Penjelasan Hadits Bukhari No. 4626 tentang Pengumpulan manusia pada hari kiamat dan syafaat Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan keadaan Nabi ﷺ pada Hari Kiamat ketika beliau melihat umatnya digiring ke sisi kiri (ke arah Neraka). Beliau lalu mengucapkan doa yang pernah diucapkan Nabi Isa عليه السلام, yaitu menyerahkan urusan mereka kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Hadits ini mengajarkan kita tentang besarnya kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, sekaligus peringatan agar kita tidak menyimpang dari jalan yang lurus.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dikutip dalam hadits ini (QS. Al-Ma'idah [5]: 117–118):

Ayat 117:

> وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Terjemahan: "Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu."

Ayat 118:

> إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Terjemahan: "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari sahabat Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ. Imam Al-Bukhari mencantumkannya dalam bab tafsir firman Allah tentang Nabi Isa عليه السلام.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Nabi ﷺ akan mengucapkan perkataan Nabi Isa عليه السلام sebagai bentuk penyerahan kepada Allah, bukan karena beliau tidak peduli, tetapi karena beliau tahu bahwa keputusan akhir hanya milik Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' dan adab seorang hamba di hadapan Allah.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan makna ayat 117–118 dari Surah Al-Ma'idah bahwa Nabi Isa menyerahkan urusan umatnya kepada Allah setelah beliau diangkat.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Pada Hari Kiamat, seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Nabi ﷺ melihat bahwa sebagian umatnya digiring oleh para malaikat ke sisi kiri, yaitu ke arah Neraka. Ini adalah gambaran orang-orang yang menyimpang dari ajaran beliau.

Ketika melihat hal itu, Nabi ﷺ tidak serta-merta menghakimi atau memutuskan, melainkan beliau mengucapkan perkataan yang pernah diucapkan oleh Nabi Isa عليه السلام, yaitu menyerahkan sepenuhnya kepada Allah:

  1. "Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka" — Nabi Isa menyampaikan tauhid kepada kaumnya selama beliau masih bersama mereka.
  2. "Setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka" — setelah Nabi Isa diangkat, hanya Allah yang mengetahui dan mengawasi keadaan mereka.
  3. "Jika Engkau menyiksa mereka, mereka adalah hamba-hamba-Mu" — Allah berhak berbuat apa saja terhadap hamba-Nya.
  4. "Jika Engkau mengampuni mereka, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" — pengampunan Allah adalah bentuk keperkasaan dan kebijaksanaan-Nya.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki kasih sayang yang sangat besar kepada umatnya. Beliau tidak ingin ada satu pun dari umatnya yang masuk Neraka. Namun, beliau juga menunjukkan adab yang sempurna di hadapan Allah dengan tidak memaksa atau menuntut, melainkan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini adalah contoh bagaimana seorang hamba seharusnya bersikap: berusaha semaksimal mungkin untuk kebaikan, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung pelajaran tentang pentingnya mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Orang-orang yang digiring ke kiri adalah mereka yang menyimpang dari jalan beliau, baik dalam keyakinan maupun amal perbuatan.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat, Nabi ﷺ akan memberikan syafa'at (pertolongan) kepada umatnya yang beriman, tetapi bagi yang menyimpang, beliau hanya bisa menyerahkan kepada Allah.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud "orang-orang yang digiring ke kiri" adalah mereka yang murtad atau menyimpang setelah Nabi ﷺ wafat. Sebagian lain mengatakan ini adalah gambaran umum tentang orang-orang yang tidak mengikuti ajaran beliau. Namun, yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat yang menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari tauhid dan sunnah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, pada suatu ketika Nabi ﷺ bersabda tentang keadaan umat manusia di Hari Kiamat. Beliau menggambarkan bahwa beliau akan berdiri di sisi telaga (Al-Haudh) dan melihat umatnya datang. Namun, sebagian dari mereka digiring ke arah lain oleh para malaikat.

Nabi ﷺ memanggil, "Umatku, umatku!" Tetapi dikatakan kepada beliau, "Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah engkau wafat. Mereka berbalik ke belakang (murtad)."

Mendengar itu, Nabi ﷺ tidak marah, tidak menghakimi, tetapi beliau mengucapkan perkataan Nabi Isa عليه السلام yang disebutkan dalam hadits ini. Beliau menyerahkan segala urusan kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya sangat besar, tetapi beliau tetap menunjukkan adab yang sempurna kepada Allah. Kita sebagai umatnya harus berusaha agar tidak termasuk orang-orang yang digiring ke kiri, yaitu dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah.

Kesimpulan Praktis

  1. Berpegang teguh pada tauhid dan sunnah — agar kita tidak termasuk orang-orang yang digiring ke sisi kiri pada Hari Kiamat.
  2. Meneladani adab Nabi ﷺ — dalam berdoa dan menyerahkan urusan kepada Allah, terutama dalam hal-hal yang di luar kendali kita.
  3. Memperbanyak doa untuk umat — sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan umatnya, kita juga hendaknya mendoakan kebaikan untuk sesama Muslim.
  4. Tidak berputus asa dari rahmat Allah — meskipun seseorang pernah menyimpang, pintu taubat masih terbuka selama belum datang kematian.
  5. Mempelajari tafsir Al-Qur'an — sebagaimana hadits ini muncul dalam Kitab Tafsir, kita dianjurkan untuk memahami Al-Qur'an dengan penjelasan para ulama yang terpercaya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?