Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tentang adanya jarak waktu antara dua tiupan sangkakala (tiupan kematian dan tiupan kebangkitan) yang disebutkan oleh Nabi ﷺ sebagai "empat puluh". Namun, Nabi ﷺ tidak menjelaskan secara pasti apakah itu empat puluh hari, bulan, atau tahun. Hadits ini juga menegaskan bahwa seluruh tubuh manusia akan hancur kecuali tulang ekor (عَجْبُ الذَّنَبِ), yang menjadi cikal bakal penciptaan kembali manusia pada hari kebangkitan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Firman-Nya, no. 4814, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
- QS. Az-Zumar [39]: 68 – Tentang dua tiupan sangkakala:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
"Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah semua yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah)."
- QS. Yasin [36]: 51 – Tentang kebangkitan dari kubur:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
"Dan ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kubur (dalam keadaan hidup) menuju kepada Tuhan mereka."
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud "empat puluh" dalam hadits ini tidak disebutkan secara tegas oleh Nabi ﷺ, dan para sahabat bertanya-tanya tentang hal itu, namun Abu Hurairah tidak memberikan jawaban pasti karena tidak ada nash yang menjelaskannya.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ada riwayat lain yang menyebutkan jarak waktu tersebut adalah empat puluh tahun, namun riwayat tersebut tidak sampai derajat shahih menurut sebagian ulama.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Jarak Waktu Antara Dua Tiupan Sangkakala
Nabi ﷺ bersabda bahwa antara dua tiupan sangkakala ada "empat puluh". Para sahabat yang mendengar dari Abu Hurairah bertanya: "Apakah empat puluh hari?" Abu Hurairah menjawab, "Aku tidak tahu." Mereka bertanya lagi: "Empat puluh tahun?" Abu Hurairah tetap menjawab, "Aku tidak tahu." Mereka bertanya: "Empat puluh bulan?" Abu Hurairah juga menjawab, "Aku tidak tahu."
Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menjelaskan secara rinci tentang jarak waktu tersebut, dan Abu Hurairah sebagai perawi hadits tidak berani menetapkan sendiri tanpa ada nash yang jelas. Ini adalah pelajaran penting tentang adab dalam menyampaikan ilmu – kita tidak boleh menetapkan sesuatu yang tidak ada dalilnya.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ada riwayat lain dari sahabat lain yang menyebutkan bahwa jarak tersebut adalah empat puluh tahun, namun riwayat itu tidak setingkat hadits di atas. Beliau menegaskan bahwa yang paling selamat adalah tidak memastikan hitungannya karena Nabi ﷺ sendiri tidak menjelaskannya secara tegas.
2. Tulang Ekor (عَجْبُ الذَّنَبِ) yang Tidak Hancur
Nabi ﷺ bersabda: "Seluruh tubuh manusia akan hancur kecuali tulang ekor, dan dari tulang itulah manusia diciptakan kembali."
Imam Al-Qurthubi (dalam At-Tadzkirah) dan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tulang ekor ini adalah bagian paling bawah dari tulang belakang manusia. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah bukti kekuasaan Allah dalam menciptakan manusia kembali, sebagaimana Allah menciptakan manusia pertama kali dari tanah.
Imam As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan kemudahan Allah dalam membangkitkan manusia, karena jika tulang sekecil itu saja tidak hancur, maka Allah yang menciptakannya pasti mampu mengembalikan seluruh tubuh manusia.
3. Hikmah dari Hadits Ini
- Kekuasaan Allah atas kematian dan kebangkitan.
- Pentingnya persiapan menghadapi hari kiamat.
- Adab ilmu: tidak berbicara tanpa dalil, sebagaimana Abu Hurairah yang tidak memastikan hitungan "empat puluh" karena tidak ada nash.
Imam Ibnul Qayyim dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kebangkitan manusia adalah dengan mengembalikan ruh ke jasad yang telah diciptakan kembali oleh Allah dari tulang ekor tersebut. Ini adalah bentuk keimanan kepada hari akhir yang wajib diyakini tanpa mempertanyakan bagaimana caranya, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Bukhari – rahimahullah – ketika menyusun kitab Shahih-nya, beliau sangat berhati-hati dalam memilih hadits. Beliau tidak memasukkan hadits kecuali yang shahih menurut persyaratan ketatnya. Namun dalam bab ini, beliau memasukkan hadits tentang tulang ekor ini karena keshahihannya dan pentingnya makna yang terkandung di dalamnya.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa para ulama sangat menjaga keaslian ilmu dan tidak mudah menetapkan sesuatu tanpa dalil. Sebagaimana Abu Hurairah yang tidak memastikan hitungan "empat puluh" karena tidak ada nash yang jelas, para ulama pun demikian – mereka tidak berbicara dalam urusan agama kecuali dengan ilmu.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa hari kiamat pasti terjadi, dan dua tiupan sangkakala adalah bagian dari keimanan kepada hari akhir.
- Jangan memastikan hal-hal yang tidak dijelaskan secara tegas oleh dalil, seperti jarak waktu antara dua tiupan sangkakala. Cukup yakini bahwa itu terjadi, tanpa mempertanyakan detail yang tidak dijelaskan.
- Renungkan kekuasaan Allah dalam menciptakan dan membangkitkan manusia. Jika tulang ekor saja tidak hancur, maka Allah pasti mampu mengembalikan seluruh tubuh manusia.
- Perbanyak persiapan menghadapi hari kiamat dengan amal shalih, karena tidak ada yang tahu kapan kiamat akan terjadi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.