Penjelasan Hadits Bukhari No. 4566 tentang Perjalanan Nabi menjenguk Sa'd bin Ubada

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ dihina dan diganggu oleh Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik) ketika beliau sedang menjenguk Sa'd bin Ubadah. Meskipun dihina, Nabi ﷺ tetap bersabar, tidak membalas, bahkan mendoakan dan memaafkan. Hadits ini menjadi contoh nyata pengamalan ayat "walatasma'unna..." (QS. Ali 'Imran [3]: 186), yaitu perintah bersabar terhadap gangguan ahli kitab dan orang musyrik. Sikap sabar dan pemaaf Nabi ﷺ inilah yang kemudian melunakkan hati banyak orang dan membuat mereka masuk Islam setelah Badar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Ali 'Imran [3]: 186

وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

"Dan kamu pasti akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik, gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan."

QS. Al-Baqarah [2]: 109

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Banyak dari ahli kitab ingin mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena kedengkian dari diri mereka sendiri setelah kebenaran nyata bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, no. 4566, dari jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) — dari Urwah bin az-Zubair — dari Usamah bin Zaid رضي الله عنهما.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan akhlak Nabi ﷺ yang sangat lembut dan pemaaf, serta menjadi dalil bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang baik meskipun dihadapi dengan keburukan.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Ali 'Imran [3]: 186 menjelaskan bahwa ayat ini menghibur kaum mukminin agar tidak gentar menghadapi gangguan ahli kitab dan musyrikin, karena akhir yang baik adalah bagi orang yang sabar dan bertakwa.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits-hadits terkait akhlak Nabi) menegaskan bahwa menahan diri dari membalas gangguan adalah bagian dari akhlak kenabian yang agung.

Penjelasan Rinci

Latar belakang peristiwa:

Peristiwa ini terjadi sebelum Perang Badar. Nabi ﷺ menunggangi keledai berpelana kain tebal dari Fadak, dengan Usamah bin Zaid diboncengkan di belakang. Beliau hendak menjenguk Sa'd bin Ubadah yang sedang sakit di perkampungan Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Di tengah perjalanan, beliau melewati sebuah majelis yang di dalamnya bercampur antara Muslim, musyrik penyembah berhala, dan Yahudi. Di majelis itu hadir pula Abdullah bin Ubay bin Salul (yang saat itu belum masuk Islam) dan Abdullah bin Rawahah.

Perlakuan buruk Abdullah bin Ubay:

Ketika debu dari hewan tunggangan Nabi ﷺ menerpa majelis, Abdullah bin Ubay menutup hidungnya dengan selendangnya sambil berkata kasar: "Jangan kau berdebu-debu di hadapan kami!" Nabi ﷺ tetap mengucapkan salam, turun dari tunggangan, lalu mengajak mereka kepada Allah dan membacakan Al-Qur'an.

Abdullah bin Ubay kemudian berkata dengan nada menantang: "Wahai orang ini, tidak ada yang lebih baik dari apa yang engkau katakan jika itu benar. Maka jangan ganggu kami dengan itu di majelis kami. Kembalilah ke tempatmu, dan siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah kepadanya."

Pembelaan Abdullah bin Rawahah:

Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه segera membela: "Bahkan, ya Rasulullah, bawalah itu kepada kami di majelis-majelis kami, karena kami menyukainya."

Kemudian terjadi perselisihan antara Muslim, musyrik, dan Yahudi hingga hampir saling menyerang. Namun Nabi ﷺ terus menenangkan mereka dengan lembut sampai keadaan reda. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke rumah Sa'd bin Ubadah.

Pengaduan kepada Sa'd bin Ubadah:

Nabi ﷺ menceritakan kejadian itu kepada Sa'd bin Ubadah: "Wahai Sa'd, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Hubab (yakni Abdullah bin Ubay)?" — lalu beliau menyebutkan ucapannya.

Penjelasan Sa'd bin Ubadah:

Sa'd bin Ubadah رضي الله عنه berkata: "Ya Rasulullah, maafkanlah dia dan berlapang dadalah terhadapnya. Demi Allah yang menurunkan Kitab kepadamu, sungguh Allah telah datang dengan kebenaran yang diturunkan kepadamu. Sungguh penduduk kota ini (Madinah) telah bersepakat untuk memahkotainya (menjadikannya pemimpin) dan mengikatnya dengan ikat kepala (mahkota), tetapi ketika Allah menolak itu dengan kebenaran yang diberikan kepadamu, dia menjadi sesak karenanya. Itulah yang membuatnya berbuat seperti yang engkau lihat."

Sikap Nabi ﷺ:

Maka Rasulullah ﷺ memaafkannya. Nabi ﷺ dan para sahabatnya memang memaafkan orang-orang musyrik dan ahli kitab sebagaimana diperintahkan Allah, dan mereka bersabar atas gangguan. Allah berfirman: "Dan kamu pasti akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik, gangguan yang banyak..." (QS. Ali 'Imran [3]: 186). Dan Allah juga berfirman: "Banyak dari ahli kitab ingin mengembalikan kamu kepada kekafiran..." (QS. Al-Baqarah [2]: 109).

Nabi ﷺ mengamalkan perintah maaf dari Allah sampai Allah mengizinkan beliau untuk bersikap tegas terhadap mereka. Ketika Nabi ﷺ berperang di Badar dan Allah membinasakan para pemuka kafir Quraisy, Abdullah bin Ubay dan orang-orang musyrik serta penyembah berhala yang bersamanya berkata: "Ini urusannya sudah jelas (menang)." Maka mereka pun berbai'at kepada Rasulullah ﷺ untuk masuk Islam, dan mereka pun masuk Islam.

Pemahaman ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini menunjukkan beberapa faedah penting:

  1. Bolehnya memboncengkan seseorang di belakang hewan tunggangan.
  2. Bolehnya menjenguk orang sakit, bahkan yang bukan Muslim sekalipun (dalam konteks tertentu).
  3. Anjuran berdakwah dengan lembut dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
  4. Sabar terhadap gangguan adalah jalan para nabi dan orang-orang saleh.
  5. Perkataan Sa'd bin Ubadah menunjukkan bahwa Abdullah bin Ubay sebenarnya sakit hati karena kehilangan kesempatan menjadi pemimpin, dan ini menjadi salah satu sebab kemunafikannya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat QS. Ali 'Imran [3]: 186 turun sebagai penghibur bagi Nabi ﷺ dan para sahabatnya yang sering mendapat gangguan dari ahli kitab dan musyrikin. Allah menjanjikan bahwa kesabaran dan ketakwaan adalah jalan yang paling utama.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah akhlak Al-Qur'an. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi memaafkan dan berbuat baik. Ini adalah pelajaran bagi setiap Muslim dalam berdakwah dan berinteraksi dengan orang lain.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melalui tahapan-tahapan dakwah: pertama dengan kesabaran dan pemaafan, kemudian setelah Allah memberi kekuatan, barulah beliau bersikap tegas terhadap mereka yang berhak mendapat ketegasan. Ini menunjukkan bahwa dakwah harus memperhatikan kondisi dan maslahat.

Story Telling

Kisah Usamah bin Zaid dan Keledai Nabi ﷺ

Usamah bin Zaid رضي الله عنه — seorang anak muda yang sangat dicintai Nabi ﷺ — menceritakan sendiri peristiwa ini. Bayangkan, ia masih muda saat itu, diboncengkan di belakang Nabi ﷺ di atas keledai yang sederhana, berpelana kain tebal dari Fadak. Nabi ﷺ — pemimpin umat, manusia paling mulia — menunggangi keledai, bukan kuda yang gagah, bukan unta yang mewah. Ini menunjukkan kerendahan hati beliau.

Ketika sampai di majelis yang penuh campuran orang, Abdullah bin Ubay — yang saat itu belum masuk Islam — menghina dan mengusir beliau dengan kata-kata kasar. Namun Nabi ﷺ tidak marah. Beliau tetap mengucapkan salam, turun, duduk bersama mereka, mengajak kepada Allah, dan membacakan Al-Qur'an. Ketika Abdullah bin Rawahah membela beliau dan terjadi ketegangan, Nabi ﷺ justru menenangkan semua orang dengan lembut.

Kemudian beliau pergi ke rumah Sa'd bin Ubadah, menceritakan kejadian itu. Sa'd bin Ubadah — seorang pemimpin yang bijak — menjelaskan bahwa Abdullah bin Ubay sebenarnya sakit hati karena ia hampir dijadikan raja Madinah, tetapi Allah menolaknya dengan datangnya kebenaran melalui Nabi ﷺ. Maka Nabi ﷺ memaafkan Abdullah bin Ubay.

Hikmah: Betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak membalas hinaan dengan hinaan, tidak membalas keburukan dengan keburukan. Beliau bersabar, memaafkan, dan terus berdakwah dengan lembut. Inilah yang membuat hati manusia melunak. Setelah Badar, Abdullah bin Ubay dan pengikutnya akhirnya masuk Islam — meskipun kemunafikannya tetap ada, tetapi setidaknya secara lahir mereka tunduk kepada kebenaran.

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa seorang dai harus sabar menghadapi gangguan, dan bahwa kesabaran itu pada akhirnya akan membuahkan hasil.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabarlah terhadap gangguan dalam berdakwah dan berinteraksi dengan orang lain. Jangan membalas keburukan dengan keburukan.
  2. Maafkanlah orang yang menghina kita, terutama jika kita berada dalam posisi lemah atau jika memaafkan itu lebih membawa maslahat.
  3. Berdakwahlah dengan lembut — Nabi ﷺ tetap mengucapkan salam, mengajak dengan baik, dan membacakan Al-Qur'an meskipun dihadapi dengan kekasaran.
  4. Jangan terburu-buru membalas — Nabi ﷺ menunggu sampai Allah memberi izin dan kekuatan, barulah beliau bersikap tegas terhadap mereka yang berhak.
  5. Pahami latar belakang orang — Sa'd bin Ubadah menjelaskan bahwa Abdullah bin Ubay berbuat demikian karena sakit hati kehilangan kepemimpinan. Memahami latar belakang seseorang membantu kita bersikap bijak.
  6. Yakinlah bahwa kesabaran dan ketakwaan adalah jalan yang paling utama, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 186.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?