Penjelasan Hadits Bukhari No. 4923 tentang Awal wahyu dan bersemedi di gua Hira

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 4923) dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, berisi sabda Nabi ﷺ: "جَاوَرْتُ بِحِرَاءٍ" — "Aku berdiam/menyendiri (berkhalwat) di gua Hira." Hadits ini menjadi dalil bahwa Nabi ﷺ sebelum diangkat menjadi rasul melakukan tahannuts (berkhalwat/beribadah menyendiri) di gua Hira, sebagaimana dijelaskan dalam hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha di awal Shahih Al-Bukhari. Imam Al-Bukhari menyebutkan hadits ini secara ringkas dan mengisyaratkan kesamaan maknanya dengan riwayat sebelumnya (no. 444).

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

Allah ﷻ berfirman:

وَٱلضُّحَىٰ ۞ وَٱللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ۞ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

(QS. Adh-Dhuha [93]: 1-3)

Terjemahan: "Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu."

Hadits terkait:

Hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari (no. 3) dan Imam Muslim, di mana beliau berkata:

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ

"Permulaan wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar dalam tidur..."

Dan dalam lanjutan hadits tersebut disebutkan bahwa Nabi ﷺ kemudian menyenangi khalwat (menyendiri), dan beliau berkhalwat di gua Hira selama beberapa malam.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melakukan tahannuts di gua Hira sebelum kenabian, dan ini merupakan persiapan Allah bagi beliau sebelum menerima wahyu.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa khalwat Nabi ﷺ di Hira adalah bentuk ibadah yang beliau pilih untuk menjauhkan diri dari kesyirikan dan keburukan masyarakat Jahiliyah.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Nabi ﷺ beribadah di gua Hira dengan merenungi keagungan Allah dan menjauhi berhala-berhala Quraisy.

Penjelasan Rinci

Makna "جَاوَرْتُ بِحِرَاءٍ":

Kata "جَاوَرْتُ" (jaawartu) berasal dari kata "جَاوَرَ" yang berarti "berdiam di dekat sesuatu" atau "berkhalwat/menyendiri." Dalam konteks ini, maknanya adalah Nabi ﷺ berdiam diri di gua Hira untuk beribadah dan merenung. Gua Hira terletak di Jabal Nur, dekat kota Makkah.

Pemahaman ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Al-Bukhari sengaja menyebutkan hadits ini secara ringkas karena maknanya sudah dijelaskan panjang lebar dalam hadits 'Aisyah di awal kitab. Beliau juga menyebutkan bahwa tahannuts Nabi ﷺ di Hira adalah bentuk ibadah yang sesuai dengan fitrah dan merupakan persiapan ilahi sebelum wahyu turun.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa khalwat dan menyendiri untuk beribadah adalah sunnah para nabi sebelumnya, dan Nabi ﷺ mengikuti jejak Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang juga berkhalwat untuk merenungi kebenaran.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hikmah khalwat Nabi ﷺ di Hira adalah:

  1. Menjauhkan diri dari kekufuran dan kesyirikan masyarakat Jahiliyah
  2. Melatih jiwa untuk berkonsentrasi dalam ibadah dan munajat kepada Allah
  3. Persiapan ruhani sebelum menerima beban kenabian yang berat

Imam An-Nawawi menambahkan bahwa tahannuts yang dilakukan Nabi ﷺ adalah bentuk ibadah yang beliau pilih berdasarkan petunjuk Allah, bukan sekadar inisiatif pribadi, karena Allah menjaga beliau dari kesyirikan sejak sebelum kenabian.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apa yang dilakukan Nabi ﷺ di Hira. Ibnu Hajar menyebutkan beberapa pendapat:

  • Pendapat pertama: Beliau beribadah dengan tata cara yang Allah ilhamkan kepada beliau
  • Pendapat kedua: Beliau mengikuti syariat Nabi Ibrahim 'alaihissalam
  • Pendapat ketiga: Beliau melakukan tahannuts dengan cara yang tidak diketahui secara rinci

Pendapat yang paling kuat menurut Ibnu Hajar adalah bahwa Nabi ﷺ beribadah sesuai dengan petunjuk Allah yang tidak disebutkan secara rinci dalam hadits, dan ini merupakan persiapan khusus dari Allah untuk beliau.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ sebelum diangkat menjadi rasul sering menyendiri di gua Hira. Beliau membawa bekal dan tinggal di sana selama beberapa malam, kemudian kembali kepada Khadijah radhiyallahu 'anha untuk mengambil bekal lagi.

Suatu hari, ketika beliau berada di gua Hira pada usia empat puluh tahun, datanglah Malaikat Jibril 'alaihissalam dan berkata: "Bacalah!" Nabi ﷺ menjawab: "Aku tidak bisa membaca." Jibril kemudian memeluk beliau dengan kuat dan mengulangi perintah itu hingga tiga kali, lalu membacakan:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۞ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۞ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

(QS. Al-'Alaq [96]: 1-3)

Nabi ﷺ pulang dengan tubuh gemetar dan hati yang berdebar, menemui Khadijah dan berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!" Khadijah menyelimuti beliau hingga rasa takut hilang, lalu beliau menceritakan apa yang terjadi. Khadijah berkata: "Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada yang tidak punya, menjamu tamu, dan menolong dalam kebenaran."

Hikmah: Khalwat dan ibadah yang ikhlas di gua Hira menjadi pintu turunnya wahyu. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah melalui ibadah yang tulus adalah jalan menuju kemuliaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Khalwat untuk ibadah — Menyendiri sesekali untuk beribadah, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah adalah amalan yang baik, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  2. Menjauhi lingkungan yang buruk — Nabi ﷺ menjauhkan diri dari masyarakat Jahiliyah yang penuh kesyirikan. Kita pun hendaknya menjaga diri dari lingkungan yang dapat merusak iman.
  3. Persiapan ruhani — Sebelum menerima amanah besar, hendaknya kita mempersiapkan diri dengan ibadah dan kedekatan kepada Allah.
  4. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ — Kisah tahannuts ini mengajarkan kita untuk mencintai sunnah Nabi ﷺ dan memahami perjalanan beliau dalam menerima wahyu.
  5. Tawakkal dan husnuzhan kepada Allah — Sebagaimana Khadijah menenangkan Nabi ﷺ, kita hendaknya saling menguatkan dalam kebaikan dan selalu berhusnuzhan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?