Penjelasan Hadits Bukhari No. 4700 tentang Kekufuran penduduk Mekah yang mengganti nikmat Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tafsir ayat QS. Ibrahim [14]: 28, bahwa yang dimaksud "orang-orang yang mengganti nikmat Allah dengan kekufuran" adalah orang-orang kafir penduduk Mekah. Mereka telah diberi nikmat yang besar berupa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ di tengah mereka, kehormatan sebagai penjaga Ka'bah, dan rezeki yang melimpah, namun mereka justru mendustakan dan memerangi beliau. Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan ayat ini secara tegas melalui riwayat yang shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Ibrahim [14]: 28:

وَقَدْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أَنْتُمْ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

Catatan: teks di atas adalah QS. An-Nisa [4]: 51, bukan yang dimaksud. Berikut ayat yang benar sesuai hadits:

QS. Ibrahim [14]: 28:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَةَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ

Terjemahan: "Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekufuran, dan mereka menempatkan kaumnya di negeri kebinasaan?"

Hadits terkait — Shahih Al-Bukhari no. 4700:

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma melalui jalur 'Amr bin Dinar dari 'Atha' bin Abi Rabah, bahwa beliau menafsirkan ayat ini: "Mereka adalah orang-orang kafir dari penduduk Mekah."

Kaitan ulama:

  • Ibn Abbas (sahabat, mufassir utama) — penafsir langsung dalam hadits ini.
  • Atha' bin Abi Rabah (Tabi'in, perawi hadits ini) — termasuk ulama daftar.
  • Imam Al-Bukhari — meriwayatkan dalam Kitab Tafsir.
  • Ibn Katsir — dalam tafsirnya memperkuat pendapat Ibn Abbas ini.
  • Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani — menjelaskan keutamaan tafsir sahabat.

Penjelasan Rinci

Makna umum ayat dan hadits:

Ayat ini merupakan teguran Allah kepada orang-orang yang telah menerima nikmat besar, namun membalasnya dengan kekufuran. Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma — yang dikenal sebagai Tarjumanul Qur'an (juru bicara Al-Qur'an) — menafsirkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir Quraisy penduduk Mekah.

Nikmat apa yang mereka ganti dengan kekufuran?

Para ulama tafsir dari daftar menjelaskan beberapa bentuk nikmat tersebut:

  1. Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dari kalangan mereka — sebuah kehormatan besar yang seharusnya membuat mereka beriman.
  2. Penjagaan Ka'bah dan kehormatan tanah haram — Allah memberi mereka kedudukan mulia di antara bangsa Arab.
  3. Rezeki yang melimpah — sebagaimana disebut dalam QS. Quraisy tentang perjalanan dagang yang aman.
  4. Diturunkannya Al-Qur'an dalam bahasa mereka — agar mudah mereka pahami.

Namun mereka justru mendustakan, menyiksa, dan memerangi Nabi ﷺ serta para sahabat.

Penjelasan Ibn Katsir rahimahullah:

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menyebutkan bahwa ayat ini mencela orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Beliau mengutip pendapat Ibn Abbas dan menegaskan bahwa nikmat terbesar adalah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, dan siapa yang menolaknya maka ia telah menukar nikmat dengan kekufuran.

Penjelasan Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah:

Beliau menjelaskan bahwa tabdil (mengganti/menukar) di sini bermakna menempatkan sesuatu di posisi yang bukan tempatnya. Mereka seharusnya bersyukur, tetapi malah kufur; seharusnya taat, tetapi malah menentang.

Peringatan penting:

Ayat ini bukan hanya tentang kaum Quraisy dahulu, tetapi menjadi pelajaran bagi setiap muslim. Siapa pun yang diberi nikmat oleh Allah — kesehatan, harta, ilmu, keluarga — lalu menggunakannya untuk bermaksiat, maka ia sedang meniru jalan orang-orang kafir Mekah dalam bentuk yang lebih halus.

Perbedaan pendapat ulama:

Sebagian mufassir menyebutkan bahwa ayat ini juga mencakup Ahli Kitab yang mengubah isi kitab mereka. Namun pendapat Ibn Abbas yang disebutkan dalam hadits ini adalah yang paling kuat dan shahih, karena beliau adalah sahabat yang menyaksikan langsung konteks turunnya ayat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ berdakwah di Mekah, kaum Quraisy menikmati segala kemuliaan yang Allah berikan: mereka penjaga Ka'bah, dihormati seluruh jazirah Arab, dan makmur dalam perdagangan. Namun ketika Nabi ﷺ datang membawa tauhid, mereka justru menolak, bahkan menyusun rencana membunuh beliau.

Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma — yang lahir setelah hijrah dan tumbuh sebagai murid utama para sahabat — merenungkan ayat ini dan menyimpulkan dengan tegas: "Mereka adalah orang-orang kafir dari penduduk Mekah." Beliau memahami bahwa kekufuran mereka bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kesombongan menolak kebenaran setelah nikmat datang kepada mereka.

Hikmahnya: nikmat yang tidak disyukuri bisa berubah menjadi sumber kebinasaan, sebagaimana lanjutan ayat: "dan mereka menempatkan kaumnya di negeri kebinasaan."

Kesimpulan Praktis

  1. Syukuri setiap nikmat — terutama nikmat iman, Islam, dan Al-Qur'an.
  2. Jangan gunakan nikmat untuk maksiat — harta, jabatan, dan kesehatan adalah amanah.
  3. Pelajari tafsir dari sahabat — seperti Ibn Abbas, karena mereka paling memahami konteks ayat.
  4. Waspadai kesombongan — penolakan terhadap kebenaran sering berakar dari kesombongan, bukan ketidaktahuan.
  5. Renungkan lanjutan ayat — bahwa kekufuran atas nikmat membawa kepada darul bawar (negeri kebinasaan).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?