Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tiga hal besar: (1) manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, tidak bersunat, dan tidak berpakaian, lalu dihisab oleh Allah; (2) Nabi Ibrahim عليه السلام adalah orang pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat sebagai penghormatan; (3) sebagian orang yang mengaku beriman akan diseret ke kiri (neraka) karena mereka murtad setelah Nabi ﷺ wafat, dan Nabi ﷺ tidak mengetahui hal itu kecuali apa yang Allah beritahukan. Hadits ini mengajarkan pentingnya istiqamah sampai akhir hayat dan bahaya bid'ah serta kemurtadan setelah ilmu.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah tentang kebangkitan:
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
(QS. Al-Anbiya' [21]: 104)
Terjemahan: "(Ingatlah) hari ketika Kami menggulung langit seperti menggulung lembaran kitab. Sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama, Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati. Sungguh, Kami akan melakukannya."
Firman Allah tentang kesaksian Nabi Isa عليه السلام:
مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
(QS. Al-Ma'idah [5]: 117)
Terjemahan: "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi pengawas atas mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebangkitan jasmani dan bahwa manusia dibangkitkan dalam keadaan asli tanpa pakaian, lalu diberi pakaian sesuai amal.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (pada hadits semakna) menegaskan bahwa yang dimaksud "murtad" di sini adalah mereka yang mengubah agama dan berbuat bid'ah setelah Nabi ﷺ wafat.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Anbiya' [21]: 104 menjelaskan bahwa Allah mengulang penciptaan untuk kebangkitan, sebagaimana Dia menciptakan pertama kali.
Penjelasan Rinci
1. Kebangkitan dalam keadaan telanjang, tidak bersunat, dan tidak berpakaian.
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa manusia akan dihisab dalam keadaan asli tanpa penutup. Ini menunjukkan kehinaan di hadapan Allah dan bahwa tidak ada yang bisa menyembunyikan apa pun. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hikmahnya adalah agar setiap hamba menyadari bahwa dunia dan perhiasannya tidak akan menolong, hanya amal saleh yang bermanfaat.
2. Nabi Ibrahim عليه السلام orang pertama yang diberi pakaian.
Ini adalah bentuk pemuliaan Allah kepada kekasih-Nya, Ibrahim عليه السلام, yang disebut khalilullah. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Ibrahim adalah bapak para nabi dan teladan tauhid, sehingga pantas menjadi yang pertama diberi pakaian pada hari kiamat.
3. Sebagian umat Nabi ﷺ diseret ke kiri.
Ini bukan berarti semua umat Nabi ﷺ selamat. Mereka yang murtad, berbuat bid'ah, atau mengubah agama setelah Nabi ﷺ wafat akan diseret ke neraka. Nabi ﷺ tidak mengetahui hal itu karena beliau telah wafat, dan beliau berkata seperti Nabi Isa عليه السلام: "Aku menjadi saksi atas mereka selama aku bersama mereka..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 117).
4. Perbedaan pendapat ulama tentang siapa yang dimaksud "murtad".
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang munafik dan murtad yang mengubah agama secara terang-terangan.
- Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat bid'ah dan mengubah sunnah, bukan para sahabat utama.
- Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang keluar dari agama setelah Nabi ﷺ wafat, bukan para sahabat yang telah dijamin surga.
5. Pelajaran tentang istiqamah.
Hadits ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya pengakuan, tetapi harus dijaga sampai akhir. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa seseorang bisa berubah setelah beriman, maka hendaklah ia berdoa dan berusaha istiqamah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang orang yang beriman lalu murtad. Beliau menjawab: "Orang itu adalah orang yang mengenal kebenaran, lalu berpaling darinya karena hawa nafsu." Beliau juga sering menangis ketika membaca ayat tentang orang-orang yang murtad setelah beriman, dan berkata: "Aku takut termasuk orang yang beriman lalu kufur tanpa sadar."
Fudail bin 'Iyadh pernah berkata: "Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan penuh harap dan takut, maka ia akan istiqamah. Barangsiapa yang beribadah hanya karena kebiasaan, maka ia akan mudah goyah."
Kesimpulan Praktis
- Istiqamah sampai akhir hayat — jangan merasa aman dari kemurtadan, teruslah berdoa dan belajar agama.
- Jauhi bid'ah dan perubahan agama — karena itu bisa menyebabkan seseorang diseret ke neraka.
- Yakinlah pada kebangkitan — bahwa kita akan dihisab dalam keadaan telanjang, maka persiapkan amal saleh.
- Cintailah Nabi Ibrahim عليه السلام — sebagai teladan tauhid dan kekasih Allah.
- Berdoalah selalu — agar Allah menetapkan hati kita di atas agama-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.