Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah atsar (perkataan atau perbuatan sahabat) dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari secara mu'allaq (dinukil tanpa menyebut sanad lengkap). Isinya menceritakan kebiasaan Ibnu Umar yang sangat berhati-hati dalam mengikuti jejak Nabi ﷺ, hingga dalam hal tempat shalat di perjalanan. Beliau sengaja shalat di tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ shalat, dan meninggalkan masjid yang dibangun kemudian di dekatnya, karena ingin persis meneladani Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa dalamnya kecintaan dan ketelitian para sahabat dalam meniru sunnah, meskipun dalam hal yang tampak kecil.
Rujukan Ulama & Dalil
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (dinukil tanpa sanad lengkap) pada Kitab Shalat, Bab Masjid yang Terletak di Jalan-jalan Kota Madinah dan Tempat-tempat yang Disalatkan oleh Nabi (no. 486). Teks Arab yang Anda cantumkan adalah bagian dari atsar panjang tentang tempat-tempat shalat Nabi ﷺ di perjalanan menuju Makkah.
Kaitan dengan ulama dalam daftar rujukan:
- Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) meriwayatkan atsar ini dalam Shahih-nya sebagai penguat bab tentang masjid-masjid yang pernah digunakan Nabi ﷺ shalat.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa atsar ini menunjukkan perhatian besar Ibnu Umar terhadap jejak Nabi ﷺ, dan beliau menjelaskan posisi tempat-tempat yang disebutkan.
- Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim juga membahas sikap para sahabat yang sangat antusias menelusuri tempat-tempat ibadah Nabi ﷺ, meskipun beliau juga mengingatkan agar tidak berlebihan dalam mengagungkan tempat-tempat tersebut.
Penjelasan Rinci
Atsar ini menggambarkan perilaku Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang terkenal sangat bersungguh-sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau termasuk sahabat yang paling teliti dalam meniru perilaku Rasulullah ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang dianggap remeh oleh kebanyakan orang.
Dalam atsar ini, Ibnu Umar disebutkan shalat menghadap ke arah al-'irq (tanah tinggi atau gundukan) yang terletak di dekat munsharaf ar-Rauha' (tempat kembali dari Rauha'). Rauha' adalah sebuah lembah yang terletak sekitar 80 km dari Madinah di jalur menuju Makkah.
Yang menarik, di tempat itu kemudian dibangun sebuah masjid. Namun Ibnu Umar tidak shalat di masjid tersebut. Beliau sengaja meninggalkan masjid itu di sisi kiri dan belakangnya, lalu shalat di depannya menghadap ke gundukan tanah (al-'irq) tersebut. Ini karena beliau mengetahui bahwa Nabi ﷺ pernah shalat di tempat itu, dan beliau ingin meniru persis apa yang dilakukan Nabi ﷺ.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sikap Ibnu Umar ini menunjukkan pemahaman bahwa mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam ibadah adalah perkara yang sangat dicintai oleh para sahabat. Namun beliau juga menegaskan bahwa hal ini tidak berarti masjid yang dibangun kemudian itu tidak baik, hanya saja Ibnu Umar lebih memilih tempat asli yang pernah digunakan Nabi ﷺ.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa sikap seperti ini menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada Nabi ﷺ, namun beliau juga mengingatkan bahwa tidak boleh meyakini adanya keutamaan khusus pada suatu tempat kecuali ada dalil yang shahih. Jika ada dalil, maka mengikutinya adalah sunnah; jika tidak ada, maka itu hanyalah kebiasaan yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Penting untuk dipahami bahwa atsar ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu'allaq (terputus sanadnya). Namun para ulama menerimanya karena Al-Bukhari hanya menggunakan mu'allaq untuk hal-hal yang sudah pasti shahih menurutnya, terutama jika disebutkan dengan bentuk jazm (pasti) seperti dalam riwayat ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat yang paling bersemangat dalam mengikuti jejak Nabi ﷺ. Imam Malik (wafat 179 H) dalam Al-Muwaththa' meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah berkata:
> "Rasulullah ﷺ biasa shalat di tempat-tempat tertentu dalam perjalanannya, maka aku pun ikut shalat di tempat-tempat tersebut."
Bahkan disebutkan bahwa Ibnu Umar sangat teliti hingga beliau berhenti di tempat-tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ untuk beristirahat, lalu beliau shalat dan berdoa di sana. Ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ bukan sekadar ucapan, tetapi dibuktikan dengan perbuatan nyata dalam keseharian.
Namun perlu digarisbawahi: sikap Ibnu Umar ini adalah bentuk kecintaan pribadi beliau kepada Nabi ﷺ, bukan berarti kita wajib melakukan hal yang sama. Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada keutamaan khusus untuk shalat di tempat-tempat tertentu kecuali Masjid Nabawi, Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha. Adapun tempat-tempat lain, tidak disyariatkan untuk sengaja didatangi dan diyakini memiliki keutamaan.
Kesimpulan Praktis
- Teladani semangat Ibnu Umar dalam mencintai dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, meskipun dalam hal-hal yang kecil.
- Jangan berlebihan dalam mengagungkan tempat-tempat tertentu yang tidak ada dalil shahih tentang keutamaannya. Cukup ikuti dalil yang shahih.
- Pahami bahwa ibadah itu berdasarkan dalil, bukan sekadar meniru kebiasaan tanpa ilmu. Jika ada dalil, kita ikuti; jika tidak ada, kita tinggalkan dengan baik.
- Jadikan kecintaan kepada Nabi ﷺ sebagai pendorong untuk memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak kita sehari-hari.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.