Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4848 tentang Neraka penuh setelah Allah meletakkan kaki-Nya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa neraka Jahannam akan terus meminta tambahan hingga Allah ﷻ meletakkan "kaki-Nya" (sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya) ke dalamnya, lalu neraka pun berkata "cukup, cukup." Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Besar dan bahwa neraka adalah makhluk yang tunduk sepenuhnya kepada perintah-Nya. Hadits ini juga menguatkan bahwa sifat-sifat Allah harus ditetapkan tanpa menyerupakan dengan makhluk (tanpa takyif dan tamtsil).

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Qaf [50]: 30:

<details>

<summary>Klik untuk melihat teks Arab</summary>

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ

</details>

Artinya: "(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami bertanya kepada Jahannam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Ia menjawab, 'Apakah masih ada tambahan?'"

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 4848) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2848) dan lainnya.

Penjelasan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab tafsir QS. Qaf ayat 30, menunjukkan bahwa hadits ini menjelaskan makna ayat tersebut.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (8/607) menjelaskan bahwa makna "meletakkan kaki" adalah sifat Allah yang hakiki sesuai keagungan-Nya, dan para ulama Salaf menetapkannya tanpa menanyakan "bagaimana".
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim (7/402) menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang sifat al-Qadam (Kaki) bagi Allah, dan kita wajib mengimaninya sebagaimana datangnya tanpa takwil.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk dalam hadits tentang sifat-sifat Allah yang disebut hadits ash-shifat. Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan Salaf, seperti yang disebut dalam daftar rujukan, memiliki metode yang jelas dalam memahami hadits semacam ini:

  1. Menetapkan sifat tersebut bagi Allah sesuai dengan yang layak bagi keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk (tasybih) dan tanpa menolak maknanya (ta'thil).
  2. Tidak menanyakan "bagaimana" bentuknya, karena akal manusia tidak mampu menjangkaunya.
  3. Mengimani bahwa maknanya benar sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Kami beriman bahwa Allah meletakkan kaki-Nya ke dalam neraka, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah ﷺ, tanpa kami menanyakan bagaimana dan tanpa menyerupakan dengan makhluk."

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah, di mana neraka yang begitu dahsyat dan besar menjadi tenang dan penuh hanya dengan satu "letakan" dari Allah.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (17/192) menegaskan bahwa madzhab para ulama Salaf adalah mengimani hadits-hadits sifat sebagaimana datangnya, tanpa takwil, dan menyerahkan makna hakikatnya kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in besar dan ahli tafsir), beliau berkata ketika menafsirkan ayat ini: "Neraka Jahannam tidak akan penuh hingga Allah meletakkan apa yang Dia kehendaki ke dalamnya. Maka ketika Dia meletakkan kaki-Nya, ia berkata, 'Cukup, cukup.'" (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya).

Kisah ini mengajarkan kita tentang kebesaran Allah dan betapa kecilnya makhluk di hadapan-Nya. Neraka yang digambarkan dengan begitu mengerikan dalam Al-Qur'an, dengan apinya yang membara dan jeritannya yang memekikkan, tiba-tiba menjadi tenang dan penuh hanya dengan satu tanda dari Allah. Ini adalah pelajaran tentang tawadhu' (kerendahan hati) bagi kita manusia, bahwa tidak ada satu pun makhluk yang bisa sombong di hadapan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada sifat-sifat Allah yang disebut dalam Al-Qur'an dan hadits, termasuk sifat al-Qadam (Kaki), dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.
  2. Menjauhi perdebatan tentang "bagaimana" bentuk sifat Allah, karena itu di luar jangkauan akal manusia.
  3. Mengambil pelajaran tentang kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, termasuk neraka.
  4. Memperbanyak taubat dan istigfar agar dijauhkan dari neraka yang dahsyat ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.