Penjelasan Hadits Bukhari No. 4561 tentang Keteguhan sahabat saat kekalahan di Perang Uhud

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Uhud, di mana sebagian pasukan Muslim melanggar perintah Nabi ﷺ sehingga terjadi kekacauan. Ayat yang terkait, "Dan Rasul memanggil kalian di belakang kalian," menggambarkan situasi ketika Nabi ﷺ memanggil pasukan yang mundur untuk kembali. Hadits ini menegaskan pentingnya ketaatan kepada pemimpin dan Rasulullah ﷺ, serta menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan adalah QS. Ali 'Imran [3]: 153. Berikut potongan ayat yang sesuai dengan konteks hadits:

وَإِذْ تُصْعِدُونَ وَلَا تَلْوُونَ عَلَىٰ أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ

Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika kamu lari mendaki dan tidak menoleh kepada seorang pun, sedang Rasul (Muhammad) memanggil kamu dari belakang."

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, Bab Firman-Nya: 'Dan Rasul memanggil kalian di belakang kalian'. Perawi sahabat: Al-Bara bin Azib radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi tafsir praktis dari ayat tersebut. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim juga mengutip riwayat ini ketika menafsirkan QS. Ali 'Imran [3]: 153.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Uhud. Nabi ﷺ menempatkan Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah (infanteri) di bukit dengan perintah tegas: jangan tinggalkan posisi apa pun yang terjadi. Namun, ketika melihat pasukan Muslim mulai menang dan harta rampasan terlihat, sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka. Akibatnya, pasukan berkuda musuh yang dipimpin Khalid bin Walid (saat itu belum masuk Islam) menyerang dari belakang dan menyebabkan kekacauan besar. Banyak sahabat gugur, termasuk Abdullah bin Jubair, dan Nabi ﷺ sendiri terluka. Situasi menjadi kacau, pasukan Muslim mundur mendaki bukit, sementara Nabi ﷺ memanggil mereka dari belakang: "Kemarilah kepadaku, aku Rasulullah!"

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan keadaan ketika pasukan Muslim lari mendaki bukit tanpa menoleh, sementara Rasulullah ﷺ memanggil mereka. Ini adalah teguran halus dari Allah kepada para sahabat yang melanggar perintah, namun juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang tetap memanggil mereka untuk kembali.

Ibnu Katsir menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran berharga tentang bahaya melanggar perintah pemimpin, terutama dalam situasi perang. Al-Qurthubi (meskipun tidak dalam daftar, namun pendapatnya dikutip oleh Ibnu Katsir) menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan betapa besar musibah yang terjadi akibat ketidaktaatan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menekankan pentingnya ketaatan kepada pemimpin selama tidak dalam kemaksiatan. Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran tentang taubat dan kembalinya para sahabat kepada Allah setelah kesalahan.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang makna hadits ini. Semuanya sepakat bahwa ini adalah peristiwa sejarah yang menjadi pelajaran tentang ketaatan dan akibat melanggarnya.

Story Telling

Al-Bara bin Azib radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa pada hari Uhud, Nabi ﷺ mengangkat Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah. Beliau berpesan dengan sangat tegas: "Tetaplah di posisi kalian, jangan bergerak sedikit pun, baik kita menang maupun kalah."

Ketika pertempuran berkecamuk, pasukan Muslim awalnya berhasil memukul mundur musuh. Melihat musuh mundur dan harta rampasan terlihat, sebagian pasukan pemanah berkata: "Harta rampasan! Harta rampasan!" Abdullah bin Jubair mengingatkan: "Bukankah Rasulullah ﷺ telah berpesan agar kita tidak meninggalkan posisi?" Namun, sebagian besar dari mereka tetap turun meninggalkan bukit.

Melihat peluang itu, Khalid bin Walid (yang saat itu masih musyrik) memimpin pasukan berkuda menyerang dari belakang. Pasukan Muslim terkejut dan tercerai-berai. Dalam kekacauan itu, Nabi ﷺ terluka, gigi beliau patah, dan banyak sahabat gugur. Nabi ﷺ memanggil dengan suara lantang: "Kemarilah kepadaku, aku Rasulullah!" Namun, hanya sedikit yang mendengar. Al-Bara bin Azib berkata: "Tidak ada yang tersisa bersama Nabi ﷺ saat itu kecuali dua belas orang."

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bahkan terjatuh ke dalam lubang yang digali musuh, dan Ali bin Abi Thalib serta Thalhah bin Ubaidillah segera menolong beliau. Peristiwa ini menjadi salah satu ujian terberat bagi para sahabat, namun Allah kemudian menurunkan ayat-ayat yang memaafkan mereka dan menjelaskan hikmah di baliknya.

Kesimpulan Praktis

  1. Taat kepada pemimpin adalah kunci keberhasilan, terutama dalam situasi sulit. Melanggar perintah pemimpin dapat menyebabkan kekacauan dan kerugian besar.
  2. Segera bertaubat ketika melakukan kesalahan. Para sahabat yang melanggar perintah segera menyadari kesalahan mereka dan kembali kepada Allah.
  3. Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya tetap besar meskipun mereka melakukan kesalahan. Beliau tetap memanggil mereka untuk kembali.
  4. Belajar dari sejarah Perang Uhud untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat.
  5. Perbanyak istighfar dan memohon ampunan atas kelalaian kita, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?