Penjelasan Hadits Bukhari No. 4917 tentang ayat tentang sifat tercela orang Quraisy

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan makna ayat QS. Al-Qalam [68]: 13, yaitu kata "عُتُلٍّ" (orang yang kasar/kejam) dan "زَنِيمٍ" (yang dinisbatkan pada tanda pengenal). Ibnu Abbas رضي الله عنهما menafsirkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan seorang tokoh Quraisy yang memiliki tanda kecil menonjol di lehernya (zanamah) seperti tanda yang digantungkan pada leher domba. Jadi "zanīm" di sini dipahami sebagai orang yang dikenal lewat tanda pengenalnya, bukan sekadar "anak haram" sebagaimana terjemahan harfiah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Qalam [68]: 13:

عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ

Terjemahan ringkas: "(Yang) kasar lagi kejam, dan setelah itu (dia) dikenal sebagai zanīm (bertanda pengenal)."

Ayat ini berada dalam rangkaian QS. Al-Qalam [68]: 10–13 yang mencela sifat-sifat tercela: banyak bersumpah, suka mencela, mengadu-domba, menghalangi kebaikan, melampaui batas, banyak dosa, kasar, dan zanīm.

Hadits — Shahih Al-Bukhari no. 4917, Kitab Tafsir, Bab firman-Nya "عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ":

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, beliau berkata tentang ayat "عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ": "(Ayat ini turun berkenaan dengan) seorang lelaki dari Quraisy yang memiliki zanamah (tanda kecil menonjol) seperti zanamah (tanda pengenal) pada domba."

Sanad hadits: Mahmud → Ubaidullah → Israil → Abu Hashin → Mujahid → Ibnu Abbas. Perhatikan bahwa Mujahid bin Jabr (seorang tabi'in dalam daftar rujukan) adalah perawi langsung dari Ibnu Abbas, dan beliau dikenal sebagai murid utama Ibnu Abbas dalam tafsir.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Abbas (sahabat, mufassir utama) — penafsir langsung dalam hadits ini.
  • Mujahid bin Jabr — perawi tafsir dari Ibnu Abbas.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebut riwayat-riwayat serupa dari Ibnu Abbas dan Mujahid tentang makna zanīm.
  • Imam Al-Bukhari — meriwayatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir.

Penjelasan Rinci

Makna kata kunci:

  1. "عُتُلٍّ" (ʿutull) — menurut para mufassir dari kalangan salaf seperti Mujahid dan Qatadah, maknanya adalah orang yang kasar, keras hati, dan buruk akhlaknya dalam pergaulan. Ibnu Katsir merangkum penafsiran ini sebagai sifat orang yang kasar lagi congkak.
  2. "زَنِيمٍ" (zanīm) — kata ini memiliki beberapa penafsiran di kalangan salaf:
  • Ibnu Abbas dalam hadits ini memahaminya sebagai orang yang memiliki zanamah, yaitu tanda kecil menonjol di tubuh (seperti daging tambahan di leher), mirip tanda pengenal yang digantungkan pada leher domba. Jadi zanīm = orang yang "dikenali lewat tandanya".
  • Sebagian salaf memahaminya sebagai "anak yang dinisbatkan kepada selain ayahnya" (yakni kelahiran yang tidak jelas nasabnya). Ibnu Katsir menyebutkan kedua makna ini dan menukil riwayat dari Ibnu Abbas dan Mujahid.
  • As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa zanīm mencakup makna orang yang tercela, tidak memiliki nasab mulia, dan dikenal keburukannya.

Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya:

  • Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan sebagian tokoh Quraisy yang memiliki sifat-sifat tercela yang disebutkan, dan bahwa penyebutan "zanīm" adalah celaan terhadap sifat dan tanda yang melekat pada dirinya.
  • Imam An-Nawawi dalam syarahnya atas Shahih Muslim (dan prinsip serupa berlaku untuk hadits Bukhari) menegaskan pentingnya memahami hadits tafsir dengan menggabungkan riwayat-riwayat yang ada, karena satu riwayat bisa menjelaskan riwayat lain.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) membahas hadits ini dan menyebutkan bahwa penafsiran Ibnu Abbas menunjukkan makna "zanīm" sebagai orang yang memiliki tanda pengenal, dan bahwa ayat ini turun pada tokoh tertentu dari Quraisy. Beliau juga menukil bahwa sebagian ulama memahami zanīm sebagai "orang yang tidak dikenal nasabnya" atau "yang dinisbatkan pada selain ayahnya".

Catatan tentang terjemahan: Terjemahan yang menyebut "anak haram" adalah salah satu pemahaman yang beredar, tetapi hadits Bukhari ini justru menampilkan penafsiran Ibnu Abbas yang lebih spesifik: yaitu orang yang memiliki tanda pengenal (zanamah). Karena itu, memahami hadits ini penting agar tidak menyempitkan makna ayat hanya pada satu tafsir.

Perbedaan pendapat: Para salaf berbeda dalam memaknai zanīm — ada yang memahaminya sebagai tanda fisik (zanamah), ada yang memahaminya sebagai nasab yang tidak jelas. Yang paling kuat adalah menggabungkan keduanya: ayat ini mencela orang yang dikenal keburukannya, baik lewat tanda fisiknya maupun lewat nasabnya yang tidak terhormat, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dan As-Sa'di.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Mujahid bin Jabr — murid setia Ibnu Abbas — datang kepada gurunya dan bertanya tentang makna ayat-ayat yang sulit. Ibnu Abbas رضي الله عنهما dikenal sebagai "Turjumanul Qur'an" (juru tafsir Al-Qur'an) karena doa Nabi ﷺ untuknya: "Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah dia tafsir." Dalam hadits ini, ketika ditanya tentang "عُتُلٍّ بَعْدَ ذَٰلِكَ زَنِيمٍ", Ibnu Abbas tidak menafsirkannya dengan hawa nafsu, melainkan menjelaskan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan seorang tokoh Quraisy yang memiliki tanda kecil di lehernya seperti tanda pengenal domba. Hikmahnya: para salaf memahami Al-Qur'an dengan ilmu dan riwayat, bukan dengan tebakan. Kita diajarkan untuk merujuk kepada ahli tafsir dan tidak memaksakan makna sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Pahami ayat dengan tafsir salaf — jangan hanya berpegang pada terjemahan harfiah; rujuklah penjelasan Ibnu Abbas, Mujahid, Ibnu Katsir, dan As-Sa'di.
  2. Hindari sifat tercela yang dicela ayat ini — kasar, keras hati, banyak dosa, dan mengadu-domba adalah akhlak yang harus dijauhi.
  3. Jaga lisan dan akhlak — ayat ini mencelah orang yang buruk perangainya; kita dianjurkan berakhlak mulia sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  4. Belajar tafsir dari ahlinya — sebagaimana Mujahid belajar dari Ibnu Abbas, kita pun belajar dari ulama yang terpercaya.
  5. Tidak menghakimi orang lain — ayat ini turun pada tokoh tertentu; kita tidak boleh menggunakannya untuk mencela orang sembarangan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?