adalah perintah untuk memulai dakwah dengan memperingatkan manusia dari kesyirikan dan kemaksiatan. Adapun "وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ" (dan agungkanlah Tuhanmu) berarti khususkanlah pengagungan hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa perintah "وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ" mengandung makna mengagungkan Allah dalam hati, lisan, dan perbuatan. Ini adalah fondasi dakwah: sebelum mengajak orang lain, seorang da'i harus terlebih dahulu mengagungkan Allah dan membersihkan hatinya dari kesyirikan.
4. Hikmah Masa Fatrah
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zaad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa masa fatrah (terputusnya wahyu) adalah masa untuk menenangkan hati Nabi ﷺ setelah pengalaman berat pertama kali menerima wahyu. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah Nabi ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau pulang kepada Khadijah dalam keadaan gemetar dan berkata: "Selimutilah aku, selimutilah aku!" Maka Khadijah menyelimutinya hingga rasa takutnya hilang. Kemudian Khadijah berkata dengan penuh keyakinan: "Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, engkau menyambung silaturahmi, jujur dalam perkataan, menanggung beban orang lain, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa kebenaran."
Kemudian Khadijah membawa Nabi ﷺ kepada Waraqah bin Naufal, sepupunya yang beragama Nasrani dan menguasai kitab-kitab suci. Waraqah berkata: "Ini adalah An-Namus (Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Duhai, sekiranya aku masih muda dan hidup pada masa kenabianmu, sekiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu!" Nabi ﷺ bertanya: "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab: "Ya, tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti yang engkau bawa kecuali akan dimusuhi. Jika aku masih hidup pada hari itu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat." (HR. Al-Bukhari no. 3)
Hikmah dari kisah ini: Pertama, pentingnya pendamping yang setia dan memahami perjuangan. Kedua, ujian dan tantangan adalah sunnatullah bagi setiap pembawa kebenaran. Ketiga, keyakinan akan pertolongan Allah meskipun jalan dakwah penuh rintangan.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa wahyu dan hidayah datang dari Allah — Nabi ﷺ pun merasakan ketakutan saat menerima wahyu, namun Allah menenangkan hatinya. Kita pun harus bersabar dalam menuntut ilmu dan beramal.
- Dakwah dimulai dari diri sendiri — Sebelum mengajak orang lain, kita harus terlebih dahulu mengagungkan Allah dalam hati dan membersihkan diri dari kesyirikan.
- Perintah "bangunlah dan berilah peringatan" — Setiap muslim memiliki kewajiban untuk saling menasihati dalam kebaikan sesuai kemampuan dan ilmunya, dengan cara yang bijaksana.
- Mengagungkan Allah dalam segala keadaan — "وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ" mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan Allah, baik dalam ibadah, ucapan, maupun perbuatan sehari-hari.
- Bersabar menghadapi ujian dakwah — Sebagaimana Nabi ﷺ dan para sahabat menghadapi tantangan, kita pun harus sabar dan yakin akan pertolongan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.