Penjelasan Hadits Bukhari No. 4732 tentang Penolakan kafir dan bantahan orang yang mengingkari kebangkitan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan Khabbab bin al-Arat yang menagih utang kepada Al-‘Ashi bin Wail, lalu ia menantang Khabbab agar kafir kepada Nabi ﷺ. Karena Khabbab menolak dan menyebut kebangkitan setelah mati, Al-‘Ashi malah mencemooh dan mengklaim akan diberi harta dan anak di akhirat. Maka Allah menurunkan ayat yang mencela klaim dusta itu. Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai jawaban atas kejadian nyata, dan bahwa kesombongan serta kedustaan terhadap hari kebangkitan adalah sebab kemurkaan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat yang turun berkenaan peristiwa ini:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ

QS. Maryam [19]: 41

"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini."

Adapun ayat yang disebutkan dalam hadits (potongan yang relevan):

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا

QS. Maryam [19]: 77

"Maka apakah engkau (Muhammad) melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan, 'Pasti aku akan diberi harta dan anak.'"

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari jalur Al-Humaidi dari Sufyan (bin 'Uyainah) dari Al-A'masy dari Abu ad-Duha dari Masruq dari Khabbab bin al-Arat. Al-Bukhari juga menyebut bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ats-Tsauri, Syu'bah, Hafsh, Abu Mu'awiyah, dan Waki' dari Al-A'masy — semuanya dari ulama yang termasuk dalam daftar rujukan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-‘Ashi bin Wail, dan bahwa Khabbab bin al-Arat adalah sahabat yang dikenal sebagai salah satu orang yang disiksa di awal Islam namun tetap teguh. Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menyebutkan riwayat ini dan menegaskan bahwa ayat tersebut merupakan bantahan Allah terhadap orang yang mengklaim akan mendapat nikmat di akhirat padahal ia kafir.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Al-Qur'an turun sebagai jawaban atas realitas. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bahwa sebagian ayat Al-Qur'an turun sebagai respons langsung terhadap kejadian tertentu (asbab an-nuzul). Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an bukanlah karangan manusia, melainkan wahyu Allah yang mengetahui segala perkara.

Kedua: Kedustaan Al-‘Ashi bin Wail. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-‘Ashi bin Wail bukanlah orang yang beriman kepada hari kebangkitan. Ia menyebut kebangkitan hanya untuk mencemooh dan menantang. Klaimnya bahwa ia akan diberi harta dan anak di akhirat adalah kedustaan yang lahir dari kesombongan, bukan dari keyakinan. Allah membantahnya dalam QS. Maryam [19]: 78-80, yang maknanya: apakah ia mengetahui yang gaib, ataukah ia mengambil perjanjian dari Allah? Tidak, Kami akan mencatat apa yang ia katakan dan Kami akan menambah azabnya, dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami seorang diri.

Ketiga: Keteguhan Khabbab bin al-Arat. Khabbab radhiyallahu 'anhu menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Ia tidak mau menukar imannya dengan harta, bahkan ketika ditantang secara kasar. Ini sejalan dengan penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim bahwa seorang mukmin harus teguh dalam iman meskipun dihadapkan pada tekanan atau godaan dunia.

Keempat: Bahaya ghuluw dan kesombongan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa kesombongan adalah pintu masuk kekufuran. Al-‘Ashi bin Wail sombong terhadap kebenaran, sehingga ia berani mengklaim sesuatu yang tidak ia ketahui tentang akhirat. Ini mengingatkan kita bahwa berbicara tentang perkara gaib tanpa ilmu adalah perbuatan tercela.

Kelima: Perbedaan pendapat ulama tentang siapa yang dimaksud dalam ayat. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-‘Ashi bin Wail, sebagian menyebutkan tentang Al-Walid bin al-Mughirah, dan sebagian lagi tentang Ubay bin Khalaf. Namun Ibnu Hajar menegaskan bahwa riwayat yang paling kuat adalah yang menyebutkan Al-‘Ashi bin Wail, sebagaimana dalam hadits ini. Ibnu Katsir juga menguatkan pendapat ini. Perbedaan ini adalah perbedaan dalam penentuan sebab turunnya ayat, bukan perbedaan dalam makna ayat itu sendiri.

Keenam: Pelajaran tentang menagih utang. Hadits ini juga menunjukkan bahwa menagih utang adalah perkara yang dibolehkan dalam syariat. Khabbab datang untuk menagih haknya. Ini sejalan dengan penjelasan Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal bahwa menagih utang adalah hak orang yang berpiutang, selama dilakukan dengan cara yang baik.

Story Telling

Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang masuk Islam di masa awal. Ia termasuk orang yang disiksa dengan keras oleh kaum Quraisy, namun ia tetap teguh. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia pernah disiksa dengan besi panas yang diletakkan di punggungnya hingga tidak ada daging yang tersisa, namun ia tidak pernah meninggalkan Islam.

Suatu hari, Khabbab datang kepada Al-‘Ashi bin Wail As-Sahmi, seorang tokoh Quraisy yang kaya dan sombong, untuk menagih utang. Al-‘Ashi bukan hanya menolak membayar, tetapi juga menantang iman Khabbab. Ia berkata, "Aku tidak akan memberimu sampai kamu kafir kepada Muhammad." Khabbab dengan tenang menjawab, "Tidak, aku tidak akan kafir kepada Muhammad sampai kamu mati dan kemudian dibangkitkan."

Al-‘Ashi yang tidak percaya hari kebangkitan malah mencemooh, "Apakah aku akan mati dan dibangkitkan?" Khabbab menjawab, "Ya." Al-‘Ashi lalu berkata dengan sombong, "Kalau begitu, aku akan memiliki harta dan anak di sana, dan aku akan membayarmu di sana."

Maka Allah menurunkan ayat yang mencela klaim dusta itu. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini menjadi pelajaran bagi siapa saja yang berani berbicara tentang akhirat tanpa ilmu dan tanpa iman. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Khabbab, meskipun seorang yang lemah secara sosial dan ekonomi, memiliki kekuatan iman yang mengalahkan kesombongan seorang tokoh Quraisy yang kaya.

Kesimpulan Praktis

  1. Teguh dalam iman — jangan pernah menukar iman dengan harta atau jabatan, sebagaimana Khabbab bin al-Arat.
  2. Jangan berbicara tentang akhirat tanpa ilmu — Al-‘Ashi bin Wail mengklaim sesuatu yang tidak ia ketahui, dan Allah membantahnya.
  3. Menagih utang adalah hak — lakukan dengan cara yang baik, dan jangan mencampuradukkan urusan dunia dengan iman.
  4. Al-Qur'an adalah wahyu — turunnya ayat ini sebagai jawaban atas peristiwa nyata menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah.
  5. Hindari kesombongan — kesombongan terhadap kebenaran adalah pintu kekufuran, sebagaimana dijelaskan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?