Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 480 tentang Bab Menyambungkan Jari di Masjid dan Selainnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi peringatan Nabi ﷺ kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma tentang masa di mana akan tersisa manusia-manusia yang buruk, seperti sampah dan ampas (حُثَالَة). Mereka saling bertikai, tidak memiliki ilmu, amanah, dan agama yang benar. Ini adalah tanda dekatnya kiamat dan ujian besar bagi orang yang masih berpegang pada sunnah. Pelajaran utamanya: bersabar dan tabah dalam menjaga iman di tengah kerusakan zaman.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an (tentang kerusakan manusia akhir zaman):

Allah ta’ala berfirman:

﴿وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ﴾

(QS. Al-A’raf [7]: 179)

Terjemahan: “Dan sungguh, Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam banyak dari golongan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Hadits terkait (dari riwayat lain yang memperkuat makna):

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ، وَلَا مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ، مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى»

(رواه البيهقي في شعب الإيمان، وحسنه الألباني)

Makna: “Akan datang suatu masa pada manusia, tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisannya. Masjid-masjid mereka ramai, tetapi kosong dari petunjuk.”

Penjelasan ulama:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani (dalam _Fath al-Bari_, 2/16) menjelaskan bahwa lafaz “حُثَالَة” (huthalah) berarti sisa-sisa reruntuhan atau ampas manusia, yaitu orang-orang yang tidak memiliki keutamaan dan akhlak mulia. Mereka seperti debu yang bertebaran tanpa pegangan ilmu dan iman.
  • Imam an-Nawawi (dalam _Syarh Shahih Muslim_) berkata: “Yang dimaksud adalah orang-orang rusak yang tidak memiliki keteguhan dalam agama, mereka bertikai karena hawa nafsu, bukan karena kebenaran.”
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (dalam _Syarh Riyadhus Shalihin_) menegaskan bahwa hadits ini memberi isyarat tentang zaman ketika manusia sedikit yang benar-benar berilmu dan beramal, dan kebanyakan hanya ikut-ikutan tanpa dasar.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (no. 480) dari jalur ‘Ashim bin ‘Ali, dan redaksi lengkapnya menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Abdullah bin ‘Amr:

> “Wahai Abdullah bin ‘Amr! Bagaimana keadaannu bila kamu tinggal di tengah sisa-sisa manusia yang buruk (حُثَالَة)?”

Kata حُثَالَة (huthalah) secara bahasa berarti ampas atau sisa-sisa yang jelek dari sesuatu, misalnya ampas tepung atau jerami yang dianggap tidak berguna. Maka yang dimaksud adalah manusia yang agamanya rusak, akhlaknya rendah, dan tidak memiliki keistimewaan iman atau ilmu.

Makna lebih dalam menurut para ulama salaf:

  • Al-Hasan al-Bashri rahimahullah sering menangis bila mendengar hadits semacam ini. Beliau berkata, “Akan tiba suatu masa, seorang mukmin lebih hina daripada seorang budak. Mereka tersembunyi dan tidak dikenal, sedangkan orang-orang fasik menjadi pemimpin.”
  • Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam _Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam_) berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa sedikit sekali yang tersisa dari agama pada akhir zaman. Orang yang selamat seperti orang yang menggenggam bara api.”

Kontekstualisasi:

Hadits ini menjadi pengingat bahwa kemunduran agama adalah proses yang pasti. Ketika masyarakat tidak lagi berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, yang tersisa hanyalah formalitas keagamaan tanpa ruh. Perselisihan terjadi bukan karena ijtihad, melainkan karena kebodohan dan fanatisme.

Maka, tugas seorang muslim adalah:

  1. Bersabar dan tetap istiqamah di atas sunnah.
  2. Menuntut ilmu yang benar agar tidak ikut terbawa arus.
  3. Menjalin ukhuwah dengan orang-orang saleh yang masih ada.

Story Telling

Suatu ketika, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah (seorang ulama besar abad ke-2 H) ditanya tentang masa depan umat. Beliau menangis dan berkata:

> “Jika engkau melihat zaman di mana ilmu dianggap aib, kejahilan dibanggakan, dan para penuntut ilmu diejek, maka peganglah dirimu, jangan sampai engkau terlena. Waktu itu dekat ketika orang yang berpegang pada sunnah terasing seperti orang asing di kampung halamannya.”

Kisah ini menunjukkan bagaimana salafus shalih sangat khawatir dengan keadaan umat di akhir zaman. Mereka menjadikan hadits Nabi ﷺ sebagai peringatan nyata, bukan sekadar teori.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadar akan fitnah akhir zaman – Jangan terkejut melihat banyaknya perselisihan dan kerusakan akhlak. Itu sudah diinformasikan oleh Nabi.
  2. Perbanyak ilmu dan amal – Ilmu yang benar dari Al-Qur’an dan Sunnah adalah benteng dari kesesatan.
  3. Cari teman yang shalih – Seperti kata al-Hasan al-Bashri: “Siapa yang tidak memiliki teman yang saleh, akan binasa karena keburukan teman yang jahat.”
  4. Berdoa memohon keselamatan – Rasulullah ﷺ sering berdoa: “Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjadi penjaga urusanku, dan perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku.”

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.