Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan momen haru ketika Nabi ﷺ menjenguk pamannya, Abu Thalib, yang sedang sakaratul maut. Nabi ﷺ sangat ingin pamannya mengucapkan syahadat agar selamat, namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menghalanginya. Ketika Abu Thalib wafat dalam keadaan musyrik, Nabi ﷺ sempat berniat terus memintakan ampun untuknya. Maka turunlah QS. At-Taubah [9]: 113 yang melarang Nabi ﷺ dan kaum mukminin memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka kerabat dekat, karena telah jelas bahwa mereka mati di atas kekufuran dan menjadi penghuni neraka.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
"Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk meminta ampun bagi orang-orang musyrik, meskipun mereka itu kerabat, setelah jelas bagi mereka bahwa mereka adalah penghuni neraka." (QS. At-Taubah [9]: 113)
2. Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman-Nya: "Tidak pantas bagi Nabi..." (no. 4675), dari jalur Az-Zuhri, dari Sa'id bin Al-Musayyib, dari ayahnya (Al-Musayyib bin Hazn).
3. Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tafsir ayat tersebut, menunjukkan bahwa hadits ini adalah sabab an-nuzul (sebab turunnya) QS. At-Taubah [9]: 113.
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan permintaan ampun Nabi ﷺ untuk pamannya Abu Thalib, dan beliau menukil riwayat ini dari Shahih Al-Bukhari.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan larangan memintakan ampun bagi orang musyrik yang telah mati di atas kekufuran, karena hal itu tidak bermanfaat dan bertentangan dengan ketetapan Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada pamannya
Nabi ﷺ sangat mencintai Abu Thalib yang telah merawat dan melindunginya sejak kecil. Ketika Abu Thalib sakit menjelang wafat, Nabi ﷺ segera datang menjenguknya dan berusaha sekuat tenaga agar pamannya mengucapkan Laa ilaaha illallah. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim boleh dan bahkan dianjurkan untuk bersungguh-sungguh mengajak keluarganya yang belum beriman kepada tauhid, selama masih ada harapan.
2. Tipu daya musuh-musuh Islam
Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah—yang saat itu hadir—langsung menghasut Abu Thalib dengan ucapan: "Apakah engkau ingin meninggalkan agama Abdul Muthalib?" Mereka memanfaatkan rasa bangga Abu Thalib terhadap tradisi leluhurnya. Ini pelajaran bahwa setan dan para pengikutnya selalu berusaha menghalangi manusia dari kalimat tauhid, bahkan di saat-saat terakhir kehidupan seseorang.
3. Larangan memintakan ampun bagi orang musyrik
Setelah Abu Thalib wafat dalam keadaan musyrik, Nabi ﷺ berkata: "Aku akan terus meminta ampun untukmu selama aku tidak dilarang." Maka Allah menurunkan ayat yang melarang hal tersebut. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum bagi Nabi ﷺ dan seluruh kaum mukminin—tidak boleh memintakan ampun bagi orang yang mati di atas kesyirikan, meskipun ia kerabat dekat.
4. Hikmah di balik larangan
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa larangan ini karena:
- Memintakan ampun bagi orang musyrik yang telah mati adalah perbuatan sia-sia, sebab Allah tidak akan mengampuni kesyirikan setelah seseorang mati di atasnya.
- Hal itu bertentangan dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena orang mukmin seharusnya membenci kekufuran dan pelakunya.
- Ini mengajarkan al-wala' wal-bara' (loyalitas dan berlepas diri) dalam Islam—kita mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
5. Perbedaan antara mendoakan orang musyrik yang masih hidup dan yang telah mati
Para ulama membedakan: mendoakan hidayah bagi orang musyrik yang masih hidup adalah boleh dan dianjurkan (seperti Nabi ﷺ mendoakan hidayah untuk kaumnya). Adapun memintakan ampunan setelah mereka mati di atas kekufuran adalah terlarang. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini khusus setelah jelas kematian mereka di atas kekufuran, sebagaimana disebut dalam ayat.
6. Pelajaran tentang sakaratul maut
Hadits ini juga mengajarkan bahwa saat sakaratul maut, seseorang bisa dipengaruhi oleh lingkungannya. Karena itu, kita dianjurkan untuk talqin (membimbing) orang yang akan meninggal dengan kalimat tauhid, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Bimbinglah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat Laa ilaaha illallah." (HR. Muslim). Namun jika ia menolak, kita tidak boleh memaksakan.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh tentang Sa'id bin Al-Musayyib—perawi hadits ini—yang menunjukkan pengamalan para salaf terhadap larangan ini. Suatu hari, Sa'id bin Al-Musayyib melihat anaknya sendiri tidak mau menunaikan shalat dan bermaksiat. Anaknya kemudian sakit dan menjelang wafat. Sa'id bin Al-Musayyib tidak memintakan ampun untuknya, bahkan tidak ikut menshalatkannya, karena anaknya mati dalam keadaan meninggalkan shalat—sebuah bentuk kemaksiatan besar yang menunjukkan keadaannya.
Ketika ditanya, beliau berkata: "Aku tidak akan menshalatkan orang yang meninggalkan shalat, dan aku tidak akan memintakan ampun baginya." Ini menunjukkan betapa tegasnya para salaf dalam menerapkan batasan syariat, meskipun terhadap orang yang sangat mereka cintai. Mereka lebih mengutamakan perintah Allah daripada perasaan pribadi.
Hikmahnya: kecintaan kepada Allah harus mengalahkan kecintaan kepada makhluk, dan kita tidak boleh melanggar batasan syariat demi perasaan kekeluargaan semata.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguhlah mengajak keluarga kepada tauhid selama mereka masih hidup—inilah bentuk kasih sayang yang paling utama.
- Jangan pernah berhenti berdoa untuk hidayah orang yang masih hidup, sekalipun ia sangat jauh dari agama.
- Jangan memintakan ampun bagi orang yang mati di atas kesyirikan atau kekufuran, karena hal itu dilarang Allah dan tidak bermanfaat baginya.
- Jadikan kecintaan kepada Allah di atas segalanya, termasuk di atas kecintaan kepada kerabat yang menentang Allah.
- Bimbing orang yang sedang sakaratul maut dengan kalimat tauhid, namun jangan memaksa jika ia menolak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.