Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar yang sangat agung dan menenangkan dari Nabi ﷺ. Intinya, keselamatan seseorang dari neraka dan masuknya ke surga sangat terkait dengan tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Barangsiapa mati dalam keadaan beribadah kepada selain Allah (menjadikan tandingan bagi-Nya), maka ia akan masuk neraka. Sebaliknya, barangsiapa mati dalam keadaan tidak beribadah kepada selain Allah, maka ia akan masuk surga. Ini adalah kabar gembira bagi setiap Muslim yang menjaga tauhidnya hingga akhir hayat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Firman-Nya: "Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim. Perawinya adalah Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah); mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS. Al-Baqarah [2]: 165)
Ayat ini menjelaskan bahwa menjadikan tandingan bagi Allah adalah perbuatan syirik, yaitu mencintai atau beribadah kepada selain Allah sebagaimana cinta dan ibadah kepada Allah. Ini adalah kebalikan dari tauhid yang menjadi kunci keselamatan.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama Ahlus Sunnah, seperti Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa ayat ini dan hadits di atas menegaskan bahwa tauhid adalah syarat utama keselamatan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa andad (tandingan) adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, baik berupa berhala, manusia, jin, atau hawa nafsu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung karena memberikan kabar gembira yang jelas. Mari kita pahami maknanya:
- Makna "Nidd" (نِدًّا): Kata nidd berarti tandingan, sekutu, atau yang disetarakan. Dalam konteks ini, nidd adalah segala sesuatu yang dijadikan sebagai tujuan ibadah, doa, permohonan, atau ketundukan yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Ini mencakup berhala, patung, kuburan yang dikeramatkan, jin, malaikat, nabi, atau bahkan hawa nafsu dan kekuasaan, jika ia diibadahi atau ditaati secara mutlak dalam perkara yang menyelisihi syariat.
- Sabda Nabi ﷺ: "Siapa yang mati sementara ia masih memohon kepada selain Allah sebagai tandingan bagi Allah, maka ia akan masuk neraka." Ini adalah ancaman yang tegas. Doa adalah inti ibadah. Jika seseorang memanjatkan doa (permohonan) kepada selain Allah, seperti meminta rezeki, kesembuhan, atau pertolongan kepada orang yang telah mati atau berhala, maka ia telah menjadikan makhluk tersebut sebagai nidd (tandingan) bagi Allah. Ini adalah syirik besar yang pelakunya kekal di neraka jika mati di atasnya.
- Perkataan Ibnu Mas'ud: "Dan saya berkata, 'Siapa yang mati tanpa memohon kepada sesuatu sebagai tandingan bagi Allah, maka ia akan masuk surga.'" Ini adalah penjelasan dari sahabat yang mulia ini. Beliau memahami bahwa kebalikan dari syirik adalah tauhid. Barangsiapa yang hidup dan mati di atas tauhid, memurnikan ibadah dan doanya hanya untuk Allah, maka ia akan masuk surga. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar.
Pandangan Ulama:
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, di bawah firman Allah tentang andad (tandingan). Ini menunjukkan bahwa beliau memahami hadits ini sebagai penjelasan dari ayat tersebut.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil bahwa tauhid adalah syarat masuk surga. Beliau menekankan bahwa doa adalah ibadah, dan memalingkannya kepada selain Allah adalah syirik yang membatalkan keislaman seseorang.
- Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam kitab-kitabnya tentang tauhid menjelaskan bahwa nidd ini mencakup semua bentuk kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil, tergantung pada bentuk peribadatannya. Namun, konteks hadits ini adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Penting untuk dipahami: Hadits ini tidak berarti bahwa seorang Muslim yang berbuat dosa besar (selain syirik) tidak akan masuk surga. Hadits ini secara khusus membahas tentang tauhid dan syirik. Seorang Muslim yang bertauhid namun memiliki dosa-dosa lain, maka dosanya itu di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika tidak, dia akan disiksa sesuai dosanya, tetapi akhirnya akan dikeluarkan dari neraka dan masuk surga karena tauhidnya. Ini adalah pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Story Telling
Dari sahabat yang meriwayatkan hadits ini, yaitu Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, kita bisa mengambil pelajaran tentang semangatnya dalam bertanya dan memahami agama. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling paham tentang Al-Qur'an.
Suatu hari, beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah. Beliau tidak hanya diam, tetapi langsung merespon dengan pemahaman yang benar, yaitu kebalikannya. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias untuk memahami kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak ingin melewatkan satu pun peluang untuk mendapatkan kabar gembira tentang surga.
Hikmahnya, kita sebagai umat Islam hendaknya selalu bersemangat untuk mempelajari tauhid dan segala hal yang bisa membatalkannya. Jangan pernah merasa cukup dengan ibadah kita, tetapi teruslah belajar agar ibadah kita murni dan diterima oleh Allah.
Kesimpulan Praktis
Berikut adalah poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Mempelajari Tauhid: Wajib bagi setiap Muslim untuk mempelajari tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, dan mempelajari lawannya, yaitu syirik, agar bisa menjauhinya.
- Memurnikan Doa: Jadikanlah doa, permohonan, dan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata. Jangan pernah meminta kepada makhluk, baik yang hidup maupun yang mati, dalam perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.
- Menjauhi Segala Bentuk Syirik: Jauhi segala bentuk perantara yang dijadikan sebagai tandingan Allah, seperti meminta syafaat kepada orang mati secara langsung, mengagungkan kuburan secara berlebihan, atau mempercayai jimat dan ramalan.
- Bersemangat dalam Kebaikan: Sebagaimana Ibnu Mas'ud yang langsung merespon kabar gembira, kita pun hendaknya selalu bersemangat mencari kabar gembira dari Al-Qur'an dan hadits untuk diamalkan.
- Berprasangka Baik kepada Allah: Hadits ini adalah kabar gembira. Selama kita menjaga tauhid kita, maka kita berada di atas jalan yang lurus dan berhak mendapatkan surga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.