Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah bagian dari riwayat panjang tentang kisah para Rasul `alaihimus salam` yang diuji oleh Allah dengan penundaan pertolongan. Inti pembahasan dalam riwayat ini adalah bacaan (qira'at) pada firman Allah dalam QS. Yusuf [12]: 110, yaitu apakah lafaznya كُذِّبُوا (dengan tasydid, artinya "mereka (para rasul) didustakan") atau كُذِبُوا (dengan tafkhim/tanpa tasydid, artinya "mereka (para rasul) dikira telah berdusta/ingkar janji"). 'Urwah bin Az-Zubair bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang bacaan yang benar, dan 'Aisyah menegaskan bahwa bacaan yang benar adalah dengan tasydid, yaitu كُذِّبُوا (mereka didustakan oleh kaumnya), dan beliau menolak bacaan tanpa tasydid.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah Ta'ala:
حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ
"Sehingga apabila para rasul merasa putus asa dan mereka (para pengikutnya) mengira bahwa para rasul itu telah didustakan, datanglah pertolongan Kami kepada mereka, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang-orang yang berdosa." (QS. Yusuf [12]: 110)
Hadits Riwayat:
Hadits yang dimaksud adalah bagian dari riwayat panjang yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "Perkataan-Nya: Hingga ketika para Rasul telah putus asa", no. 4696. Dalam riwayat ini, Az-Zuhri berkata bahwa 'Urwah bin Az-Zubair bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang bacaan ayat tersebut. 'Urwah berkata, "Mungkin bacaan yang benar adalah كُذِبُوا (tanpa tasydid, artinya mereka dikira telah berdusta)." Maka 'Aisyah menjawab, "Ma'adzallah (Allah melarang/melindungi dari hal itu)," lalu beliau menjelaskan bahwa bacaan yang benar adalah كُذِّبُوا (dengan tasydid).
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) memuat riwayat ini dalam Shahih-nya sebagai dalil tentang pentingnya memahami qira'at yang benar dalam tafsir Al-Qur'an.
- Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa mayoritas ulama qira'at membaca كُذِّبُوا dengan tasydid, dan ini adalah bacaan yang benar menurut para ulama salaf.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menafsirkan ayat ini dengan menjelaskan bahwa para rasul merasa putus asa karena pertolongan Allah belum datang, dan mereka yakin bahwa kaum mereka telah mendustakan mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan betapa telitinya para sahabat dan tabi'in dalam menjaga lafaz Al-Qur'an. Perbedaan satu huruf atau harakat saja bisa mengubah makna, dan mereka sangat berhati-hati dalam hal ini.
Makna bacaan yang benar:
- Bacaan dengan tasydid: كُذِّبُوا (kudzdzibu) — artinya "mereka (para rasul) didustakan oleh kaumnya." Ini adalah bacaan yang dipilih oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan ini pula yang dipegang oleh jumhur (mayoritas) ulama. Maknanya: ketika para rasul telah putus asa karena kaum mereka tidak kunjung beriman, dan mereka yakin bahwa kaum mereka telah mendustakan mereka, maka datanglah pertolongan Allah.
- Bacaan tanpa tasydid: كُذِبُوا (kudzibu) — artinya "mereka (para rasul) dikira telah berdusta" atau "mereka dikira telah mengingkari janji." Ini adalah bacaan yang sempat diragukan oleh 'Urwah, namun ditolak oleh 'Aisyah.
Mengapa 'Aisyah menolak bacaan tanpa tasydid?
Karena bacaan tanpa tasydid mengandung makna yang tidak pantas disandarkan kepada para rasul, yaitu seolah-olah para rasul dikira telah berdusta tentang janji Allah. Padahal para rasul adalah orang-orang yang maksum (terjaga) dari dusta. Yang benar adalah mereka didustakan oleh kaumnya, bukan mereka yang berdusta.
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil perkataan para ulama bahwa makna ayat ini adalah: para rasul merasa putus asa terhadap kaum mereka yang tidak kunjung beriman, dan mereka yakin bahwa kaum mereka telah mendustakan mereka. Maka datanglah pertolongan Allah di saat yang paling sulit.
- Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran besar tentang kesabaran para rasul dalam berdakwah, dan bahwa pertolongan Allah datang setelah ujian yang panjang. Beliau juga menegaskan bahwa keyakinan para rasul kepada Allah tidak pernah goyah, namun yang mereka rasakan hanyalah kesedihan karena kaum mereka tidak beriman.
Pelajaran dari hadits ini:
- Pentingnya menjaga lafaz Al-Qur'an dari kesalahan, sekecil apa pun.
- Para sahabat dan tabi'in sangat teliti dalam memahami Al-Qur'an, bahkan sampai pada tingkat harakat.
- Bacaan Al-Qur'an harus sesuai dengan yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ, bukan sekadar akal atau logika.
- Kisah para rasul mengajarkan kita tentang kesabaran dan keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika 'Urwah bin Az-Zubair — seorang tabi'in yang mulia dan keponakan 'Aisyah radhiyallahu 'anha — ragu tentang bacaan ayat ini, beliau langsung bertanya kepada 'Aisyah. Ini menunjukkan adab para salaf: ketika ragu tentang sesuatu dalam agama, mereka tidak mendiamkan atau berpendapat sendiri, melainkan bertanya kepada yang lebih berilmu.
'Aisyah radhiyallahu 'anha, yang dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling paham tentang Al-Qur'an dan hadits, menjawab dengan tegas: "Ma'adzallah!" — Allah melindungi dari pemahaman yang keliru. Beliau menjelaskan bahwa para rasul tidak pernah dikira berdusta, tetapi merekalah yang didustakan oleh kaumnya.
Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak mudah berpendapat tentang Al-Qur'an tanpa ilmu, dan untuk selalu merujuk kepada para ulama yang memahami bahasa Arab dan ilmu qira'at dengan benar.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lafaz Al-Qur'an — Bacalah Al-Qur'an dengan tajwid dan harakat yang benar, sesuai dengan yang diajarkan oleh para ulama qira'at.
- Rujuklah kepada ulama — Ketika ada keraguan dalam memahami ayat atau hadits, jangan berpendapat sendiri, tetapi bertanyalah kepada ulama yang terpercaya.
- Ambil pelajaran dari kisah para rasul — Kesabaran dalam berdakwah dan keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang adalah kunci keberhasilan.
- Jauhi sikap tergesa-gesa — Dalam memahami Al-Qur'an, kita harus teliti dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.