Penjelasan Hadits Bukhari No. 4827 tentang Kisah turunnya ayat tentang durhaka kepada orang tua

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, menceritakan tentang peristiwa politik pada masa Khalifah Mu'awiyah, ketika Marwan bin Al-Hakam mencoba membaiat Yazid bin Mu'awiyah sebagai putra mahkota. Marwan menuduh Abdurrahman bin Abu Bakar sebagai orang yang dimaksud dalam QS. Al-Ahqaf [46]: 17, namun Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha membantahnya dengan tegas dari balik hijab. Beliau menjelaskan bahwa Allah tidak menurunkan ayat Al-Qur'an tentang mereka (keluarga Abu Bakar) kecuali ayat tentang pembebasan dirinya dari fitnah (haditsul ifki). Hadits ini mengajarkan kita tentang pentingnya kehati-hatian dalam menafsirkan Al-Qur'an dan tidak memaksakan ayat untuk kepentingan tertentu.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Ahqaf [46]: 17:

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

"Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya: 'Cis bagi kamu berdua! Apakah kamu berdua menjanjikan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal telah berlalu beberapa umat sebelumku?' Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (sambil berkata): 'Celaka kamu! Berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar.' Maka dia berkata: 'Ini hanyalah dongeng-dongengan orang-orang dahulu.'"

Hadits yang diriwayatkan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman Allah: "Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya: 'Cis bagi kamu berdua!'" (HR. Al-Bukhari no. 4827), dari Yusuf bin Mahak.

Kaitan dengan ulama:

Peristiwa ini disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab tafsir dan syarah hadits. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan konteks politik di balik hadits ini, dan menegaskan bahwa penafsiran Marwan terhadap ayat tersebut adalah keliru dan tidak tepat. Adapun Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha membantahnya karena ayat tersebut turun tentang orang-orang kafir Quraisy, bukan tentang Abdurrahman bin Abu Bakar.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ayat dalam QS. Al-Ahqaf [46]: 17 ini turun tentang orang-orang musyrik yang mengingkari hari kebangkitan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun tentang seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya yang beriman, dan ia mengingkari hari akhir. Beliau menukil pendapat para ulama salaf bahwa ayat ini turun tentang orang-orang kafir tertentu, bukan tentang sahabat Nabi ﷺ.

Adapun dalam hadits di atas, Marwan bin Al-Hakam mencoba mengaitkan ayat tersebut dengan Abdurrahman bin Abu Bakar karena perselisihan politik saat itu. Marwan ingin membaiat Yazid bin Mu'awiyah sebagai pengganti ayahnya, dan Abdurrahman menentangnya. Maka Marwan menuduhnya dengan ayat tersebut.

Namun Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha dengan tegas membantah dari balik hijab. Beliau berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatu dari Al-Qur'an tentang kami kecuali apa yang berkaitan dengan pengumuman kebebasanku (dari fitnah)." Maksudnya, tidak ada ayat Al-Qur'an yang turun berkaitan dengan keluarga Abu Bakar secara khusus, kecuali ayat-ayat tentang haditsul ifki (fitnah terhadap Aisyah) dalam QS. An-Nur [24]: 11-20.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perkataan Aisyah ini menunjukkan bahwa tuduhan Marwan tidak benar. Abdurrahman bin Abu Bakar adalah seorang sahabat yang mulia, dan tidak mungkin ayat yang berisi celaan terhadap orang kafir diturunkan tentang dirinya.

Peristiwa ini juga menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  1. Kehati-hatian dalam menafsirkan Al-Qur'an - Kita tidak boleh memaksakan ayat Al-Qur'an untuk menjatuhkan seseorang atau untuk kepentingan politik tertentu. Ini adalah bentuk penyalahgunaan Kitabullah.
  2. Keberanian dalam menyampaikan kebenaran - Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha tidak takut untuk membantah gubernur (Marwan) ketika melihat kesalahan dalam penafsiran ayat.
  3. Kedudukan para sahabat - Para sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang mulia. Kita tidak boleh menuduh mereka dengan hal-hal yang tidak baik tanpa bukti yang jelas.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menegaskan bahwa para sahabat seluruhnya adil dan terjaga dari perbuatan dosa besar yang merendahkan martabat mereka. Maka tuduhan Marwan terhadap Abdurrahman adalah tuduhan yang tidak berdasar.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Marwan memerintahkan penangkapan Abdurrahman bin Abu Bakar, beliau berlindung di rumah saudarinya, Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Para utusan Marwan tidak berani masuk ke rumah Ummul Mukminin. Maka Marwan berkata dengan nada menuduh: "Inilah orang yang Allah turunkan ayat tentangnya: 'Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya: Cis bagi kamu berdua!'"

Maka Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab dari balik hijab dengan tegas dan bijak: "Allah tidak menurunkan sesuatu dari Al-Qur'an tentang kami kecuali apa yang berkaitan dengan pengumuman kebebasanku (dari fitnah)."

Perkataan ini menunjukkan ketinggian ilmu dan keberanian Sayyidah Aisyah dalam membela kebenaran. Beliau adalah wanita yang paling memahami Al-Qur'an di kalangan umat ini, sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Beliau tidak tinggal diam ketika melihat ayat Allah ditafsirkan secara keliru untuk kepentingan politik.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah memaksakan ayat Al-Qur'an untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau politik. Al-Qur'an adalah petunjuk, bukan alat untuk menjatuhkan orang lain.
  2. Pelajari tafsir Al-Qur'an dari para ulama yang terpercaya, agar kita tidak salah memahami ayat-ayat Allah.
  3. Jadilah pemberani dalam menyampaikan kebenaran, sebagaimana Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha membantah Marwan dengan ilmiah dan santun.
  4. Hormati para sahabat Nabi ﷺ dan jangan mudah menuduh mereka dengan hal-hal yang buruk tanpa bukti yang shahih.
  5. Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bukan sebagai alat pembenaran atas kehendak kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?