Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan tentang sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkaitan dengan neraka. Ketika neraka Jahanam belum penuh, Allah akan meletakkan “kaki-Nya” ke dalamnya, lalu neraka berkata, “Cukup! Cukup!”. Kaum muslimin wajib mengimani hadits ini sebagai sifat Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana (tak-yif), tanpa menyerupakan dengan makhluk (tasybih), dan tanpa menolak maknanya (ta’thil). Penjelasan ulama salaf seperti Ibn Katsir, Imam al-Bukhari, dan Ibn Hajar al-‘Asqalani menegaskan bahwa ini termasuk berita tentang sifat fi’liyah Allah yang harus diterima dengan penuh keimanan.
---
Rujukan Ulama & Dalil
1. Dalil Al-Qur’an yang terkait:
Allah berfirman,
﴿يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ﴾
“Pada hari (ketika) Kami berkata kepada Jahanam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Adakah tambahan?’”
(QS. Qaf [50]: 30)
2. Hadits Shahih:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Dikatakan kepada Jahanam, ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Ia menjawab, ‘Apakah masih ada tambahan?’ Lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala meletakkan Qadam (kaki)-Nya di atasnya, maka Jahanam berkata, ‘Cukup! Cukup!’”
(HR. al-Bukhari no. 4849, kitab Tafsir)
3. Penjelasan Ulama:
- Imam al-Bukhari – dalam Shahih-nya meletakkan hadits ini di bab tafsir QS. Qaf, menunjukkan bahwa hadits ini menafsirkan ayat tersebut.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani (Fath al-Bari, 8/615) – beliau menyebutkan riwayat-riwayat yang menguatkan bahwa “letak Qadam” adalah sifat Allah yang Haq, dan para ulama salaf mengimaninya tanpa takwil.
- Ibn Katsir (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 7/400) – ketika menafsirkan ayat di atas, beliau membawakan hadits ini dan berkata, “Hadits ini adalah salah satu nash tentang sifat Allah yang wajib kita imani sesuai dengan keagungan-Nya.”
- Imam Ahmad bin Hanbal – sebagaimana diriwayatkan oleh al-Khallal dan lainnya, beliau berkata, “Kami mengimani hadits-hadits tentang sifat, termasuk hadits ini, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa menyerupakan.”
- Ibn Taymiyyah (Majmu’ al-Fatawa, 5/365) – beliau menegaskan bahwa meletakkan Qadam adalah perbuatan Allah yang hakiki, dan cara-Nya tidak diketahui oleh makhluk.
---
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu hadits ash-shifat (sifat-sifat Allah) yang oleh para ulama salaf (seperti yang disebut dalam daftar) dipahami dengan iman dan taslim (penerimaan penuh). Berikut rinciannya:
1. Makna umum ayat dan hadits
Ayat QS. Qaf [50]: 30 memberitakan bahwa Allah kelak akan bertanya kepada neraka, sementara neraka sendiri merasa masih ingin dimasuki orang-orang kafir. Dalam hadits di atas diperinci bahwa ketika neraka berkata, “Hal min mazid?” (Apakah masih ada tambahan?), maka Allah meletakkan Qadam-Nya – yang merupakan sifat khusus bagi Allah – ke dalam neraka. Akibatnya neraka menjadi penuh dan berkata, “Qat qat!” (Cukup, cukup!).
2. Pemahaman ulama dari daftar rujukan
- Muhammad bin Sirin (guru Imam al-Bukhari dalam sanad hadits ini) dan Abu Hurairah sebagai perawi tidak melakukan penafsiran dengan ta’wil filosofis, melainkan menerimanya sebagai berita gaib.
- Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan para muhaddits salaf lainnya tidak menakwilkan kata “qadam” menjadi “kekuasaan” atau “keutamaan” sebagaimana dilakukan sebagian kelompok. Mereka justru membawakan hadits ini dalam kitab shahih sebagai bukti bahwa sifat-sifat Allah harus diimani.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani (Fath al-Bari) menjelaskan bahwa “qadam” di sini adalah sifat yang tidak dapat kita ketahui hakikatnya, namun kita wajib meyakininya sebagai salah satu sifat Allah Ta’ala.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyyah) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa neraka memiliki batas kapasitas, dan dengan letak Qadam Allah, neraka menjadi penuh – ini merupakan kekuasaan mutlak Allah.
- Imam Ahmad bin Hanbal – dalam riwayat yang masyhur, beliau mengatakan bahwa barang siapa mengingkari bahwa Allah memiliki qadam (kaki) yang sesuai dengan keagungan-Nya, maka ia telah menyimpang dari pemahaman salaf.
3. Tidak ada pertentangan dengan akal
Sifat qadam bagi Allah tidak boleh dibayangkan seperti kaki makhluk. Kita hanya mengimani bahwa Dia memiliki sifat yang Dia firmankan dan Rasul-Nya sabdakan, “bila kaifa” (tanpa menanyakan bagaimana) dan “bila tamyil” (tanpa menyerupakan). Inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dipegang oleh para ulama dalam daftar.
---
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam al-Bukhari (Shahih al-Bukhari, kitab Tafsir) bahwa suatu hari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan hadits ini di hadapan para sahabat. Ketika sampai pada bagian “Allah meletakkan Qadam-Nya”, beliau tidak menambahkan penafsiran apa pun, karena para sahabat telah memahami bahwa urusan sifat Allah adalah perkara gaib yang diterima begitu saja tanpa memperdebatkannya.
Hikmah: Sikap para sahabat dan tabi’in seperti Muhammad bin Sirin (yang meriwayatkan dari Abu Hurairah) adalah tawaqquf (berhenti) dari bertanya lebih lanjut tentang hakikat sifat Allah. Mereka hanya mengatakan, “Kami iman, kami tidak tahu bagaimana, namun kami yakin bahwa itu benar.” Sikap inilah yang diwariskan oleh para ulama Ahlus Sunnah dari generasi ke generasi.
---
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada sifat Allah – Hadits ini mengajarkan kita untuk mengimani seluruh sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam Al-Qur’an dan hadits shahih.
- Tidak menakwilkan – Jangan merubah makna “qadam” menjadi “kekuasaan” atau “keutamaan” hanya karena tidak cocok dengan akal. Cukup katakan, “Kami iman, dan Allah lebih tahu hakikatnya.”
- Menghindari ghuluw (berlebihan) dan jahmiyyah (pengingkaran) – Sebagaimana peringatan Imam Ahmad dan Ibn Taymiyyah, kita tidak boleh menolak sifat ini, juga tidak boleh menggambarkannya seperti makhluk.
- Merenungkan keagungan Allah – Neraka yang begitu luas dan dahsyat, namun hanya dengan letak Qadam-Nya neraka menjadi penuh dan tidak mampu menampung tambahan. Ini menunjukkan betapa besar dan maha kuasanya Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.