Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu tentang makna lafazh "أَمَرْنَا" dalam firman Allah ﷻ pada QS. Al-Isra' [17]: 16. Beliau menjelaskan bahwa di masa jahiliyah, orang Arab biasa mengatakan "أَمِرَ بَنُو فُلانٍ" (artinya: perkara anak-anak si fulan telah menjadi besar/banyak) untuk menunjukkan bahwa jumlah dan kekuatan suatu suku telah bertambah banyak. Ini adalah salah satu tafsir makna ayat tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab tafsirnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Isra' [17]: 16:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
"Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."
Hadits yang ditanyakan:
Hadits dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman-Nya: "إِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا" (HR. Al-Bukhari no. 4711).
Kaitan dengan ulama:
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab tafsirnya untuk menjelaskan makna lafazh "أَمَرْنَا" dalam ayat tersebut. Ini menunjukkan perhatian para ulama dalam memahami kosa kata Al-Qur'an berdasarkan pemahaman sahabat dan bahasa Arab.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan lafazh "أَمَرْنَا" pada ayat ini. Ada dua bacaan yang masyhur:
Pertama: Dibaca dengan takhfif (tanpa tasydid) yaitu "أَمَرْنَا" (amarna) yang artinya "Kami perintahkan." Ini adalah bacaan yang masyhur dan menjadi pegangan mayoritas qurra'. Maknanya: Apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (pemimpin-pemimpin mereka) untuk mentaati Allah, tetapi mereka justru berbuat maksiat dan kedurhakaan, maka berlakulah hukuman atas mereka.
Kedua: Dibaca dengan tasydid yaitu "أَمَّرْنَا" (ammarna) yang artinya "Kami jadikan pemimpin." Ini adalah bacaan dari sebagian ulama seperti Mujahid dan lainnya. Maknanya: Kami jadikan orang-orang yang hidup mewah itu sebagai pemimpin-pemimpin, lalu mereka berbuat maksiat, maka binasalah negeri tersebut.
Hadits Abdullah bin Mas'ud ini menjelaskan bahwa di kalangan orang Arab jahiliyah, mereka menggunakan kata "أَمِرَ" (dengan kasrah pada mim) untuk makna "banyak dan besar jumlahnya." Sehingga sebagian ulama memahami bahwa makna "أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا" adalah "Kami perintahkan mereka" atau "Kami besarkan/jadikan mereka banyak."
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma membaca "أَمَرْنَا" dengan tasydid (أَمَّرْنَا), dan beliau menafsirkannya: "Kami jadikan pemimpin-pemimpinnya orang-orang yang jahat, maka mereka berbuat maksiat di dalamnya." Kemudian Ibnu Katsir menguatkan bahwa bacaan yang masyhur adalah dengan takhfif (أَمَرْنَا) yang bermakna "Kami perintahkan mereka dengan ketaatan, tetapi mereka melanggarnya."
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah: Apabila Allah hendak membinasakan suatu negeri karena kezaliman penduduknya, maka Allah memerintahkan para pembesarnya untuk taat, tetapi mereka menolak dan justru berbuat kerusakan. Maka ketika itu, hukuman Allah menjadi pasti atas mereka.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling memahami Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ bersabda: "Ambillah Al-Qur'an dari empat orang: dari Ibnu Mas'ud, Salim, Mu'adz, dan Ubay bin Ka'ab." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Suatu ketika, para sahabat berbicara tentang kebiasaan orang Arab jahiliyah dalam berbahasa. Ibnu Mas'ud kemudian menjelaskan bahwa di masa jahiliyah, apabila suatu suku menjadi besar dan kuat, mereka berkata: "أَمِرَ بَنُو فُلانٍ" — artinya urusan anak-anak si fulan telah menjadi besar dan banyak. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat memperhatikan bahasa Arab dan bagaimana Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa tersebut.
Hikmah dari kisah ini: Para sahabat sangat teliti dalam memahami setiap lafazh Al-Qur'an. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami makna dan konteks bahasa Arabnya. Inilah yang menjadikan pemahaman mereka paling benar dan paling dalam.
Kesimpulan Praktis
- Memahami Al-Qur'an memerlukan ilmu bahasa Arab — karena Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa Arab, maka memahami kosa katanya adalah kunci utama.
- Perhatikan konteks dan sebab turun ayat — pemahaman sahabat terhadap ayat-ayat Al-Qur'an adalah rujukan utama kita setelah Al-Qur'an dan hadits shahih.
- Ayat ini mengingatkan kita tentang akibat maksiat — apabila suatu negeri dipenuhi kemaksiatan dan para pemimpinnya justru berbuat kerusakan, maka kehancuran akan datang.
- Bertaubatlah sebelum datang azab — Allah Maha Penyantun, Dia memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk bertaubat sebelum hukuman diturunkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.