Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan sebab turunnya ayat QS. Ali 'Imran [3]: 187–188, yaitu tentang Ahli Kitab (Yahudi) yang menyembunyikan kebenaran tentang sifat dan kedatangan Nabi Muhammad ﷺ, lalu merasa senang dan ingin dipuji atas apa yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menegaskan bahwa ayat ini khusus berbicara tentang mereka, bukan tentang kaum mukminin secara umum. Maka seorang mukmin tidak perlu takut dihukum hanya karena merasa senang dengan nikmat Allah, selama ia tidak menyembunyikan kebenaran dan tidak mengaku-aku melakukan sesuatu yang tidak dikerjakannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Ali 'Imran [3]: 187
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
Terjemahan ringkas: "Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi Kitab: 'Kamu harus menjelaskannya kepada manusia dan tidak boleh menyembunyikannya.' Tetapi mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga yang murah. Maka sangat buruk apa yang mereka jual itu."
Ayat Al-Qur'an — QS. Ali 'Imran [3]: 188
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Terjemahan ringkas: "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas apa yang tidak mereka kerjakan, akan terlepas dari azab. Dan bagi mereka azab yang pedih."
Hadits terkait
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir, no. 4568, dari jalur Alqamah bin Waqqas yang mendengar langsung dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim dengan makna yang sama.
Kaitan dengan ulama
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat tersebut dan menegaskan bahwa ayat itu tertuju kepada Ahli Kitab.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini mencela orang yang menyembunyikan ilmu dan merasa bangga dengan pujian palsu.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan pentingnya memahami konteks ayat agar tidak salah menerapkannya kepada kaum mukminin.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits dan ayat
Hadits ini berisi dialog antara Marwan bin al-Hakam (seorang gubernur Madinah saat itu) dengan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang sangat dalam ilmunya dalam tafsir Al-Qur'an. Marwan memahami ayat 188 secara umum, sehingga ia menyimpulkan: "Kalau setiap orang yang senang dengan apa yang ia lakukan dan ingin dipuji atas apa yang tidak ia lakukan akan dihukum, maka kita semua akan dihukum." Pemahaman ini membuat Marwan dan orang-orang di sekitarnya merasa resah.
Ibnu Abbas kemudian mengoreksi pemahaman tersebut. Beliau menjelaskan bahwa ayat ini tidak turun secara umum, melainkan turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang pernah dipanggil Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ bertanya kepada mereka tentang sesuatu (yakni tentang kebenaran kenabian beliau dan sifat-sifat beliau yang tertulis dalam Taurat), mereka menyembunyikan jawaban yang benar dan memberi jawaban yang berbeda. Lalu mereka menampakkan seolah-olah mereka telah memberi jawaban yang benar dan layak dipuji, padahal mereka justru menyembunyikan kebenaran. Mereka pun senang dengan perbuatan menyembunyikan itu.
Kemudian Ibnu Abbas membacakan ayat 187–188 sebagai penjelas: Allah telah mengambil perjanjian dari Ahli Kitab untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya, tetapi mereka justru membuang perjanjian itu dan menjualnya dengan harga murah. Maka ayat 188 adalah lanjutan celaan bagi mereka: mereka senang dengan perbuatan buruk mereka (menyembunyikan kebenaran) dan ingin dipuji atas sesuatu yang tidak mereka kerjakan (yaitu seolah-olah mereka telah menyampaikan kebenaran, padahal tidak).
Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya
- Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mencela dua hal: (1) menyembunyikan ilmu dan kebenaran, dan (2) merasa bangga serta ingin dipuji atas sesuatu yang tidak dilakukan. Beliau menegaskan bahwa ini adalah sifat Ahli Kitab yang dikritik oleh Allah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya memahami asbabun nuzul sebelum menafsirkan ayat. Beliau juga menegaskan bahwa ayat ini tidak mencakup kaum mukminin yang senang dengan nikmat Allah dan tidak menyembunyikan kebenaran.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan adab dalam memahami ayat dan tidak tergesa-gesa menghukumi diri sendiri atau orang lain tanpa ilmu.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menegaskan bahwa ayat ini tertuju kepada orang yang menyembunyikan kebenaran dan mengaku-aku sesuatu yang tidak dikerjakan, bukan kepada orang yang sekadar merasa senang dengan karunia Allah.
Perbedaan pendapat di antara ulama
Sebagian ulama ada yang memahami ayat ini secara lebih umum, yaitu mencakup setiap orang yang ujub (bangga diri) dan ingin dipuji atas sesuatu yang tidak dikerjakan. Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan as-Sa'di — adalah bahwa ayat ini khusus turun berkenaan dengan Ahli Kitab yang menyembunyikan kebenaran tentang Nabi Muhammad ﷺ. Adapun kaum mukminin, selama mereka tidak menyembunyikan kebenaran dan tidak mengaku-aku sesuatu yang tidak dikerjakan, maka mereka tidak termasuk dalam ancaman ayat ini.
Story Telling
Suatu ketika, Marwan bin al-Hakam — seorang gubernur Madinah — merasa gelisah setelah membaca ayat 188 dari Surah Ali 'Imran. Ia berkata kepada penjaganya, Rafi': "Pergilah kepada Ibnu Abbas dan katakan: 'Jika setiap orang yang senang dengan apa yang ia lakukan dan ingin dipuji atas apa yang tidak ia lakukan akan dihukum, maka kita semua akan dihukum.'"
Rafi' pun menyampaikan pesan itu kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang dikenal sebagai Tarjumanul Qur'an (juru tafsir Al-Qur'an). Ibnu Abbas tidak langsung menjawab dengan emosi, tetapi dengan tenang beliau berkata: "Apa hubungannya kalian dengan ayat ini? Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang pernah dipanggil Nabi ﷺ. Mereka ditanya tentang sesuatu, lalu mereka menyembunyikan kebenaran dan memberi jawaban yang lain. Mereka pun merasa senang dengan penyembunyian itu dan ingin dipuji atas jawaban yang sebenarnya tidak mereka sampaikan."
Kemudian Ibnu Abbas membacakan ayat 187–188 sebagai penjelas. Marwan pun memahami bahwa kekhawatirannya tidak berdasar, karena ayat itu bukan tertuju kepada kaum mukminin secara umum.
Hikmah: Seorang mukmin hendaknya tidak tergesa-gesa menghukumi dirinya atau orang lain berdasarkan ayat Al-Qur'an tanpa memahami konteks dan tafsirnya. Ilmu tentang asbabun nuzul dan penjelasan para ulama sangat penting agar kita tidak salah paham terhadap firman Allah.
Kesimpulan Praktis
- Pahami konteks ayat sebelum menghukumi diri sendiri atau orang lain. Ayat 188 Surah Ali 'Imran turun berkenaan dengan Ahli Kitab yang menyembunyikan kebenaran, bukan tentang kaum mukminin yang senang dengan nikmat Allah.
- Jangan menyembunyikan ilmu dan kebenaran. Ini adalah sifat tercela yang dikritik Allah dalam ayat ini.
- Jangan mengaku-aku atau ingin dipuji atas sesuatu yang tidak dikerjakan. Ini termasuk sifat ujub dan riya yang harus dijauhi.
- Rasa senang dengan nikmat Allah tidaklah tercela, selama tidak disertai dengan menyembunyikan kebenaran atau mengaku-aku sesuatu yang tidak dilakukan.
- Kembalilah kepada penjelasan para ulama seperti Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan as-Sa'di dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an, agar kita tidak salah paham.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.