Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan sebab turunnya firman Allah dalam QS. Hud ayat 5. Sejumlah orang pada masa awal Islam merasa malu jika buang hajat atau berhubungan suami istri di tempat terbuka, khawatir dilihat oleh langit (malaikat atau makhluk di atas). Mereka mengira dengan menutup diri secara fisik mereka bisa tersembunyi dari Allah. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menegaskan bahwa Dia mengetahui segala yang mereka rahasiakan maupun yang mereka tampakkan, bahkan apa yang terlintas dalam hati sekalipun. Ini menjadi pelajaran bahwa rasa malu yang baik tidak boleh membuat seseorang lupa akan pengawasan Allah yang Maha Melihat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an:
QS. Hud [11]: 5
أَلَا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ ۚ أَلَا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya mereka melipatkan dada mereka untuk bersembunyi dari-Nya. Ingatlah, ketika mereka menyelimuti diri dengan pakaiannya, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Hadits:
Shahih al-Bukhari, Kitab Tafsir, Bab “أَلاَ إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ…” no. 4681. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
> “Sejumlah orang biasa menyembunyikan diri saat menjawab panggilan alam di tempat terbuka agar tidak terlihat oleh langit, dan juga ketika mereka berhubungan seksual dengan istri mereka di tempat terbuka agar tidak terlihat oleh langit, maka wahyu di atas diturunkan mengenai mereka.”
Penjelasan Ulama dari Daftar:
- Ibnu Katsir (dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan juga dari Mujāhid (tabi’in) bahwa makna “يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ” adalah mereka memiringkan dan melipat dada mereka karena merasa malu kepada manusia, bukan karena takut kepada Allah. Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini mencakup semua orang yang menyembunyikan kekafiran atau kemunafikan dengan mengira Allah tidak mengetahuinya.
- Qatādah (tabi’in) menafsirkan: “Mereka mengira bahwa Allah tidak melihat apa yang mereka sembunyikan, padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan.”
- Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim juga disebutkan bahwa al-Hasan al-Bashri (tabi’in) berkata: “Ayat ini turun tentang orang-orang yang berbuat maksiat di tempat tersembunyi, lalu mereka menutup diri dengan pakaian, merasa aman dari pengetahuan Allah, padahal Allah melihat mereka.”
Penjelasan Rinci
Ayat ini mengungkapkan tabiat manusia yang suka menyembunyikan perbuatan buruknya. Secara lafal, “يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ” berarti mereka melipat atau memiringkan dada. Maksudnya adalah memalingkan hati dari menerima kebenaran, atau secara fisik membungkukkan badan agar tidak dikenali. Dalam riwayat Ibnu ‘Abbas, ayat ini langsung terkait dengan rasa malu berlebihan terhadap makhluk (langit), sehingga mereka lupa bahwa Allah yang menciptakan langit justru Maha Melihat.
Hadits Bukhari ini menggunakan bacaan “تَثْنَوْنِي صُدُورُهُمْ” (dengan huruf nun tambahan), yang merupakan qirā’ah syādzah (bacaan riwayat) dari Ibnu ‘Abbas. Maknanya tetap sama: “mereka melipat-lipat dada mereka” untuk menghindari pandangan. Bacaan inipun diriwayatkan oleh sebagian ulama qira’at, namun yang mutawatir adalah “يَثْنُونَ” seperti dalam mushaf.
Pelajaran penting dari penjelasan para ulama yang disebut:
- Ibnu Jarir ath-Thabari (tidak dalam daftar, namun kita ambil dari Ibnu Katsir yang menukilnya) – namun kita batasi pada ulama daftar. Ibnu Katsir menekankan bahwa ayat ini turun sebagai bantahan terhadap anggapan orang-orang munafik dan juga orang-orang yang lalai, bahwa Allah tidak mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Padahal Allah Maha Mengetahui isi hati (mā fī aṣ-ṣudūr).
- Imam al-Bukhāri sendiri meletakkan hadits ini dalam kitab Tafsir untuk menunjukkan bahwa memahami sebab nuzul (asbāb an-nuzūl) sangat membantu memahami makna ayat.
Para ulama Ahlus Sunnah, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam) bahwa rasa malu itu terpuji jika malu kepada Allah, bukan hanya malu kepada manusia. Rasa malu dalam hadits ini adalah malu yang salah arah: mereka malu kepada langit (makhluk) tetapi melupakan Allah Sang Pencipta langit.
Story Telling (Opsional)
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās radhiyallahu ‘anhuma bahwa suatu ketika para sahabat di Madinah ada yang membangun tempat pembuangan khusus di dalam rumah, tetapi ada juga yang masih pergi ke tanah lapang. Ada di antara mereka yang merasa sangat malu jika auratnya terlihat oleh langit saat buang hajat atau saat berhubungan suami-istri di tempat terbuka. Mereka lalu melipat badan atau menutup dengan kain agar tidak “dilihat” langit. Sikap ini menunjukkan jiwa yang bersih dan rasa malu, namun ternyata mengandung kekeliruan dalam ma’rifatullah. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk mengingatkan bahwa langit dan seluruh makhluk tunduk di bawah kekuasaan-Nya, dan Allah mengetahui apa yang paling tersembunyi sekalipun.
Kisah ini mengajarkan bahwa akhlak mulia (seperti rasa malu) harus dibarengi dengan ilmu yang benar. Jangan sampai kita merasa cukup dengan menutup diri dari pandangan makhluk, tetapi lalai bahwa Allah melihat hati dan perbuatan kita di mana saja.
Kesimpulan Praktis
- Jangan menganggap Allah lalai – Keyakinan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu harus tertanam dalam hati saat sendirian maupun di tengah keramaian.
- Perbaiki niat – Karena Allah mengetahui isi hati, maka ikhlaslah dalam setiap amal. Jangan hanya menjaga penampilan lahir.
- Rasa malu yang benar – Malu kepada Allah dengan cara menjauhi maksiat baik di tempat sunyi maupun ramai, bukan hanya malu kepada manusia.
- Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman – Ayat ini mengajak kita merenungi sifat Allah Al-‘Alīm (Maha Mengetahui) agar takut berbuat dosa secara sembunyi-sembunyi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.