Penjelasan Hadits Bukhari No. 49 tentang Mencari Lailatul Qadar di malam ganjil sepuluh terakhir Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa malam Lailatul Qadr adalah malam yang sangat agung dan mulia. Namun, karena adanya perselisihan di antara dua orang sahabat saat Nabi ﷺ hendak mengumumkan tanggal pastinya, ilmu tentang tanggal tersebut diangkat oleh Allah. Ini menjadi pelajaran bahwa perselisihan dan perdebatan yang tidak bermanfaat bisa menghalangi turunnya kebaikan. Nabi ﷺ kemudian memerintahkan kita untuk mencarinya di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Khauf Al-Mu'min min an Yahbatha 'Amaluhu wa Huwa La Yash'ur" (Bab Ketakutan Orang Beriman Terhadap Amalannya yang Dihapus Tanpa Ia Sadari), no. 49. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Kaitan dengan Ulama yang Dirujuk:

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk hikmah diangkatnya pengetahuan tentang tanggal pasti Lailatul Qadr. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa diangkatnya pengetahuan ini adalah untuk menjaga umat agar lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah di seluruh malam-malam terakhir Ramadhan, bukan hanya fokus pada satu malam saja.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Keutamaan Malam Lailatul Qadr: Malam ini adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Qadr [97]: 3:

> لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

>

> "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

  1. Hikmah Diangkatnya Pengetahuan tentang Tanggal Pastinya: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa di antara hikmah Allah mengangkat (melupakan) pengetahuan Nabi ﷺ tentang tanggal pastinya adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh mencari dan beribadah di semua malam sepuluh terakhir Ramadhan. Jika tanggalnya diketahui secara pasti, dikhawatirkan umat hanya akan beribadah pada malam itu saja dan meninggalkan malam-malam lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga menjelaskan bahwa ini adalah rahmat dari Allah agar ibadah umat Islam semakin banyak dan pahala mereka semakin besar.
  2. Peringatan tentang Bahaya Perselisihan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa perselisihan dan perdebatan yang tidak bermanfaat bisa menjadi sebab hilangnya kebaikan. Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga persatuan dan menghindari perdebatan yang sia-sia, terutama dalam masalah-masalah yang tidak esensial.
  3. Makna "Fulan dan Fulan": Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dari jalur 'Ubadah bin Ash-Shamit yang tidak menyebutkan nama kedua orang yang bertengkar itu. Namun, dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar, kedua orang itu adalah sahabat yang sedang berselisih pendapat tentang suatu masalah. Ini menunjukkan adab para sahabat yang tidak ingin mempermalukan orang lain dengan menyebutkan nama mereka secara terang-terangan dalam periwayatan hadits.
  4. Malam Ganjil di Sepuluh Malam Terakhir: Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari Lailatul Qadr pada malam ke-7, ke-9, dan ke-5 (dari sepuluh malam terakhir). Ini berarti malam ke-21, 23, dan 25 jika dihitung dari awal bulan. Namun, para ulama sepakat bahwa malam yang paling diharapkan adalah malam ke-27, berdasarkan hadits-hadits lain yang shahih. Imam Asy-Syafi'i dalam kitabnya Al-Umm menyebutkan bahwa beliau melihat pendapat yang paling kuat adalah malam ke-21 atau ke-23, namun beliau tetap menganjurkan untuk bersungguh-sungguh di semua malam ganjil.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam Bai'at 'Aqabah kedua dan termasuk ahlul Badr. Beliau adalah seorang yang teguh dalam memegang janji dan sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Suatu saat, beliau meriwayatkan hadits ini kepada Anas bin Malik. Anas berkata, "Aku ingin sekali beribadah pada malam-malam itu (sepuluh terakhir Ramadhan) karena mendengar hadits ini dari 'Ubadah."

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat antusias untuk beribadah dan mencari Lailatul Qadr. Mereka tidak malas atau menganggap remeh, justru mereka semakin giat beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan karena tidak mengetahui tanggal pastinya. Semangat mereka inilah yang menjadi teladan bagi kita.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguh di Sepuluh Malam Terakhir: Kita dianjurkan untuk menghidupkan semua malam di sepuluh terakhir Ramadhan dengan shalat, dzikir, dan doa, terutama pada malam-malam ganjilnya.
  2. Jauhi Perselisihan: Hindari perdebatan yang tidak bermanfaat, terutama di bulan Ramadhan, karena bisa menghalangi turunnya rahmat dan kebaikan.
  3. Perbanyak Doa: Perbanyaklah doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, yaitu:

> اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

>

> "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku." (HR. At-Tirmidzi, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

  1. Jaga Adab dan Akhlak: Jadikan bulan Ramadhan sebagai sarana untuk memperbaiki akhlak dan menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?