Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4643 tentang Bab: Ambillah yang mudah dan perintahkanlah kepada yang baik

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa firman Allah “خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ” (Ambillah yang mudah dan perintahkanlah kepada yang baik) diturunkan khusus dalam konteks akhlak dan adab manusia. Artinya, Allah memerintahkan Nabi ﷺ dan umatnya untuk bersikap pemaaf, toleran, dan mengajak kepada kebajikan dalam pergaulan sehari-hari. Ini merupakan prinsip dasar akhlak Islam yang mulia.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an:

Firman Allah dalam QS. Al-A’raf [7]: 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang ma’ruf (kebaikan), dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil (bodoh).”

Hadits terkait:

Shahih Al-Bukhari no. 4643, dari Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau berkata tentang ayat ini: “مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ فِي أَخْلاَقِ النَّاسِ” – “Ayat ini tidak diturunkan Allah melainkan dalam konteks akhlak manusia.”

Penjelasan ulama dari daftar:

  • Ibnu Katsir (dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim) menukil perkataan Abdullah bin Az-Zubair ini dan menegaskan bahwa ayat ini merupakan kumpulan akhlak mulia yang diperintahkan Allah kepada Nabi-Nya, yaitu: pemaaf, mengajak kebaikan, dan tidak membalas kebodohan.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam) menjelaskan bahwa “العفو” di sini berarti sikap mudah memaafkan dan tidak mempersulit orang lain, sedangkan “العرف” adalah segala perkara baik yang dikenal dalam syariat dan adat yang tidak bertentangan dengan syariat.
  • Imam al-Bukhari sendiri meletakkan hadits ini dalam bab “خذ العفو وأمر بالعرف” di Kitab Tafsir, menunjukkan bahwa beliau memahami ayat ini berkaitan langsung dengan akhlak.

---

Penjelasan Rinci

Ayat ini turun di tengah masyarakat Madinah yang masih memiliki aneka karakter: ada yang beriman, ada yang munafik, dan ada yang jahil. Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk menempuh jalan tengah yang penuh hikmah: pemaaf, mengajak kebaikan, dan tidak terlibat dalam perdebatan sia-sia dengan orang bodoh.

Makna “خذ العفو” menurut para ulama tafsir dari kalangan tabi’in seperti Mujahid dan Qatadah (keduanya termasuk dalam daftar) adalah: ambillah sikap mudah dan maaf dari manusia, jangan membebani mereka dengan tuntutan yang berat, dan jangan membalas kejelekan dengan kejelekan. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi’i menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang anjuran memaafkan dalam urusan muamalah, selama tidak melanggar hak Allah.

Perkataan Abdullah bin Az-Zubair yang diriwayatkan dalam hadits ini sangat penting karena beliau adalah sahabat yang juga ahli tafsir. Beliau menegaskan bahwa ayat ini “hanya” (إلا) dalam konteks akhlak manusia — maksudnya: bukan tentang hukum ibadah mahdhah atau akidah, melainkan tentang adab pergaulan, toleransi, dan dakwah bil hikmah.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di (dalam Tafsir as-Sa’di) menambahkan: Ayat ini mengandung tiga prinsip akhlak mulia:

  1. Al-‘Afwu – memaafkan kesalahan orang lain dan bersikap longgar dalam perkara pribadi.
  2. Al-Amru bil Ma’ruf – mengajak kepada kebaikan dengan cara yang baik, sesuai kemampuan.
  3. Al-I’radhu ‘anil Jahilin – tidak membalas kebodohan dengan kebodohan, tetapi berpaling dengan penuh kelembutan.

Perbedaan pendapat ringan terjadi dalam menerapkan “العفو” di sini. Sebagian ulama, seperti Al-Hasan al-Bashri, memahaminya sebagai bersedekah dan memberi kelonggaran dalam harta. Namun pendapat yang lebih kuat (menurut Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab) adalah bahwa maknanya umum mencakup seluruh sikap mudah, pemaaf, dan toleran dalam semua aspek akhlak, termasuk dalam ucapan dan perbuatan.

Hadits ini juga mengingatkan kita bahwa akhlak Islam bukan hanya soal hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan antarmanusia yang penuh rahmat dan kasih sayang, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (Shahih al-Bukhari, dari Abdullah bin Amr).

---

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair — perawi hadits ini sendiri — bahwa beliau adalah seorang sahabat yang teguh pendirian, namun sangat lembut dalam pergaulan. Suatu hari, ada seorang Badui yang bersikap kasar kepadanya. Abdullah bin Az-Zubair tersenyum dan berkata, “Allah telah memerintahkan aku untuk mengambil yang mudah, memerintahkan kebaikan, dan berpaling dari orang jahil. Maka aku akan amalkan ayat ini.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya dengan sanad hasan). Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat langsung mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

---

Kesimpulan Praktis

Poin-poin yang bisa diamalkan:

  1. Bersikap pemaaf – jangan mudah marah atau menuntut balas atas kesalahan pribadi. Beri maaf dan kelonggaran.
  2. Mengajak kebaikan – dengan hikmah, nasihat yang baik, dan teladan, bukan dengan paksaan atau kemarahan.
  3. Menjauhi perdebatan sia-sia – jika berhadapan dengan orang yang bodoh atau kasar, lebih baik berpaling dengan sopan, karena tidak semua kebodohan layak ditanggapi.
  4. Jadikan ayat ini pedoman akhlak – setiap kali berinteraksi dengan sesama, ingatlah bahwa Allah menyukai sikap lembut, pemaaf, dan mengajak kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.