Penjelasan Hadits Bukhari No. 4832 tentang Larangan memutus silaturahmi setelah berkuasa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah bagian dari sabda Rasulullah ﷺ yang menjelaskan bahaya besar memutus tali silaturahmi. Beliau ﷺ mengaitkannya dengan firman Allah dalam QS. Muhammad [47]: 22, yang menegaskan bahwa orang yang diberi kekuasaan lalu berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan, maka mereka akan mendapat laknat Allah dan ditulikan serta dibutakan hatinya. Ini adalah peringatan keras agar kita selalu menjaga dan menyambung tali silaturahmi.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an: QS. Muhammad [47]: 22

Teks Arab (dengan harakat lengkap):

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

Terjemahan: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu?"

2. Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman Allah "wa tuqatti'u arhamakum", dari Mu'awiyah bin Abi Al-Muzarrad, dari Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

"وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ {فَهَلْ عَسَيْتُمْ}"

Terjemahan: "Dan bacalah jika kalian mau (firman Allah): 'Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa...'" (QS. Muhammad [47]: 22)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dan merupakan bagian dari hadits panjang tentang bahaya memutus silaturahmi.

3. Kaitan dengan Ulama

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini adalah peringatan keras bagi orang-orang yang diberi kekuasaan atau kesempatan, lalu mereka menyalahgunakannya dengan berbuat kerusakan dan memutus silaturahmi.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menafsirkan bahwa ayat ini mengancam orang yang berpaling dari petunjuk Allah, lalu menggunakan kekuasaannya untuk berbuat kerusakan dan memutuskan hubungan kekerabatan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki makna yang sangat dalam. Rasulullah ﷺ mengaitkan dua perkara besar: kerusakan di muka bumi dan memutus tali silaturahmi. Keduanya disebutkan dalam satu ayat karena keduanya saling berkaitan erat.

Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengingatkan manusia: jika mereka diberi kekuasaan dan kesempatan, apakah mereka akan berbuat kerusakan seperti yang dilakukan orang-orang sebelum mereka? Apakah mereka akan memutuskan hubungan kekeluargaan? Ini adalah teguran yang sangat halus namun tegas.

Syaikh As-Sa'di (wafat 1376 H) menambahkan bahwa ayat ini menunjukkan dua ciri orang yang berpaling dari kebenaran:

  1. Berbuat kerusakan di bumi — baik kerusakan dalam agama, harta, jiwa, maupun kehormatan.
  2. Memutus silaturahmi — karena silaturahmi adalah tali yang menghubungkan hati, dan memutuskannya adalah sumber perpecahan dan permusuhan.

Imam Al-Qurthubi (walaupun tidak dalam daftar, kita merujuk pada penjelasan yang sejalan dengan ulama daftar) — namun yang lebih tepat, kita merujuk pada Imam Ibnu Katsir yang menukil dari para ulama salaf bahwa ayat ini turun sebagai peringatan bagi kaum Quraisy yang jika diberi kekuasaan, mereka akan merusak dan memutus silaturahmi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa menjaga silaturahmi adalah salah satu kewajiban terbesar dalam Islam. Beliau menukil bahwa memutus silaturahmi termasuk dosa besar yang dapat menghalangi masuk surga.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa silaturahmi adalah amalan yang paling cepat mendatangkan pahala di dunia, dan memutuskannya adalah sebab paling cepat mendatangkan azab di dunia.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan tentang Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) yang menunjukkan betapa pentingnya silaturahmi. Suatu hari, beliau mendengar bahwa ada seorang kerabatnya yang sedang kesulitan. Meskipun beliau sendiri hidup dalam keadaan sederhana dan serba kekurangan, beliau tetap berusaha membantu kerabatnya tersebut. Ketika ditanya mengapa beliau bersusah payah, Imam Ahmad menjawab: "Aku tidak ingin termasuk orang yang disebut dalam firman Allah: '...dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu' (QS. Muhammad [47]: 22)."

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat takut terhadap ancaman memutus silaturahmi, sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menjaganya, meskipun dalam keadaan sulit.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga silaturahmi dengan keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat kita, baik yang dekat maupun yang jauh.
  2. Jangan menyalahgunakan kekuasaan atau kesempatan yang Allah berikan untuk berbuat kerusakan, baik dalam bentuk kezaliman, korupsi, maupun perpecahan.
  3. Sadari bahwa memutus silaturahmi adalah dosa besar yang dapat mendatangkan laknat Allah dan kebinasaan di dunia maupun akhirat.
  4. Perbanyak istighfar dan taubat jika selama ini kita lalai dalam menjaga silaturahmi, dan segera perbaiki hubungan dengan kerabat yang pernah kita sakiti atau kita jauhi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?