Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan penglihatan Nabi ﷺ pada malam Isra' Mi'raj, yaitu ketika beliau melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang sangat agung. Abdullah bin Mas'ud menafsirkan bahwa Nabi ﷺ melihat "rafrafan akhdhar" (layar/tabir hijau) yang menutupi seluruh cakrawala. Ini menunjukkan betapa agungnya tanda kekuasaan Allah yang disaksikan Nabi ﷺ, dan para ulama Ahlus Sunnah memahami bahwa penglihatan ini adalah penglihatan dengan mata kepala di malam Isra' Mi'raj.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. An-Najm [53]: 18
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
Terjemahan: "Sungguh, dia (Muhammad) telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman Allah "لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى", dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan tafsir dari ayat 18 Surah An-Najm, dan yang dimaksud "rafrafan akhdhar" adalah sesuatu yang hijau yang menutupi ufuk, yaitu salah satu tanda kebesaran Allah yang dilihat Nabi ﷺ.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dilihat Nabi ﷺ, namun yang paling kuat adalah beliau melihat Jibril dalam bentuk aslinya, dan ini terjadi pada malam Isra' Mi'raj.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa penglihatan Nabi ﷺ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah adalah penglihatan dengan mata kepala, bukan sekadar mimpi.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan tafsir langsung dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu terhadap ayat 18 Surah An-Najm. Beliau mengatakan bahwa Nabi ﷺ melihat "رَفْرَفًا أَخْضَرَ قَدْ سَدَّ الأُفُقَ" — sebuah layar atau tabir hijau yang menutupi seluruh cakrawala.
Makna "Rafraf" menurut para ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa "rafraf" bisa berarti kain atau tabir yang lebar, dan bisa juga berarti sayap burung. Dalam konteks ini, para ulama memahami bahwa yang dilihat Nabi ﷺ adalah sesuatu yang sangat luas dan hijau yang menutupi ufuk.
- Ibnu Katsir menyebutkan bahwa sebagian ulama menafsirkan ini sebagai Jibril yang memiliki enam ratus sayap yang menutupi cakrawala.
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in) menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya, dan itulah tanda kebesaran Allah yang paling besar.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dilihat Nabi ﷺ pada malam Isra' Mi'raj:
- Sebagian berpendapat beliau melihat Jibril dalam bentuk aslinya.
- Sebagian berpendapat beliau melihat Allah dengan hatinya (bukan dengan mata).
- Sebagian berpendapat beliau melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang lain.
Pendapat yang paling kuat:
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dan Ibnu Katsir, pendapat yang paling kuat adalah bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya, dan ini adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang paling besar. Hal ini diperkuat oleh hadits lain yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril memiliki enam ratus sayap yang menutupi cakrawala.
Pelajaran penting:
- Penglihatan Nabi ﷺ adalah penglihatan hakiki — bukan mimpi, melainkan penglihatan dengan mata kepala pada malam Isra' Mi'raj.
- Tanda kebesaran Allah sangat agung — apa yang dilihat Nabi ﷺ adalah sesuatu yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, dan itu adalah tanda kekuasaan Allah yang paling besar.
- Tafsir sahabat adalah hujjah — penafsiran Abdullah bin Mas'ud terhadap ayat ini diterima oleh para ulama karena beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling memahami Al-Qur'an.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia dan ahli tafsir Al-Qur'an, ketika ditanya tentang ayat "لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى", beliau menjawab dengan penuh keyakinan: "رَأَى رَفْرَفًا أَخْضَرَ قَدْ سَدَّ الأُفُقَ" — "Beliau melihat layar hijau yang menutupi cakrawala."
Ibnu Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling memahami makna Al-Qur'an. Nabi ﷺ sendiri pernah bersabda tentang beliau: "Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an sebagaimana ia diturunkan, hendaklah ia membacanya dari Ibnu Mas'ud." (HR. Ahmad, namun riwayat ini tidak termasuk dalam kitab shahih yang menjadi rujukan utama kita).
Dalam riwayat lain, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang apa yang beliau lihat pada malam Isra' Mi'raj, beliau menggambarkan betapa agungnya tanda-tanda kebesaran Allah yang beliau saksikan. Para sahabat mendengarkan dengan penuh kekhusyukan, dan mereka memahami bahwa apa yang dilihat Nabi ﷺ adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia biasa.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita untuk tunduk dan patuh terhadap penjelasan para sahabat dalam memahami Al-Qur'an, karena mereka adalah generasi terbaik yang paling memahami maksud Allah dan Rasul-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Menerima tafsir sahabat — Penafsiran Abdullah bin Mas'ud tentang ayat ini adalah hujjah yang harus kita terima, karena beliau adalah sahabat yang mulia dan ahli tafsir.
- Mengagungkan tanda kebesaran Allah — Apa yang dilihat Nabi ﷺ pada malam Isra' Mi'raj adalah tanda kebesaran Allah yang paling besar, dan kita harus mengimaninya tanpa menambah atau mengurangi.
- Menjauhi takwil yang berlebihan — Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini secara zahir tanpa takwil yang menyimpang, dan kita harus mengikuti pemahaman mereka.
- Memperbanyak tadabbur Al-Qur'an — Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan kebesaran Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
- Mengikuti pemahaman salafus shalih — Dalam memahami ayat-ayat sifat dan tanda kebesaran Allah, kita harus mengikuti pemahaman para sahabat dan tabi'in, seperti yang dicontohkan oleh Abdullah bin Mas'ud dan para ulama yang mengikuti jejak mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.