Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4859 tentang Larangan menyembah berhala Lat dan Uzza

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan asal-usul berhala Al-Lat yang disembah orang-orang musyrik Quraisy. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Al-Lat pada awalnya adalah seorang pria shalih yang biasa membuat dan membagikan sawiq (makanan dari gandum/jelai yang disangrai lalu dicampur susu/minyak) kepada para jamaah haji. Setelah pria itu wafat, orang-orang berlebihan dalam mengagungkan kuburnya hingga akhirnya mereka menyembahnya sebagai berhala. Ini menunjukkan bagaimana perbuatan syirik bisa berawal dari sikap ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan orang shalih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan Imam Al-Bukhari memuatnya dalam Shahih-nya pada Kitab Tafsir, Bab firman Allah tentang Al-Lat dan Al-Uzza. Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim saat menafsirkan QS. An-Najm [53]: 19-20.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ

"Maka apakah patut kamu (musyrikin) menganggap Al-Lat dan Al-Uzza sebagai tuhan?" (QS. An-Najm [53]: 19)

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil riwayat ini dan menjelaskan bahwa Al-Lat berasal dari nama "Al-Lat" yang diambil dari kata yaluttu (melumat/mencampur), karena pria tersebut biasa melumatkan sawiq untuk para peziarah. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama membaca "Al-Lat" dengan tasydid pada huruf ta (اللاتّ) karena dianggap sebagai shighah mubalaghah (bentuk yang menunjukkan kebiasaan) dari kata latta-yaluttu.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa penyembahan berhala-berhala ini adalah kebatilan yang nyata, karena mereka menyembah makhluk yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kisah ini adalah pelajaran penting tentang asal-usul kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa kesyirikan pada umat-umat terdahulu umumnya berawal dari pengagungan berlebihan terhadap kuburan orang-orang shalih. Beliau menyebutkan bahwa syaitan memanfaatkan rasa cinta dan hormat manusia kepada orang shalih, lalu membisikkan untuk membuat patung atau berhala sebagai pengingat, hingga akhirnya generasi berikutnya menyembah patung-patung tersebut.

Imam Al-Qurthubi (wafat 671 H) dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an juga menukil riwayat ini dan menambahkan bahwa setelah pria shalih itu wafat, setan membisikkan kepada kaumnya agar mereka berhenti di kuburannya dan mengagungkannya. Seiring berjalannya waktu, pengagungan itu berubah menjadi ibadah dan penyembahan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (wafat 1206 H) dalam Kitab At-Tauhid menggunakan kisah ini sebagai dalil bahwa syirik bisa terjadi di kalangan umat yang sebelumnya bertauhid, dan bahwa sebab utamanya adalah ghuluw (berlebihan) terhadap orang shalih. Beliau juga mengingatkan bahwa ini adalah pelajaran berharga bagi umat Islam agar tidak terjatuh pada hal yang sama.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Larangan ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan orang shalih — meskipun orang tersebut memang shalih dan berjasa.
  2. Bahaya kuburan sebagai tempat ibadah — pengagungan berlebihan terhadap kuburan bisa menjerumuskan pada kesyirikan.
  3. Peran setan dalam memperindah kebatilan — setan terus membisikkan hingga manusia jatuh pada perbuatan syirik.
  4. Asal-usul syirik adalah cinta yang salah tempat — bukan karena benci kepada orang shalih, tapi karena cinta yang berlebihan tanpa bimbingan syariat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menaklukkan Makkah pada tahun 8 H, beliau mengutus Khalid bin Al-Walid untuk menghancurkan berhala Al-Uzza, dan mengutus Sa'd bin Zaid Al-Asyhali untuk menghancurkan berhala Manat. Adapun berhala Al-Lat yang berada di Thaif, Nabi ﷺ mengutus Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu'bah untuk menghancurkannya.

Ketika Al-Mughirah menghancurkan berhala Al-Lat, ia berkata kepada penduduk Thaif: "Celakalah kalian! Sesungguhnya Al-Lat ini hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat." Kemudian ia memukul berhala itu dengan kapak hingga hancur. Ini menunjukkan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah dengan penuh pengagungan ternyata tidak bisa membela dirinya sendiri dari kehancuran.

Hikmah dari kisah ini: betapa hinanya berhala yang mereka sembah, dan betapa besarnya karunia Allah yang telah membimbing kita kepada tauhid dan menjauhkan kita dari kesyirikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi sikap berlebihan dalam mengagungkan orang shalih, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, karena ini adalah jalan menuju kesyirikan.
  2. Jangan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah atau tempat meminta berkah, karena ini termasuk perbuatan yang dilarang dan bisa menjerumuskan pada syirik.
  3. Pelajari kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan hadits agar kita mengambil pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu.
  4. Ikhlaskan ibadah hanya kepada Allah — jangan mencampurkan ibadah dengan pengagungan kepada makhluk, sekalipun makhluk itu adalah orang shalih.
  5. Waspadai tipu daya setan yang selalu berusaha merusak tauhid manusia melalui berbagai cara, termasuk melalui rasa cinta dan hormat yang berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.