Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan makna firman Allah dalam QS. Yasin [36]: 38 tentang pergerakan matahari. Nabi ﷺ menafsirkan bahwa "mustaqarr" (tempat yang ditentukan) bagi matahari adalah di bawah 'Arsy Allah. Ini menunjukkan kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta, serta mengajarkan kita untuk merenungkan kekuasaan-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Yasin [36]: 38
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui."
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari no. 4803, dari sahabat Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
"Aku bertanya kepada Nabi ﷺ tentang firman Allah: 'Dan matahari berjalan pada tempat yang ditentukan' (QS. Yasin: 38). Beliau bersabda: 'Tempatnya (mustaqqarruha) adalah di bawah 'Arsy.'"
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa matahari memiliki tempat peredaran yang telah ditetapkan oleh Allah, dan puncak dari peredarannya adalah di bawah 'Arsy Allah. Beliau juga mengutip riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyatakan bahwa matahari berjalan seperti orang yang berjalan, dan tempat kembalinya adalah di bawah 'Arsy.
Imam Al-Bukhari rahimahullah sendiri menempatkan hadits ini dalam bab tafsir QS. Yasin untuk menjelaskan makna ayat tersebut secara langsung dari Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahumullah, memahami hadits ini secara tekstual (zhahir) sesuai dengan makna yang dimaksud oleh Nabi ﷺ, tanpa melakukan ta'wil yang menyimpang.
Makna "mustaqarr" dalam ayat ini memiliki dua penafsiran utama dari para ulama:
- Tempat peredaran (waktu dan batas): Matahari berjalan pada orbit yang telah ditetapkan Allah, dan pada akhirnya akan berhenti pada waktu yang ditentukan (hari kiamat). Ini adalah tafsir yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam As-Sa'di rahimahumallah.
- Tempat di bawah 'Arsy: Sebagaimana dijelaskan langsung oleh Nabi ﷺ dalam hadits ini. Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa ketika matahari terbenam, ia bersujud di bawah 'Arsy, lalu meminta izin untuk terbit kembali. Ini menunjukkan bahwa tempat akhir perjalanan matahari adalah di bawah 'Arsy Allah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara kedua makna ini. "Mustaqarr" bisa berarti tempat peredaran di langit, dan juga tempat kembalinya di bawah 'Arsy. Keduanya adalah kebenaran yang tidak perlu ditakwilkan secara metaforis.
Pelajaran penting dari hadits ini adalah:
- Matahari adalah makhluk Allah yang tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.
- Alam semesta berjalan dengan keteraturan yang sempurna karena diatur oleh Allah Al-'Aziz (Yang Mahaperkasa) dan Al-'Alim (Maha Mengetahui).
- Kita sebagai hamba Allah harus merenungkan ciptaan-Nya untuk menambah keimanan dan ketakwaan.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, suatu hari beliau bersama Nabi ﷺ ketika matahari akan terbenam. Nabi ﷺ bersabda:
"Tahukah kamu ke mana perginya matahari ini?"
Abu Dzarr menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ia pergi bersujud di bawah 'Arsy, lalu meminta izin (untuk terbit kembali), maka diizinkan baginya. Dan hampir saja ia (pada suatu hari) tidak diizinkan, lalu ia berkata: 'Aku tidak diperbolehkan (terbit) dari tempatku.' Maka itulah yang difirmankan Allah: 'Dan matahari berjalan pada tempat yang ditentukan.'" (HR. Al-Bukhari no. 3199)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa seluruh makhluk, termasuk matahari yang begitu besar, tunduk dan patuh kepada Allah. Ia bersujud kepada Penciptanya setiap hari. Maka, sudah sepantasnya kita sebagai manusia yang diberi akal dan kehendak, lebih semangat lagi dalam beribadah dan tunduk kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa alam semesta diatur oleh Allah dengan sangat sempurna. Peredaran matahari bukanlah tanpa tujuan, melainkan bukti kekuasaan dan ilmu Allah.
- Perbanyaklah merenungkan ciptaan Allah seperti langit, bumi, matahari, dan bulan. Renungan ini akan menambah keimanan dan kedekatan kita kepada-Nya.
- Jangan mentakwilkan ayat-ayat dan hadits tentang sifat Allah dan alam gaib dengan akal semata. Cukup kita imani sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi ﷺ dan dipahami oleh para ulama salaf.
- Ambil pelajaran dari ketaatan matahari: Ia selalu patuh pada perintah Allah. Maka, kita pun harus patuh pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.