Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa ayat Al-Qur'an yang terakhir kali diturunkan kepada Nabi ﷺ adalah ayat tentang hukum waris kalalah (QS. An-Nisa' [4]: 176), sedangkan surah yang terakhir diturunkan secara utuh adalah Surah At-Taubah (Bara'ah). Ini menunjukkan perhatian besar Islam terhadap kejelasan hukum waris, karena ia adalah ilmu yang sangat mudah terlupakan dan sering diperselisihkan.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang dimaksud dalam hadits:
- Nama surah dan nomor ayat: QS. An-Nisa' [4]: 176
- Teks Arab (potongan ayat yang relevan):
يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ
- Terjemahan: "Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu, jika seseorang meninggal dunia dan tidak memiliki anak maupun ayah)...'"
2. Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman Allah tentang pemberitahuan dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrikin. Perawinya adalah Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan hadits ini dan menjelaskan bahwa maknanya adalah ayat ini adalah ayat terakhir yang turun secara keseluruhan mengenai hukum kalalah, dan surah terakhir yang turun secara utuh adalah Surah Bara'ah (At-Taubah). Beliau juga menukil riwayat dari sahabat lain yang menyebutkan ayat terakhir adalah ayat riba, dan beliau menggabungkan riwayat-riwayat ini dengan penjelasan yang rinci.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fath Al-Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) membahas panjang lebar tentang maksud hadits ini dan riwayat-riwayat lain yang tampak berbeda. Beliau menjelaskan bahwa perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan konteks: ada yang dimaksud ayat terakhir yang turun tentang hukum tertentu, dan ada yang dimaksud surah terakhir yang turun secara utuh.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil penting dalam memahami urutan turunnya Al-Qur'an. Ada beberapa poin penting yang perlu dipahami:
- Makna "Ayat Terakhir": Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu menyatakan bahwa ayat terakhir yang turun adalah ayat kalalah (QS. An-Nisa': 176). Namun, ada riwayat lain dari sahabat yang berbeda, seperti dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyatakan ayat terakhir adalah ayat riba (QS. Al-Baqarah: 278-279). Para ulama, seperti Imam Al-Bukhari sendiri dan Al-Hafizh Ibnu Hajar, menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan yang sebenarnya. Perbedaan ini karena para sahabat menceritakan berdasarkan apa yang mereka ketahui atau konteks yang berbeda. Ada yang menganggap ayat terakhir yang turun sebelum Nabi ﷺ wafat, dan ada yang menganggap ayat terakhir yang turun mengenai topik tertentu.
- Makna "Surah Terakhir": Al-Bara' juga menyatakan bahwa surah terakhir yang turun secara utuh adalah Surah Bara'ah (At-Taubah). Ini adalah surah yang turun setelah peristiwa Perang Tabuk, dan di dalamnya terdapat perintah untuk berlepas diri dari perjanjian dengan orang-orang musyrik. Surah ini turun di akhir masa hidup Nabi ﷺ.
- Hikmah Penjelasan Ini: Penjelasan tentang ayat kalalah sebagai ayat terakhir menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan hak-hak ahli waris, terutama dalam kasus yang rumit seperti kalalah (seseorang yang meninggal tanpa meninggalkan ayah dan anak). Ini adalah ilmu yang sangat penting dan mudah dilupakan, sehingga Allah menegaskannya di akhir wahyu. Hal ini menunjukkan bahwa urusan warisan adalah urusan yang sangat agung dalam Islam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat kalalah turun, Nabi ﷺ sangat memperhatikannya. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah memberikan bagian kepada setiap ahli waris, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris." Ini menunjukkan bahwa hukum waris adalah hukum yang telah diatur secara rinci oleh Allah, dan tidak boleh dicampuri dengan keinginan pribadi.
Kisah lain yang masyhur adalah ketika Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu sangat bersemangat untuk memahami hukum kalalah. Beliau sering bertanya kepada para sahabat tentang hal ini, dan beliau berkata, "Aku tidak pernah berhenti bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kalalah, hingga beliau bersabda, 'Cukuplah bagimu ayat musim panas (yang turun di akhir surah An-Nisa')'." Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias untuk memahami hukum-hukum Allah, terutama yang berkaitan dengan harta dan keadilan.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang lengkap dan sempurna. Ayat terakhir yang turun saja sudah mengatur masalah yang sangat detail, yaitu waris. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun aspek kehidupan yang luput dari petunjuk Al-Qur'an.
- Pelajarilah ilmu waris (faraidh). Karena ini adalah ilmu yang sangat mulia dan mudah dilupakan, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Dengan mempelajarinya, kita bisa menjaga hak-hak keluarga yang ditinggalkan.
- Jangan pernah meremehkan satu ayat pun dari Al-Qur'an. Setiap ayat memiliki hikmah dan tujuan yang agung, meskipun kita belum memahaminya secara mendalam.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama dalam hidup. Sebagaimana Nabi ﷺ meninggalkan kita dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka kita harus berpegang teguh kepada keduanya dalam setiap urusan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.