Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4731 tentang Bab ketika Musa berkata kepada pembantunya, 'Aku tidak akan berhenti sampai aku mencapai pertemuan dua lautan atau aku berjalan bertahun-tahun.'

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepada Jibril mengapa ia tidak sering berkunjung. Lalu turunlah ayat QS Maryam [19]: 64 yang menjelaskan bahwa para malaikat tidak turun ke bumi kecuali atas perintah Allah semata. Ini menunjukkan sifat tawadhu’ (rendah hati) Nabi ﷺ dan ketaatan mutlak para malaikat kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an terkait:

QS. Maryam [19]: 64

Teks Arab (dengan harakat lengkap):

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

Terjemahan:

“Dan tidaklah kami (para malaikat) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Milik-Nyalah apa yang ada di hadapan kami, apa yang ada di belakang kami, dan apa yang ada di antara keduanya. Dan tidaklah Tuhanmu lupa.”

Hadits:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepada Jibril, “Apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami lebih sering daripada yang kau lakukan sekarang?” Maka turunlah ayat tersebut. (HR. al-Bukhari no. 4731, Kitab Tafsir, Bab QS Maryam)

Rujukan ulama:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (8/310) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kerinduan Nabi ﷺ kepada Jibril dan sekaligus menjadi sebab turunnya ayat yang menegaskan bahwa tugas malaikat tidaklah bebas, melainkan terikat dengan perintah Allah.
  • Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (3/197) menafsirkan ayat ini dengan berkata, “Ayat ini adalah kabar dari Allah bahwa para malaikat tidak turun kecuali atas perintah-Nya, dan mereka tidak memiliki wewenang untuk memilih waktu turun. Ini adalah bentuk pengagungan terhadap perintah Allah.”

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu bukti kemuliaan akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak segan bertanya langsung kepada Jibril tentang sebab ia jarang datang. Ini adalah bentuk tawadhu’ dan rasa cinta beliau kepada malaikat pembawa wahyu.

Ayat yang turun sebagai jawaban menegaskan beberapa poin penting:

  1. Malaikat tidak memiliki kehendak sendiri – mereka adalah makhluk yang senantiasa taat dan tidak pernah mendahului perintah Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam QS at-Tahrim [66]: 6, bahwa malaikat selalu melaksanakan apa yang diperintahkan.
  2. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu – frasa “lahu ma baina aidina wa ma khalfana” menunjukkan bahwa Allah mengetahui masa lalu, masa depan, dan segala yang terjadi di antara keduanya. Para malaikat hanya melaksanakan sesuai ilmu dan kehendak-Nya.
  3. Allah tidak pernah lupa – ini membantah anggapan bahwa Allah mungkin lupa terhadap hamba-Nya. Justru kunjungan Jibril yang terbatas adalah bagian dari hikmah dan waktu yang telah ditetapkan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (15/147) juga mengutip hadits ini sebagai dalil bahwa Jibril tidak turun setiap hari karena hanya atas perintah Allah. Ini mengajarkan kita untuk tidak berprasangka buruk atau mendesak sesuatu yang belum diizinkan oleh Allah.

Syeikh ‘Abdurrahman as-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (hlm. 497) menafsirkan ayat ini dengan berkata, “Ayat ini mengandung penetapan rububiyah Allah, bahwa segala urusan kembali kepada-Nya. Malaikat adalah hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan.”

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi ﷺ merindukan kedatangan Jibril. Beliau kemudian bertanya, “Wahai Jibril, apa yang menghalangimu untuk mengunjungi kami lebih sering?” Jibril pun menjawab dengan ayat yang baru diturunkan. Peristiwa ini menunjukkan betapa dekat hubungan Nabi ﷺ dengan malaikat, namun tetap dalam batas ketundukan kepada Allah. Kisah ini mengingatkan kita bahwa bahkan makhluk paling mulia sekalipun tidak memiliki kebebasan mutlak; semuanya tunduk pada kehendak Allah.

Kesimpulan Praktis

  • Hendaknya kita merindukan ketaatan dan kedekatan dengan malaikat melalui amalan yang dicintai Allah, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan menjaga shalat.
  • Jangan memaksakan kehendak dalam urusan dunia maupun akhirat, karena segala sesuatu terjadi atas izin Allah dan pada waktu yang tepat.
  • Belajarlah tawadhu’ dari Nabi ﷺ yang dengan lembut bertanya kepada Jibril, bukan dengan celaan atau kemarahan.
  • Yakinlah bahwa Allah tidak pernah lupa terhadap hamba-Nya; keterlambatan, ujian, atau bahkan doa yang belum terkabul adalah bagian dari hikmah-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.