Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, yang menyebutkan lima tanda besar yang telah terjadi sebagai bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ: asap (ad-dukhan), terbelahnya bulan (al-qamar), kekalahan Romawi (ar-rum), cengkeraman keras (al-bathsyah), dan azab yang terus-menerus (al-lizam). Ini adalah bagian dari tafsir ayat QS. Al-Furqan [25]: 77, dan menunjukkan bahwa sebagian azab yang Allah ancamkan kepada kaum kafir Quraisy telah terbukti di dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Furqan [25]: 77:
قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا
"Katakanlah (Muhammad): 'Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau bukan karena doamu (ibadahmu). Sungguh, kamu telah mendustakan (Al-Qur'an), maka kelak azab itu akan menimpamu (dan tidak dapat dipisahkan darimu).'"
Hadits terkait — Shahih Al-Bukhari no. 4767, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
Hadits ini menyebutkan bahwa lima perkara telah berlalu: الدُّخَانُ (asap), الْقَمَرُ (bulan), الرُّومُ (Romawi), الْبَطْشَةُ (cengkeraman keras), dan اللِّزَامُ (azab yang terus-menerus).
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan tafsir ayat QS. Al-Furqan [25]: 77, dan bahwa kelima tanda tersebut adalah azab yang Allah turunkan kepada kaum Quraisy sebagai peringatan di dunia sebelum azab akhirat.
- Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menukil pendapat Ibnu Mas'ud ini dan menjelaskan makna masing-masing tanda.
- Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, menunjukkan bahwa beliau memandangnya sebagai penjelasan langsung terhadap ayat Al-Qur'an.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu riwayat yang paling jelas dalam menjelaskan tafsir ayat QS. Al-Furqan [25]: 77. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu — salah satu sahabat yang paling mendalam ilmunya dan sering disebut oleh Nabi ﷺ sebagai ahli tafsir — menyebutkan lima peristiwa besar yang telah terjadi sebagai realisasi dari ancaman Allah kepada kaum Quraisy yang mendustakan Nabi ﷺ.
Pertama: Ad-Dukhan (asap). Ini merujuk pada peristiwa ketika kaum Quraisy dilanda kelaparan hebat hingga mereka melihat seolah-olah ada asap di langit karena saking menderitanya. Allah berfirman dalam QS. Ad-Dukhan [44]: 10-11:
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ يَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih."
Kedua: Al-Qamar (terbelahnya bulan). Ini adalah mukjizat besar Nabi ﷺ ketika kaum Quraisy meminta bukti kenabian, lalu beliau menunjuk ke bulan dan bulan terbelah menjadi dua. Allah berfirman dalam QS. Al-Qamar [54]: 1:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
"Sungguh, telah dekat hari Kiamat, dan telah terbelah bulan."
Ketiga: Ar-Rum (kekalahan Romawi). Ini merujuk pada peristiwa kekalahan Romawi oleh Persia, lalu kemenangan Romawi kembali atas Persia, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ar-Rum [30]: 1-5. Kaum Quraisy bersorak ketika Persia (yang musyrik) mengalahkan Romawi (ahlul kitab), tetapi Allah menegaskan bahwa Romawi akan menang kembali.
Keempat: Al-Bathsyah (cengkeraman keras). Ini merujuk pada kekalahan kaum Quraisy dalam Perang Badar, di mana banyak pemuka mereka tewas. Allah berfirman dalam QS. Ad-Dukhan [44]: 16:
يَوْمَ نَبْطِشُ الْبَطْشَةَ الْكُبْرَىٰ إِنَّا مُنْتَقِمُونَ
"Ingatlah hari ketika Kami menghukum dengan hukuman yang sangat keras. Sungguh, Kami akan membalas."
Kelima: Al-Lizam (azab yang terus-menerus). Ini adalah azab yang tidak dapat dipisahkan dari mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Furqan [25]: 77. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar dan Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini bisa merujuk pada azab akhirat bagi yang tetap kafir, atau azab dunia yang terus menimpa mereka.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
- Ibnu Mas'ud berpendapat bahwa kelima tanda ini telah terjadi di dunia.
- Ibnu Abbas (dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Al-Bukhari dan Ibn Katsir) berpendapat bahwa sebagian tanda seperti ad-dukhan dan al-lizam bisa merujuk pada peristiwa akhir zaman.
- Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menguatkan pendapat Ibnu Mas'ud bahwa kelima tanda tersebut telah terjadi sebagai azab dunia bagi kaum Quraisy, dan ini adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan konteks ayat dan hadits.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika kaum Quraisy semakin keras mendustakan Nabi ﷺ dan menyakiti para sahabat, Nabi ﷺ berdoa kepada Allah agar menimpakan kelaparan kepada mereka seperti kelaparan yang menimpa kaum Yusuf. Maka Allah menimpakan kelaparan hebat selama beberapa tahun hingga mereka memakan bangkai dan tulang. Karena saking menderitanya, mereka melihat seolah-olah ada asap di antara langit dan bumi. Mereka pun datang kepada Nabi ﷺ memohon agar Allah mengangkat azab itu, dan Nabi ﷺ berdoa, lalu azab itu diangkat. Namun setelah itu mereka kembali kafir, maka Allah menimpakan azab yang lain — termasuk kekalahan di Badar dan azab yang terus-menerus. Kisah ini disebutkan oleh Al-Bukhari dalam kitab tafsirnya dan dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya.
Hikmahnya: Allah Maha Adil dan Maha Penyayang. Azab dunia adalah peringatan agar manusia kembali kepada-Nya, sedangkan azab akhirat adalah balasan final bagi yang tetap menolak kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Percaya pada kebenaran kenabian Muhammad ﷺ — lima tanda yang disebutkan Ibnu Mas'ud adalah bukti nyata bahwa Al-Qur'an dan Nabi ﷺ benar.
- Mengambil pelajaran dari azab dunia — azab yang menimpa kaum Quraisy adalah peringatan bagi kita agar tidak mendustakan kebenaran.
- Bertaubat sebelum terlambat — azab Allah bisa datang kapan saja, maka segeralah kembali kepada-Nya.
- Mempelajari tafsir Al-Qur'an dengan pemahaman salaf — sebagaimana dicontohkan Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan para ulama seperti Ibnu Hajar dan Ibn Katsir.
- Tidak meremehkan dosa dan pendustaan — karena azab bisa berupa kelaparan, kekalahan, atau azab yang terus-menerus.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.