Penjelasan Hadits Bukhari No. 4742 tentang Iman lemah karena mengaitkan ibadah dengan kepentingan duniawi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tafsir Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma terhadap firman Allah dalam QS. Al-Hajj [22]: 11 tentang orang yang menyembah Allah 'ala harf — yaitu di atas tepi/ujung, tidak mantap di dalam hati. Mereka beribadah dengan syarat: jika mendapat kebaikan (harta, anak, kesehatan), mereka senang dan bertahan; tetapi jika mendapat cobaan atau tidak segera mendapat apa yang diinginkan, mereka kecewa, marah, bahkan bisa berpaling dari agama. Ini adalah gambaran iman yang lemah dan bergantung pada kondisi dunia, bukan iman yang kokoh dan tulus karena Allah semata.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ ۚ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

"Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak mantap). Maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu; dan jika ia ditimpa suatu cobaan, berbaliklah ia ke belakang (murtad). Ia rugi di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (QS. Al-Hajj [22]: 11)

2. Hadits yang sedang dibahas:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "Wa minan nasi man ya'budullaha 'ala harf", no. 4742, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

3. Kaitan dengan ulama:

Penjelasan Ibnu Abbas ini dinukil oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya. Makna ini juga diperkuat oleh penafsiran para ulama besar seperti Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, dan Imam Al-Qurthubi (meski tidak dalam daftar, namun penafsiran ini sejalan dengan ulama yang ada). Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan orang-orang badui yang baru masuk Islam dengan iman yang lemah, mereka beribadah seperti orang yang berdiri di tepi barisan — jika mendapat keuntungan, mereka bertahan; jika tidak, mereka pergi.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa makna "عَلَىٰ حَرْفٍ" (di atas tepi) adalah keadaan seseorang yang berada di tepi/ujung sesuatu, tidak berada di tengah yang kokoh. Ini adalah kiasan bagi orang yang masuk Islam dengan keraguan dan tanpa keyakinan yang mantap di dalam hatinya.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma memberikan contoh konkret: ada orang yang datang ke Madinah untuk memeluk Islam. Jika istrinya melahirkan anak laki-laki dan kudanya beranak, dia berkata, "Agama ini baik." Tetapi jika tidak terjadi demikian, dia berkata, "Agama ini buruk." Artinya, keislaman orang ini digantungkan pada hal-hal duniawi. Jika dunia berpihak padanya, dia senang dengan Islam; jika tidak, dia kecewa dan bahkan bisa meninggalkan Islam.

Syaikh As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang beribadah di atas tepi ini ada dua keadaan:

  1. Jika mendapat kebaikan berupa kesehatan, kelapangan rezeki, dan keberhasilan urusan dunia, hatinya menjadi tenang dan bertahan dalam ibadah.
  2. Jika ditimpa cobaan berupa kesulitan, kehilangan harta, atau musibah, dia berbalik murtad dari Islam.

Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sebagian orang Arab badui yang baru masuk Islam dengan iman yang dangkal. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ bukan karena keikhlasan, tetapi karena ingin mendapatkan keuntungan dunia. Jika Islam memberi mereka keuntungan, mereka merasa puas; jika tidak, mereka meninggalkannya.

Para ulama juga menegaskan bahwa sifat ini sangat tercela, karena ibadah seharusnya dilakukan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena mengharap keuntungan dunia. Iman yang benar adalah iman yang kokoh, yang tidak goyah oleh perubahan keadaan dunia. Sebagaimana firman Allah tentang orang-orang mukmin sejati:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat [49]: 15)

Perbedaan kondisi iman: Ada iman yang kokoh seperti pohon yang berakar kuat, tidak goyah oleh angin. Ada juga iman yang lemah seperti rumput di tepi jurang, mudah tercabut oleh angin kencang. Ayat ini menggambarkan jenis yang kedua.

Story Telling

Diriwayatkan dari Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata tentang ayat ini: "Dulu ada seseorang yang masuk Islam, lalu jika ia ditimpa kebaikan, ia merasa tenang; dan jika ia ditimpa cobaan, ia berbalik murtad. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai peringatan." (Disebutkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, dan maknanya dikuatkan oleh Ibnu Katsir).

Kisah ini menunjukkan bahwa sifat ini sudah ada sejak zaman dahulu dan Allah mengingatkannya agar kita tidak meniru perilaku tersebut. Kita diajarkan untuk beribadah dengan tulus, bukan dengan syarat-syarat duniawi.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dalam beribadah — Ibadah kita harus murni karena Allah, bukan karena mengharap keuntungan dunia.
  2. Tetap istiqamah dalam ujian — Jika ditimpa musibah atau kesulitan, jangan berpaling dari agama. Justru saat itulah iman kita diuji.
  3. Jangan menggantungkan keislaman pada dunia — Kebaikan dunia adalah ujian, bukan syarat untuk beriman.
  4. Perbanyak doa agar iman kokoh — Mintalah kepada Allah keteguhan hati sebagaimana doa Nabi ﷺ: "Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) — HR. At-Tirmidzi dari Ummu Salamah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?