Penjelasan Hadits Bukhari No. 449 tentang Pembuatan mimbar masjid oleh tukang kayu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menerima bantuan seorang wanita untuk membuatkan mimbar dari kayu, yang dikerjakan oleh seorang budak tukang kayu. Ini menjadi dalil bolehnya meminta bantuan ahli dalam pembangunan sarana masjid, dan menunjukkan sikap lembut serta tidak memberatkan beliau terhadap orang yang ingin berbuat kebaikan. Hadits ini juga menjadi dasar disyariatkannya mimbar dalam masjid.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ash-Shalah, Bab "Istī'ānatul 'Āmil wal Hājir" (meminta bantuan tukang kayu dan pengrajin), dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا خَلاَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ امْرَأَةً، قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلاَ أَجْعَلُ لَكَ شَيْئًا تَقْعُدُ عَلَيْهِ، فَإِنَّ لِي غُلاَمًا نَجَّارًا قَالَ "إِنْ شِئْتِ". فَعَمِلَتِ الْمِنْبَرَ.

Terjemahan: "Diriwayatkan dari Jabir bahwa seorang wanita berkata, 'Wahai Rasulullah! Apakah saya harus membuatkan sesuatu untuk Anda duduki karena saya memiliki seorang budak yang seorang tukang kayu?' Beliau menjawab, 'Ya, jika Anda mau.' Maka wanita itu pun membuatkan mimbar tersebut."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan ta'awun (tolong-menolong) dalam kebaikan:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

QS. At-Taubah [9]: 71

"Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini sebagai dorongan bagi kaum mukminin untuk saling membantu dalam kebaikan, termasuk dalam menyiapkan sarana ibadah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Bolehnya meminta bantuan ahli dalam pembangunan masjid.

Imam Al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang meminta bantuan tukang kayu dan pengrajin, menunjukkan bahwa beliau memandang hadits ini sebagai dalil disyariatkannya menggunakan jasa ahli dalam pembangunan sarana masjid. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menerima bantuan dari orang yang menawarkan diri untuk kebaikan, termasuk dalam hal pembangunan mimbar.

Kedua: Mimbar sebagai sarana dakwah.

Sebelumnya Rasulullah ﷺ berkhutbah dengan berdiri di atas tanah atau di atas batang pohon kurma. Ketika jumlah jamaah bertambah, beliau membutuhkan tempat yang lebih tinggi agar suaranya terdengar oleh seluruh jamaah. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pembuatan mimbar ini terjadi setelah jumlah kaum muslimin bertambah banyak.

Ketiga: Sikap lembut Nabi ﷺ.

Perhatikan jawaban beliau: "إِنْ شِئْتِ" (jika engkau mau). Ini menunjukkan kelembutan beliau dan tidak memberatkan seseorang yang ingin berbuat baik. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa jawaban seperti ini adalah bentuk tawadhu' dan tidak memerintah secara langsung, sehingga orang yang berbuat baik melakukannya dengan kesadaran sendiri.

Keempat: Peran wanita dalam kebaikan.

Hadits ini menunjukkan bahwa wanita juga memiliki peran dalam mendukung dakwah dan sarana ibadah, sesuai kemampuan mereka. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa wanita ini adalah seorang wanita Anshar, dan sebagian riwayat menyebutkan namanya.

Kelima: Bekerja dengan keahlian.

Hadits ini juga menunjukkan bolehnya seseorang bekerja sesuai keahliannya, dan bahwa keahlian tukang kayu diakui oleh Nabi ﷺ. Ini sejalan dengan prinsip Islam yang menghargai profesionalisme dalam pekerjaan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa sebelum adanya mimbar, Rasulullah ﷺ berkhutbah dengan berdiri di atas batang pohon kurma yang telah kering. Ketika beliau berkhutbah, batang pohon itu mengeluarkan suara seperti rintihan karena rindu kepada beliau. Setelah mimbar dibuat, Rasulullah ﷺ berpindah ke mimbar, dan batang pohon itu pun terdiam setelah beliau menenangkannya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seorang wanita Anshar berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami memiliki seorang budak tukang kayu. Apakah engkau mengizinkan kami membuatkan mimbar untukmu?" Beliau menjawab, "Jika engkau mau." Maka dibuatlah mimbar tersebut.

Hikmah dari kisah ini: seorang wanita biasa pun bisa berkontribusi besar dalam dakwah Islam dengan cara yang halal dan sesuai kemampuannya. Ini mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki peran dalam membangun peradaban Islam, sekecil apa pun kontribusinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh meminta bantuan ahli (tukang kayu, pengrajin, dan sejenisnya) dalam pembangunan sarana masjid dan dakwah.
  2. Hendaknya kita menerima kebaikan orang lain dengan lembut dan tidak memberatkan, sebagaimana sikap Nabi ﷺ.
  3. Wanita memiliki peran dalam mendukung dakwah dan sarana ibadah sesuai kemampuannya.
  4. Mimbar masjid adalah sarana yang disyariatkan untuk memudahkan penyampaian khutbah dan dakwah.
  5. Hendaknya kita menghargai keahlian dan profesionalisme dalam setiap pekerjaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?