Penjelasan Hadits Bukhari No. 4770 tentang Peringatan kepada kerabat dekat dan sikap Abu Lahab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan saat turunnya perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk memberi peringatan kepada kerabat dekatnya. Nabi ﷺ naik ke Bukit Shafa dan menyeru seluruh kabilah Quraisy, lalu menyampaikan peringatan tentang azab Allah dengan cara yang sangat bijak. Abu Lahab justru mengejek dan mendoakan kebinasaan bagi Nabi ﷺ, sehingga turunlah surah Al-Lahab sebagai jawaban Allah atas ucapannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi sebab turunnya hadits ini:

QS. Asy-Syu'ara' [26]: 214

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Terjemahan: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."

Ayat yang turun sebagai jawaban atas ucapan Abu Lahab:

QS. Al-Lahab [111]: 1-2

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ۝ مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

Terjemahan: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan hadits ini dalam Fathul Bari, dan Imam an-Nawawi menyebutkan keutamaan kejujuran Nabi ﷺ yang diakui bahkan oleh musuh-musuhnya dalam Syarah Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama, tentang kewajiban dakwah dan peringatan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ" adalah perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk memulai dakwah dari keluarga dan kerabat terdekat, karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan nasihat dan peringatan. Ini menunjukkan bahwa dakwah dimulai dari lingkup terdekat.

Kedua, tentang metode dakwah Nabi ﷺ. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menggunakan pendekatan yang sangat bijak: beliau naik ke tempat tinggi (Bukit Shafa) agar suaranya terdengar, memanggil nama-nama kabilah agar perhatian mereka tertuju, dan menggunakan perumpamaan (pasukan berkuda di lembah) sebelum menyampaikan pesan utama. Ini adalah pelajaran tentang hikmah dalam berdakwah.

Ketiga, tentang kejujuran Nabi ﷺ yang diakui musuh. Ketika Nabi ﷺ bertanya apakah mereka akan mempercayainya, mereka menjawab: "Kami tidak pernah menemukan kamu berkata kecuali yang benar." Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ini adalah pengakuan dari kaum Quraisy sendiri atas kejujuran Nabi ﷺ, bahkan sebelum mereka beriman. Ini menjadi hujjah (bukti) atas mereka.

Keempat, tentang sikap Abu Lahab. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Abu Lahab adalah paman Nabi ﷺ sendiri, namun justru menjadi orang yang paling keras menentang. Ucapannya "تَبًّا لَكَ" (celakalah kamu) adalah doa kebinasaan bagi Nabi ﷺ. Maka Allah menjawab dengan menurunkan surah Al-Lahab yang menegaskan bahwa justru Abu Lahab-lah yang akan binasa.

Perbedaan pendapat ulama:

Para ulama dalam daftar rujukan sepakat bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban berdakwah dengan hikmah dan keutamaan kejujuran Nabi ﷺ. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan dalam memahami hadits ini. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa dakwah harus dimulai dari keluarga terdekat, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika ayat "وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ" turun, Nabi ﷺ segera melaksanakan perintah tersebut tanpa menunda. Beliau naik ke Bukit Shafa, tempat yang tinggi di Mekkah, dan mulai memanggil dengan suara lantang: "Wahai Bani Fihr! Wahai Bani 'Adi!" Beliau memanggil setiap kabilah Quraisy hingga mereka berkumpul.

Bayangkan suasana saat itu. Orang-orang Quraisy yang penasaran datang berbondong-bondong. Yang tidak bisa datang mengirim utusan. Bahkan Abu Lahab, yang selama ini memusuhi Nabi ﷺ, ikut datang.

Nabi ﷺ bertanya dengan pertanyaan yang sangat cerdas: "Seandainya aku memberitahu kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang siap menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?"

Mereka menjawab dengan jujur: "Ya, kami tidak pernah mendapati kamu kecuali berkata benar."

Maka Nabi ﷺ menyampaikan pesan utama: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian akan azab yang pedih."

Namun Abu Lahab, dengan kesombongan dan kebenciannya, justru berkata: "Celakalah kamu sepanjang hari! Apakah untuk ini kamu mengumpulkan kami?"

Maka Allah menjawab ucapan Abu Lahab dengan menurunkan surah Al-Lahab, yang menegaskan bahwa justru Abu Lahab-lah yang akan binasa, dan hartanya tidak akan menyelamatkannya.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan kisah ini sebagai pelajaran tentang bagaimana dakwah harus dilakukan dengan keberanian, hikmah, dan kesabaran, bahkan ketika menghadapi penolakan dari orang terdekat.

Kesimpulan Praktis

  1. Mulailah dakwah dari keluarga terdekat — sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Asy-Syu'ara' [26]: 214, karena mereka adalah prioritas dalam nasihat dan peringatan.
  2. Gunakan hikmah dalam berdakwah — Nabi ﷺ memilih tempat tinggi, memanggil dengan nama yang dikenal, dan menggunakan perumpamaan yang mudah dipahami.
  3. Jujur dan dapat dipercaya adalah kunci — bahkan musuh mengakui kejujuran Nabi ﷺ. Hendaknya kita menjaga kejujuran dalam setiap perkataan.
  4. Bersabarlah menghadapi penolakan — Abu Lahab mengejek Nabi ﷺ, namun beliau tetap tenang dan Allah sendiri yang membela beliau.
  5. Harta tidak akan menyelamatkan dari azab Allah — sebagaimana ditegaskan dalam surah Al-Lahab, harta dan anak-anak tidak akan berguna jika seseorang menentang kebenaran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?