Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4624 tentang Larangan tradisi jahiliyah melepaskan hewan untuk berhala

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa tradisi jahiliyah seperti melepaskan hewan untuk berhala (as-sawa'ib) adalah perbuatan yang dimurkai Allah dan pelakunya mendapat azab yang pedih di neraka. 'Amr bin Luhay, yang disebut dalam hadits sebagai orang pertama yang memulai tradisi ini, disiksa dengan ususnya diseret di neraka. Ini menjadi peringatan keras bagi kita untuk tidak mengikuti atau meniru tradisi-tradisi syirik dan bid'ah yang menyelisihi tauhid.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Ma'idah [5]: 103

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

"Allah tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, sa'ibah, wasilah, dan ham. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti."

Hadits:

Hadits riwayat Al-Bukhari no. 4624 dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku melihat neraka Jahannam, sebagiannya saling menghancurkan sebagian yang lain, dan aku melihat 'Amr (bin Luhay) menyeret ususnya, dan dialah orang pertama yang mengadakan tradisi as-sawa'ib (hewan yang dilepaskan untuk berhala)."

Kaitan dengan Ulama:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (8/305) menjelaskan bahwa 'Amr bin Luhay adalah pemimpin Khuza'ah yang pertama kali mengubah agama Nabi Ibrahim dan memasukkan tradisi syirik ke Arab. Beliau meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa 'Amr inilah yang pertama kali mengadakan tradisi as-sawa'ib.
  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir untuk menjelaskan makna ayat di atas, bahwa tradisi tersebut bukan dari Allah tetapi buatan manusia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari jalur Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Ini adalah hadits yang sangat penting karena menggambarkan azab yang nyata bagi pelaku bid'ah dan syirik.

Makna Hadits:

  1. "Aku melihat neraka Jahannam, sebagiannya saling menghancurkan sebagian yang lain" – Ini adalah gambaran dahsyatnya neraka. Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa besar dan mengerikannya neraka, hingga bagian-bagiannya saling bertumpuk dan menghancurkan. Ini adalah peringatan bagi kita agar takut kepada Allah.
  2. "Aku melihat 'Amr menyeret ususnya" – 'Amr yang dimaksud adalah 'Amr bin Luhay bin Qam'ah, pemimpin Bani Khuza'ah. Beliau adalah orang yang pertama kali mengubah agama Nabi Ibrahim dan memasukkan penyembahan berhala ke Jazirah Arab. Dalam hadits lain riwayat Muslim, disebutkan bahwa 'Amr bin Luhay melihat jin di daerah Syam yang mengajarinya cara menyembah berhala. Azabnya di neraka adalah ususnya diseret, sebagai balasan atas perbuatannya yang menyesatkan manusia.
  3. "Dialah orang pertama yang mengadakan tradisi as-sawa'ib" – As-sawa'ib adalah bentuk jamak dari sa'ibah, yaitu hewan (unta, sapi, atau kambing) yang dilepaskan begitu saja untuk berhala, tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diperah, dan tidak boleh diambil manfaatnya. Ini adalah tradisi syirik yang diada-adakan. Allah dalam QS. Al-Ma'idah: 103 dengan tegas membantah bahwa tradisi ini berasal dari-Nya.

Pendapat Ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya (3/194) menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk membatalkan tradisi jahiliyah yang menganggap hewan-hewan tersebut suci dan terlarang dimanfaatkan. Beliau menukil dari Mujahid dan Qatadah bahwa sa'ibah adalah unta betina yang telah beranak beberapa kali, lalu dilepaskan untuk berhala.
  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa tradisi semacam ini adalah batil dan tidak diakui dalam Islam. Hewan tersebut tetap halal dimanfaatkan karena tidak ada dalil syar'i yang mengharamkannya.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya (1/250) menegaskan bahwa ayat ini adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang mengaku bahwa tradisi tersebut berasal dari Allah, padahal itu adalah kebohongan belaka.

Pelajaran Penting:

Hadits ini mengajarkan bahwa setiap tradisi atau kebiasaan yang bertentangan dengan tauhid dan syariat Islam, meskipun sudah turun-temurun, harus ditinggalkan. Pelaku pertama yang memulainya akan mendapat dosa besar dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun." (HR. Muslim)

Story Telling

Diriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa 'Amr bin Luhay adalah seorang yang shaleh dan dermawan. Suatu hari ia pergi ke Syam dan melihat penduduk di sana menyembah berhala. Ia bertanya, "Apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah berhala yang kami sembah, dan kami meminta hujan serta pertolongan darinya." 'Amr pun tertarik dan meminta satu berhala bernama Hubal untuk dibawa pulang ke Mekah. Sejak saat itu, ia mulai mengajak kaumnya menyembah berhala dan mengubah agama Nabi Ibrahim. Ia juga membuat tradisi as-sawa'ib, yaitu melepaskan hewan untuk berhala. Maka Allah pun menimpakan azab kepadanya di neraka, dan Nabi ﷺ melihatnya dalam mimpi atau peristiwa Isra' Mi'raj.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (2/187). Hikmahnya: jangan pernah meremehkan dosa syirik dan bid'ah, karena pelakunya akan mendapat azab yang pedih meskipun ia orang yang dermawan dan terpandang di dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Tinggalkan tradisi syirik – Segala bentuk pengagungan terhadap selain Allah, seperti sesajen, persembahan untuk jin atau leluhur, adalah haram dan termasuk dosa besar.
  2. Hati-hati dengan bid'ah – Jangan membuat atau mengikuti tradisi baru dalam agama yang tidak diajarkan Nabi ﷺ, karena pelakunya akan menanggung dosa sendiri dan dosa pengikutnya.
  3. Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah – Hanya Allah dan Rasul-Nya yang berhak menetapkan halal dan haram, bukan adat atau tradisi.
  4. Takutlah kepada neraka – Gambaran azab 'Amr bin Luhay yang menyeret ususnya adalah peringatan nyata agar kita tidak terjerumus dalam kesyirikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.