Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4860 tentang Larangan sumpah dengan berhala dan perintah bersedekah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, jika seseorang tanpa sengaja bersumpah dengan nama berhala (seperti Lata dan 'Uzza) karena kebiasaan masa jahiliyah, maka ia harus segera mengucapkan kalimat tauhid "Lā ilāha illallāh" sebagai bentuk pembersihan lisan dan pengagungan kepada Allah. Kedua, jika seseorang mengajak temannya untuk berjudi, maka ia harus bersedekah sebagai tebusan atas dosa ajakan tersebut. Ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga lisan dan menjauhkan umatnya dari segala bentuk kesyirikan dan perbuatan haram.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman tentang berhala Lata dan 'Uzza:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

"Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah." (QS. Yusuf [12]: 106)

Ayat ini menunjukkan realitas kesyirikan yang masih melekat pada sebagian orang, termasuk kebiasaan menyebut nama berhala dalam sumpah.

Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "أَفَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى" (nomor 4860), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memuat hadits ini dalam kitab tafsirnya sebagai penjelasan firman Allah tentang berhala Lata dan 'Uzza (QS. An-Najm [53]: 19-20).
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits ini secara rinci, bahwa perintah mengucapkan "Lā ilāha illallāh" adalah sebagai ganti dari ucapan syirik yang keluar dari lisan, dan ini adalah bentuk pensucian lisan dari kekufuran.
  • Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas hadits semakna dan menjelaskan hikmahnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki dua bagian penting:

Pertama: Larangan Bersumpah dengan Nama Selain Allah

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa bersumpah dan menyebut Lata dan 'Uzza (secara tidak sengaja), hendaklah ia berkata: Lā ilāha illallāh."

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini turun dalam konteks masyarakat yang baru masuk Islam. Mereka masih terbiasa dengan kebiasaan jahiliyah, termasuk bersumpah dengan nama berhala. Maka Nabi ﷺ mengajarkan mereka untuk mengganti ucapan tersebut dengan kalimat tauhid.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat 1421 H) menjelaskan bahwa bersumpah dengan selain nama Allah adalah syirik kecil jika dilakukan dengan sengaja. Namun jika terjadi karena kebiasaan lama dan tanpa sengaja, maka hendaknya segera bertaubat dan mengucapkan kalimat tauhid sebagai pembersih.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa mengganti ucapan buruk dengan ucapan baik adalah salah satu cara taubat dan pembersihan jiwa. Ini sejalan dengan firman Allah:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik." (QS. Al-Isra' [17]: 53)

Kedua: Larangan Mengajak Berjudi

Rasulullah ﷺ bersabda: "Dan barangsiapa yang berkata kepada temannya, 'Ayo kita berjudi' harus bersedekah (sebagai tebusan)."

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perintah bersedekah di sini adalah sebagai kaffarah (tebusan) atas dosa mengucapkan ajakan kepada perbuatan haram, meskipun ajakan tersebut tidak sampai dilakukan. Ini menunjukkan bahwa Islam menutup semua pintu yang mengarah kepada perbuatan haram.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (wafat 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa judi adalah perbuatan yang diharamkan Allah karena mengandung banyak mudharat. Maka mengajak orang lain berjudi adalah dosa, dan tebusannya adalah bersedekah.

Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab tafsir surat An-Najm, karena ayat:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ

"Maka apakah patut kamu (menganggap) Al-Lata dan Al-'Uzza (sebagai anak perempuan Allah)?" (QS. An-Najm [53]: 19)

Ini menunjukkan bahwa menyebut nama berhala dalam sumpah adalah sisa-sisa kebiasaan syirik yang harus dihilangkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Az-Zuhri (wafat 124 H), salah satu perawi hadits ini, sangat memperhatikan adab lisan. Beliau berkata: "Tidaklah seseorang menjaga lisannya kecuali Allah akan menjaga hatinya."

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang sangat hati-hati dalam berbicara. Suatu ketika beliau ditanya tentang sesuatu, beliau menjawab: "Aku tidak mengetahui hal itu. Sungguh, jika aku menjawab tanpa ilmu, maka aku telah berdosa." Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah bagian penting dari keimanan.

Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) pernah ditanya tentang seseorang yang terbiasa bersumpah dengan selain nama Allah karena kebiasaan lamanya. Beliau menjawab: "Hendaknya ia memperbanyak mengucapkan Lā ilāha illallāh dan beristighfar, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Hikmah dari kisah-kisah ini: menjaga lisan adalah kunci keselamatan, dan setiap kebiasaan buruk harus segera diganti dengan kebiasaan baik.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah bersumpah dengan selain nama Allah. Jika terlanjur karena kebiasaan atau lupa, segera ucapkan "Lā ilāha illallāh" dan beristighfar.
  2. Jangan pernah mengajak orang lain kepada perbuatan haram, termasuk judi. Jika terlanjur, maka bersedekahlah sebagai tebusan.
  3. Gantilah setiap ucapan buruk dengan ucapan yang baik, karena lisan adalah cerminan hati.
  4. Jauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, termasuk kebiasaan-kebiasaan warisan jahiliyah.
  5. Perbanyak dzikir dan kalimat tauhid, karena itu adalah sebaik-baik ucapan dan pembersih hati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.