Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4604 tentang Bab Perkataan-Nya Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini melarang keras seorang Muslim mengklaim dirinya lebih baik dari Nabi Yunus ‘alaihissalam. Rasulullah ﷺ sendiri melarang pernyataan bahwa beliau lebih baik dari Nabi Yunus, karena itu adalah bentuk kesombongan dan tidak sopan terhadap para nabi. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak membanding-bandingkan derajat para nabi dan tidak menganggap diri lebih mulia dari mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Isra' [17]: 55

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

"Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud."

Hadits terkait:

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Shahih Al-Bukhari no. 4604, Kitab Tafsir, Bab Perkataan-Nya "Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu".

Kaitan dengan ulama:

Imam Al-Bukhari (w. 256 H) meriwayatkan hadits ini dalam kitab tafsirnya, menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan dengan pemahaman ayat tentang keutamaan para nabi. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini sebagai bantahan terhadap orang yang menganggap Nabi Muhammad ﷺ lebih utama dari seluruh nabi secara mutlak dalam segala hal, padahal keutamaan itu hanya Allah yang mengetahuinya secara sempurna.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan lainnya. Makna hadits ini sangat dalam dan mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Larangan Membanding-bandingkan Para Nabi

Rasulullah ﷺ melarang keras seseorang mengatakan "aku lebih baik dari Yunus bin Matta". Kata "aku" di sini merujuk kepada Nabi Muhammad ﷺ sendiri. Beliau melarang para sahabat dan umatnya untuk mengklaim bahwa beliau lebih baik dari Nabi Yunus. Ini menunjukkan adab yang sangat tinggi terhadap para nabi.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan: "Hadits ini mengandung larangan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari seorang nabi, meskipun orang itu adalah Nabi Muhammad ﷺ sendiri. Karena keutamaan para nabi adalah urusan Allah, dan kita tidak boleh membandingkan mereka dengan cara yang merendahkan salah satu dari mereka."

Kedua: Kisah Nabi Yunus ‘alaihissalam

Nabi Yunus adalah nabi yang mulia. Beliau diutus kepada kaumnya di Ninawa (Irak). Ketika kaumnya tidak mau beriman, beliau pergi meninggalkan mereka tanpa izin Allah, lalu naik kapal. Kapal itu hampir tenggelam, lalu dilakukan undian untuk menentukan siapa yang harus dibuang ke laut. Nabi Yunus kalah undian dan ditelan ikan paus. Beliau berdoa dalam perut ikan dengan doa yang masyhur:

QS. Al-Anbiya' [21]: 87

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."

Allah kemudian mengeluarkan beliau dan mengampuninya. Kisah ini menunjukkan bahwa para nabi pun bisa melakukan kesalahan (dosa kecil) yang kemudian mereka bertaubat dan diampuni Allah.

Ketiga: Hikmah Larangan Ini

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Fathul Bari menjelaskan: "Rasulullah ﷺ melarang pernyataan ini karena dua alasan: (1) Agar tidak timbul sikap merendahkan nabi lain, (2) Agar manusia tidak sombong dengan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Beliau sendiri sebagai nabi yang paling mulia tetap melarang perbandingan semacam ini."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Majmu' Fatawa menjelaskan: "Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih utama antara Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Yunus. Namun yang benar adalah bahwa Nabi Muhammad ﷺ lebih utama dari seluruh nabi, tetapi beliau melarang pernyataan ini karena khawatir akan menimbulkan sikap merendahkan nabi lain atau kesombongan."

Keempat: Pelajaran tentang Adab

Hadits ini mengajarkan adab yang sangat penting: jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain, apalagi dengan para nabi. Jika Rasulullah ﷺ saja melarang pernyataan bahwa beliau lebih baik dari Nabi Yunus, maka apalagi kita sebagai umatnya yang penuh dosa.

Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Al-Mufhim mengatakan: "Hadits ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh mengatakan 'aku lebih baik dari fulan' meskipun orang itu lebih rendah derajatnya, karena itu bisa menimbulkan kesombongan."

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa suatu hari beliau melihat seseorang yang sedang berdebat tentang keutamaan para nabi. Maka Ibnu Umar berkata: "Janganlah kalian membanding-bandingkan para nabi. Demi Allah, sungguh satu hari dalam kehidupan seorang nabi lebih baik dari seribu tahun kehidupan orang biasa." (Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Kisah ini mengingatkan kita bahwa para nabi adalah manusia pilihan Allah. Kita tidak boleh merendahkan mereka, meskipun dengan cara membandingkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan membandingkan para nabi - Setiap nabi memiliki keutamaan masing-masing yang hanya Allah yang mengetahuinya.
  2. Jangan mengklaim diri lebih baik dari orang lain - Apalagi dari para nabi. Ini adalah bentuk kesombongan yang dilarang.
  3. Hormati semua nabi - Kita wajib beriman kepada semua nabi tanpa membeda-bedakan.
  4. Ambil pelajaran dari kisah Nabi Yunus - Belajar tentang taubat, kesabaran, dan kekuasaan Allah.
  5. Jaga adab dalam berbicara - Jangan mengucapkan kata-kata yang bisa menimbulkan kesombongan atau merendahkan orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.