Penjelasan Hadits Bukhari No. 4547 tentang Peringatan terhadap pengikut ayat mutasyabihat dan larangan mengikutinya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya orang-orang yang sengaja mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (yang samar/mirip) untuk mencari fitnah dan menimbulkan kerusakan. Beliau memerintahkan kita untuk waspada dan menjauhi mereka. Ini adalah pedoman penting dalam memahami Al-Qur'an: kita harus mengembalikan ayat yang samar kepada ayat yang jelas (muhkamat), dan menyerahkan makna hakiki yang hanya diketahui Allah kepada-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali 'Imran [3]: 7:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Terjemahan: "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas maknanya), itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat (samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.' Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal."

Hadits:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "مِنْ آيَاتٍ مُحْكَمَاتٌ" (no. 4547), dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Dalam hadits ini, setelah membaca ayat tersebut, Nabi ﷺ bersabda:

"فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ، فَاحْذَرُوهُمْ"

"Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, maka mereka itulah orang-orang yang disebut Allah (dalam ayat ini), maka waspadalah terhadap mereka."

Kaitan dengan Ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan panjang lebar tentang ayat ini. Beliau menukil perkataan para ulama salaf bahwa makna muhkamat adalah ayat yang jelas maknanya, tidak ada kerancuan, dan menjadi rujukan. Sedangkan mutasyabihat adalah ayat yang maknanya samar bagi sebagian orang. Beliau menegaskan bahwa cara Ahlus Sunnah adalah mengembalikan ayat mutasyabihat kepada muhkamat.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menjelaskan bahwa muhkamat adalah ayat-ayat yang jelas dan tegas maknanya, menjadi induk/pokok Al-Qur'an. Sedangkan mutasyabihat adalah yang mengandung kemiripan dan keumuman yang membutuhkan perincian dari ayat lain. Beliau menekankan bahwa orang yang hatinya sehat akan menyerahkan makna hakiki kepada Allah dan mengimani semuanya.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (saat membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa yang dimaksud ta'wil di sini adalah ta'wil yang menyimpang, yaitu memalingkan lafazh dari makna yang benar tanpa dalil. Ini adalah perbuatan ahli bid'ah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan kita pelajaran yang sangat penting dalam memahami Al-Qur'an. Mari kita bedah bersama:

1. Makna Muhkamat dan Mutasyabihat

Para ulama dari kalangan salaf, seperti Mujahid dan Qatadah (yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir), menjelaskan:

  • Muhkamat adalah ayat-ayat yang jelas dan tegas maknanya, seperti ayat-ayat hukum, halal-haram, janji dan ancaman. Ayat-ayat ini adalah "induk" (أُمُّ الْكِتَابِ) yang menjadi rujukan utama.
  • Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang maknanya samar atau memiliki kemiripan, seperti huruf-huruf muqatha'ah (alif lam mim, dll.) atau ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah yang detailnya tidak kita ketahui.

2. Bahaya Mengikuti Ayat Mutasyabihat

Nabi ﷺ dengan tegas menyebutkan bahwa orang yang sengaja mengikuti ayat-ayat mutasyabihat adalah orang-orang yang disebut Allah dalam ayat tersebut, yaitu orang-orang yang hatinya zaigh (condong pada kesesatan). Tujuan mereka bukan mencari kebenaran, tetapi:

  • Ibtigha' al-fitnah: mencari-cari fitnah, kerusakan, dan perpecahan di kalangan umat.
  • Ibtigha' ta'wil: mencari-cari takwil yang menyimpang, yaitu memaksakan makna yang salah sesuai hawa nafsu mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa ahli bid'ah selalu memulai dari ayat-ayat mutasyabihat untuk menegakkan syubhat (kerancuan) mereka, lalu membuang ayat-ayat muhkamat yang jelas. Ini kebalikan dari metode Ahlus Sunnah yang menjadikan muhkamat sebagai hakim atas mutasyabihat.

3. Sikap Orang yang Mendalam Ilmunya (Ar-Rasikhun fil 'Ilm)

Mereka adalah orang-orang yang kokoh ilmunya. Sikap mereka terhadap ayat mutasyabihat adalah:

  • Iman: Mereka berkata, "Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami." Mereka tidak memaksakan diri untuk mengetahui detail yang tidak Allah berikan ilmunya.
  • Taslim: Mereka menyerahkan makna hakiki yang hanya Allah ketahui kepada Allah, tanpa menolak, tanpa mengubah, dan tanpa menanyakan "bagaimana".

Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Ighatsat Al-Lahfan menjelaskan bahwa ar-rasikhun fil 'ilm adalah mereka yang menggabungkan antara ilmu dan iman. Ilmu membuat mereka tahu mana yang muhkam dan mana yang mutasyabih, dan iman membuat mereka pasrah kepada Allah dalam hal yang samar.

4. Perintah untuk Waspada

Sabda Nabi ﷺ "فَاحْذَرُوهُمْ" (maka waspadalah terhadap mereka) adalah perintah untuk menjauhi, tidak duduk bersama, dan tidak mengambil ilmu dari orang-orang yang gemar mempermainkan ayat-ayat Allah. Imam Al-Barbahari dalam Syarh As-Sunnah menasihatkan agar kita menjauhi majelis-majelis ahli bid'ah karena mereka adalah sumber fitnah.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal dari Imam Malik bin Anas yang menunjukkan sikap salaf terhadap ayat-ayat mutasyabihat, khususnya tentang sifat Allah. Ketika ada seseorang yang bertanya tentang makna "istawa" (bersemayam) dalam firman Allah, Imam Malik marah dan berkata:

"الِاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ"

"Istiwa (makna bahasanya) itu diketahui, cara (bagaimana)nya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."

Kisah ini dinukil oleh banyak ulama, di antaranya Imam Al-Baihaqi dalam Al-Asma' wa Ash-Shifat dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Ini adalah pelajaran berharga: kita tidak boleh memaksakan akal untuk mengetahui hal-hal yang Allah tidak beri ilmunya. Cukup imani dan serahkan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Pelajari dan berpegang teguhlah pada ayat-ayat muhkamat yang jelas, karena itulah pokok Al-Qur'an.
  2. Jika menemui ayat mutasyabihat, kembalikan pemahamannya kepada ayat-ayat muhkamat dan hadits-hadits shahih.
  3. Jangan pernah duduk atau mengambil ilmu dari orang-orang yang suka mempermainkan ayat-ayat Allah untuk mencari fitnah dan perpecahan.
  4. Sikap kita terhadap yang samar adalah iman dan taslim (pasrah), bukan menolak atau memaksakan akal.
  5. Perbanyak doa agar Allah menjadikan kita termasuk ar-rasikhun fil 'ilm (orang yang mendalam ilmunya).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?