Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa turunnya QS. Al-Jumu'ah [62]: 11, ketika para sahabat meninggalkan khutbah Jumat karena datangnya kafilah dagang dan hiburan. Hanya dua belas orang yang tetap bersama Nabi ﷺ. Ayat ini mengingatkan agar seorang mukmin tidak meninggalkan kewajiban ibadah karena urusan dunia, dan mendahulukan Allah serta Rasul-Nya di atas segalanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
(QS. Al-Jumu'ah [62]: 11)
Artinya: "Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka bubar menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: 'Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,' dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki."
Hadits terkait:
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 4899) dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma ini merupakan asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut. Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir juga bahwa yang datang adalah kafilah dari Syam yang membawa makanan, dan orang-orang berlarian mendengarnya sehingga hanya tersisa dua belas orang bersama Nabi ﷺ.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun mencela sikap mereka yang lebih mementingkan dunia daripada mendengarkan khutbah Jumat.
- Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir untuk menunjukkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan peristiwa ini.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "dua belas orang" adalah mereka yang tetap bersama Nabi ﷺ, dan ini menunjukkan keutamaan mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan peristiwa yang terjadi pada masa Nabi ﷺ ketika beliau sedang berkhutbah pada hari Jumat. Tiba-tiba datanglah kafilah dagang yang membawa makanan dan barang-barang, disertai suara rebana atau alat musik sebagai hiburan. Karena sebagian besar sahabat saat itu hidup dalam kesulitan ekonomi, mereka sangat tertarik dengan datangnya kafilah tersebut. Maka mereka pun berhamburan meninggalkan masjid, bahkan ada yang berlari, sehingga hanya tersisa dua belas orang laki-laki yang tetap bersama Nabi ﷺ.
Pemahaman ulama:
- Al-Hasan Al-Bashri (w. 110 H) mengatakan bahwa ayat ini turun sebagai teguran keras bagi mereka yang meninggalkan kewajiban karena urusan dunia. Beliau berkata, "Seandainya mereka tetap duduk, niscaya itu lebih baik bagi mereka."
- Qatadah bin Di'amah (w. 117 H) menafsirkan bahwa "permainan" (lahwun) dalam ayat ini adalah suara rebana atau alat musik yang mengiringi kafilah. Ini menunjukkan bahwa hiburan yang melalaikan dari ibadah adalah tercela.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya fitnah dunia, sehingga para sahabat yang mulia pun bisa tergoda meninggalkan khutbah. Namun, dua belas orang yang tetap bersama Nabi ﷺ adalah mereka yang memiliki keimanan yang kokoh.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menekankan bahwa ayat ini mengajarkan prioritas: urusan akhirat harus didahulukan atas urusan dunia. Beliau berkata, "Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan bahwa apa yang ada di sisi Allah berupa pahala dan surga lebih baik daripada permainan dan perdagangan yang fana."
Hikmah dari peristiwa ini:
- Khutbah Jumat adalah kewajiban yang harus dihadiri dengan khusyuk. Meninggalkannya karena urusan dunia adalah dosa besar.
- Sikap para sahabat yang meninggalkan khutbah menunjukkan bahwa manusia memang lemah dan mudah tergoda. Namun, Allah segera menurunkan ayat untuk mengingatkan dan memperbaiki.
- Dua belas orang yang tetap bersama Nabi ﷺ mendapatkan keutamaan besar karena kesabaran dan keteguhan mereka.
Story Telling
Diriwayatkan dari Salim bin Abi Al-Ja'd dan Abu Sufyan (keduanya tabi'in), dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, bahwa ketika kafilah itu tiba, orang-orang berlarian keluar masjid. Nabi ﷺ tetap berdiri di mimbar, dan hanya dua belas orang yang tersisa. Di antara mereka disebutkan nama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan beberapa sahabat lainnya. Setelah khutbah selesai, Nabi ﷺ bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kalian semua pergi, niscaya lembah ini akan dipenuhi dengan api." (HR. Ahmad, dengan sanad hasan).
Kisah ini mengajarkan bahwa keteguhan iman harus diuji dengan godaan dunia. Sahabat yang tetap tinggal adalah teladan bagi kita untuk tidak mudah tergoda oleh gemerlap dunia saat beribadah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan tinggalkan shalat Jumat karena urusan dunia, betapapun mendesaknya. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi kita.
- Dahulukan kewajiban agama atas kesenangan duniawi. Hiburan dan perdagangan adalah halal, tetapi jangan sampai melalaikan ibadah.
- Teladani dua belas sahabat yang tetap bersama Nabi ﷺ. Mereka adalah contoh kesabaran dan keimanan yang kokoh.
- Renungkan ayat ini setiap kali kita merasa berat untuk beribadah karena urusan dunia. Ingatlah bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik dan kekal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.