Penjelasan Hadits Bukhari No. 4800 tentang Malaikat bertanya tentang perintah Allah dan setan mencuri berita

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika Allah menetapkan suatu urusan di langit, para malaikat tunduk dan takut kepada firman-Nya. Setelah rasa takut itu hilang, mereka bertanya tentang apa yang difirmankan Allah, lalu dijawab bahwa Allah mengatakan yang benar. Setan-setan yang mencuri pendengaran berusaha mencuri satu kalimat dari berita langit itu, lalu menyampaikannya kepada dukun dan tukang sihir, yang kemudian mencampurnya dengan seratus kebohongan. Hadits ini menegaskan keagungan Allah, ketaatan malaikat, dan batilnya praktik perdukunan serta sihir.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, pada bab yang menyebut firman Allah: "Hingga apabila rasa takut telah hilang dari hati mereka, mereka berkata: 'Apa yang difirmankan Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar.'" (QS. Saba' [34]: 23).

Teks Arab ayat yang menjadi judul bab:

فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Terjemahan: "Hingga apabila rasa takut telah hilang dari hati mereka, mereka berkata: 'Apa yang difirmankan Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar.'" (QS. Saba' [34]: 23).

Hadits terkait juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, dan Imam Al-Bukhari meriwayatkannya di beberapa tempat dalam Shahih-nya. Perawi hadits ini adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:

Pertama: Keagungan firman Allah dan ketundukan para malaikat.

Ketika Allah menetapkan suatu perkara di langit, para malaikat mengibaskan sayap mereka sebagai tanda tunduk dan patuh. Suara firman Allah digambarkan "seperti rantai yang diseret di atas batu" — ini menunjukkan betapa dahsyat dan beratnya firman itu bagi para malaikat, bukan berarti Allah menyerupai makhluk. Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah gambaran tentang keagungan kalam Allah dan rasa takut yang menyelimuti para malaikat ketika mendengarnya.

Kedua: Setelah rasa takut hilang, para malaikat bertanya.

Ketika rasa takut itu hilang dari hati mereka, sebagian malaikat bertanya kepada sebagian yang lain: "Apa yang difirmankan Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Al-Haqq" — yaitu yang benar. Ini menunjukkan bahwa firman Allah selalu benar dan adil, tidak ada kebatilan di dalamnya. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan untuk memastikan dan menenangkan, bukan karena ketidaktahuan.

Ketiga: Setan mencuri pendengaran.

Setan-setan yang mencuri pendengaran (mustariqus sam') berusaha mendengar satu kalimat dari berita langit itu. Mereka berdiri bertingkat-tingkat, satu di atas yang lain. Ketika yang paling atas mendengar satu kalimat, ia menyampaikannya kepada yang di bawahnya, dan seterusnya hingga sampai kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena api (meteor) sebelum sempat menyampaikan, dan terkadang ia berhasil menyampaikan sebelum terkena.

Keempat: Dukun mencampur kebenaran dengan seratus kebohongan.

Ketika dukun menerima satu kalimat benar dari setan, ia menambahkan seratus kebohongan. Orang-orang yang mendengar kemudian membenarkan dukun itu karena satu kalimat yang kebetulan sesuai dengan kenyataan, padahal seratus kebohongan lainnya adalah dusta. Ini menunjukkan betapa berbahayanya perdukunan dan sihir.

Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil terbesar tentang batilnya perdukunan dan sihir, serta haramnya mendatangi dukun dan mempercayai mereka. Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Ighatsatul Lahfan juga menegaskan bahwa setan hanya bisa mencuri sebagian kecil dari berita langit, dan itupun tidak utuh, lalu dicampur dengan kebohongan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keagungan Allah dan bahwa para malaikat tunduk kepada-Nya, serta bahwa berita langit tidak bisa diakses oleh setan kecuali dengan cara mencuri yang dikecam.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang para dukun. Nabi ﷺ menjawab bahwa mereka tidaklah benar. Sahabat itu berkata: "Wahai Rasulullah, terkadang mereka mengatakan sesuatu yang benar." Nabi ﷺ menjawab: "Kalimat itu adalah kebenaran yang dicuri oleh setan, lalu ia bisikkan ke telinga dukun, kemudian dukun itu mencampurnya dengan seratus kebohongan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa kebenaran yang kadang keluar dari mulut dukun bukanlah bukti bahwa ia benar, melainkan justru bukti bahwa ia berinteraksi dengan setan. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya, dan Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa ini adalah dalil haramnya mendatangi dukun dan membenarkan mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengagungkan Allah dan firman-Nya. Renungkanlah bahwa firman Allah begitu agung hingga para malaikat tunduk dan takut kepada-Nya.
  2. Jauhi perdukunan dan sihir. Jangan pernah mendatangi dukun, tukang ramal, atau paranormal, apalagi membenarkan ucapan mereka. Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ." (HR. Ahmad dan lainnya, dari Abu Hurairah).
  3. Yakinlah bahwa berita langit tidak bisa dicuri. Setan hanya bisa mencuri sebagian kecil dan itupun tidak utuh, lalu dicampur dengan kebohongan.
  4. Berpeganglah pada Al-Qur'an dan Sunnah. Kebenaran hanya datang dari Allah dan Rasul-Nya, bukan dari ramalan atau sihir.
  5. Tumbuhkan rasa takut kepada Allah. Sebagaimana para malaikat takut kepada Allah, hendaknya kita juga memiliki rasa takut yang mendorong kita untuk taat dan menjauhi maksiat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?