Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan kekuasaan Allah ﷻ yang mutlak. Jika Allah mampu membuat manusia berjalan di atas kedua kakinya di dunia, maka Dia juga Maha Mampu membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat sebagai bentuk penghinaan dan azab bagi orang-orang kafir. Hadits ini juga menegaskan bahwa kebangkitan dan pengumpulan manusia di akhirat adalah perkara yang pasti dan mudah bagi Allah, serta menguatkan keimanan kita kepada hari akhir.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sesuai riwayat):
<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ قَتَادَةَ، حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ. أَنَّ رَجُلاً، قَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ " أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ". قَالَ قَتَادَةُ بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا.</p>
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah ﷻ berfirman:
أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas wajahnya itu lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?" (QS. Al-Mulk [67]: 22)
Ayat ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam bab yang sama sebagai penguat makna hadits di atas. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa orang kafir digambarkan berjalan terjungkal di atas wajahnya, yaitu dalam keadaan tersungkur, tidak melihat arah, sebagai gambaran kesesatan dan azab mereka, berbeda dengan orang mukmin yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus (Islam).
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang bagaimana orang kafir dikumpulkan (dihasyr) di atas wajah mereka pada hari kiamat. Pertanyaan ini muncul karena hal tersebut terasa mustahil atau sulit bagi akal manusia. Maka Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat dalam dan logis: "Tidakkah Allah yang membuatnya berjalan di atas kedua kakinya di dunia ini, mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?"
Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ ini adalah bantahan terhadap orang yang mengingkari kemampuan Allah untuk melakukan hal tersebut. Jika Allah mampu menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, lalu memberinya kemampuan berjalan di atas dua kaki yang merupakan hal yang luar biasa, maka menghimpunnya di atas wajah adalah perkara yang jauh lebih mudah bagi-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menyebutkan bahwa hadits ini termasuk dalil tentang penetapan sifat qudrah (kekuasaan) Allah yang mutlak, dan bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki tanpa ada yang dapat menghalangi-Nya. Ini juga bantahan terhadap golongan yang menakwilkan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang perkara akhirat secara berlebihan hingga keluar dari makna zhahirnya.
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim saat menafsirkan QS. Al-Isra' ayat 97 yang berbunyi:
وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا ۖ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ
"Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di atas wajah mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam."
Beliau menjelaskan bahwa Allah menghimpun orang-orang kafir di atas wajah mereka sebagai bentuk penghinaan dan azab, dan ini adalah perkara yang mudah bagi Allah. Beliau juga menukil perkataan Qatadah yang menjadi perawi hadits ini, bahwa Qatadah berkata: "Ya, demi kemuliaan Tuhan kami, Allah mampu melakukan hal itu." Ini menunjukkan bahwa para sahabat dan tabi'in menerima berita tentang perkara ghaib ini dengan penuh keimanan dan ketundukan, tanpa mempertanyakan bagaimana caranya.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa hadits ini termasuk dalil bahwa manusia akan dibangkitkan dalam keadaan fisik yang sama seperti di dunia, dan Allah mampu mengubah keadaan mereka sesuai kehendak-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Qatadah bin Di'amah As-Sadusi — seorang tabi'in yang sangat alim dan ahli tafsir — mendengar hadits ini, beliau langsung mengucapkan: "Bala, wa 'izzati Rabbina" (Ya, demi kemuliaan Tuhan kami). Ucapan ini menunjukkan keyakinan yang mantap tanpa keraguan sedikit pun.
Ini mengajarkan kita adab seorang muslim dalam menerima berita tentang perkara ghaib. Kita tidak perlu mempertanyakan bagaimana caranya, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang penting adalah kita membenarkan dan mengimani apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, karena beliau tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya, melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada hari akhir — Kita wajib mengimani semua berita yang disampaikan Nabi ﷺ tentang hari kiamat, termasuk cara pengumpulan manusia, tanpa mempertanyakan bagaimana caranya.
- Merenungkan kekuasaan Allah — Jika Allah mampu menciptakan manusia dan memberinya kemampuan berjalan di atas dua kaki, maka semua perkara akhirat adalah mudah bagi-Nya.
- Menjauhi sikap mendebat perkara ghaib — Kita tidak boleh menolak atau meragukan berita-berita ghaib hanya karena akal kita tidak mampu menjangkaunya.
- Meneladani sikap Qatadah — Ucapan beliau "Bala, wa 'izzati Rabbina" menunjukkan ketundukan dan pembenaran yang penuh terhadap berita Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.