Penjelasan Hadits Bukhari No. 4809 tentang Jujur mengatakan tidak tahu adalah bagian dari ilmu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab ilmu yang sangat penting: jika seseorang mengetahui sesuatu hendaklah ia menyampaikannya, dan jika tidak mengetahui hendaklah ia jujur mengatakan "Allah lebih mengetahui" — karena mengakui ketidaktahuan adalah bagian dari ilmu. Ibnu Mas'ud رضي الله عنه lalu mencontohkan hal ini dengan menafsirkan ayat tentang "asap" (ad-Dukhan) berdasarkan peristiwa nyata yang beliau saksikan, bukan dengan mengira-ngira.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat yang menjadi pokok bab ini:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

(QS. Shad [38]: 86)

Terjemahan: "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Aku tidak meminta upah kepada kalian atas (dakwah) ini, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang berpura-pura/berlebihan (mutakallifin).'"

Ayat tentang ad-Dukhan:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ ۝ يَغْشَى النَّاسَ هَذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

(QS. Ad-Dukhan [44]: 10–11)

Terjemahan: "Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang menutupi manusia. Inilah azab yang pedih."

Hadits terkait: Shahih Al-Bukhari no. 4809, Kitab Tafsir, dari Masruq, dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki dua pelajaran besar yang saling berkaitan.

Pertama: Adab berbicara tentang ilmu. Ibnu Mas'ud رضي الله عنه — seorang sahabat yang sangat diakui keilmuannya — justru mengajarkan kerendahan hati. Beliau berkata bahwa tanda seseorang benar-benar berilmu adalah keberaniannya mengatakan "Allah lebih mengetahui" ketika ia tidak tahu. Ini sejalan dengan firman Allah bahwa Nabi ﷺ bukan termasuk mutakallifin, yaitu orang yang memaksakan diri berbicara tentang sesuatu yang tidak ia kuasai atau berpura-pura tahu. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mutakallif adalah orang yang membebani diri dengan sesuatu yang bukan keahliannya, dan Nabi ﷺ terbebas dari sifat itu. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa menahan diri dari menjawab saat tidak tahu adalah bentuk wara' dan amanah ilmu.

Kedua: Penafsiran ad-Dukhan. Ibnu Mas'ud رضي الله عنه menafsirkan "asap" dalam QS. Ad-Dukhan sebagai peristiwa kelaparan dahsyat yang menimpa Quraisy, di mana karena saking laparnya seseorang melihat seperti ada asap antara dirinya dan langit. Beliau menyandarkan penafsiran ini pada peristiwa yang beliau saksikan langsung, bukan sekadar pendapat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penafsiran Ibnu Mas'ud ini termasuk tafsir yang kuat karena berbasis riwayat dan pengamatan langsung, meskipun sebagian ulama lain seperti Ibnu Mas'ud sendiri juga mengisyaratkan bahwa ad-Dukhan bisa bermakna lain di akhir zaman. Yang jelas, ayat "يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَى" (QS. Ad-Dukhan [44]: 16) menurut Ibnu Mas'ud merujuk pada kekalahan Quraisy di Perang Badr.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa sikap jujur dalam ilmu adalah pondasi agama, dan menutupi ketidaktahuan dengan mengarang jawaban adalah pintu masuk kebohongan atas nama Allah.

Story Telling

Suatu ketika Masruq masuk menemui Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, dan beliau langsung memberi nasihat yang sangat berharga kepada orang banyak. Beliau tidak berbicara dengan sombong, padahal beliau adalah salah satu sahabat paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling tahu Al-Qur'an. Justru beliau mengajarkan: "Barangsiapa tahu, katakanlah; barangsiapa tidak tahu, katakanlah Allah lebih mengetahui." Lalu beliau menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ pernah mendoakan Quraisy agar ditimpa kelaparan seperti kelaparan zaman Nabi Yusuf عليه السلام, karena mereka keras kepala menolak Islam. Doa itu dikabulkan, sampai-sampai mereka memakan bangkai dan kulit, dan melihat asap karena kelaparan. Ketika mereka berdoa memohon diangkat, Allah mengangkatnya, tetapi mereka kembali kufur — maka Allah menghukum mereka di Perang Badr. Hikmahnya: kejujuran ilmu dan kesabaran dalam dakwah adalah jalan para nabi, dan azab Allah datang bagi yang terus berpaling setelah diberi peringatan.

Kesimpulan Praktis

  • Jika kita tahu suatu ilmu, sampaikan dengan benar; jika tidak tahu, katakan "Allah lebih mengetahui" tanpa malu.
  • Jangan memaksakan diri menjawab hal yang bukan keahlian kita, terutama dalam agama.
  • Tafsir Al-Qur'an harus dirujuk kepada ahlinya dan riwayat yang sahih, bukan dugaan.
  • Kisah ad-Dukhan mengingatkan bahwa peringatan Allah itu nyata, dan berpaling setelah peringatan hanya menambah kerugian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?