Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu ikut serta dalam 17 kali peperangan (ghazwah) bersama Nabi ﷺ, sementara jumlah seluruh peperangan yang diikuti oleh Nabi ﷺ adalah 19 kali. Ini menunjukkan keberanian dan kecintaan para sahabat dalam mendampingi Rasulullah ﷺ di medan jihad, serta menjadi bukti sejarah perjuangan dakwah Islam yang penuh pengorbanan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ ـ رضى الله عنه ـ كَمْ غَزَوْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ سَبْعَ عَشْرَةَ. قُلْتُ كَمْ غَزَا النَّبِيُّ ﷺ قَالَ تِسْعَ عَشْرَةَ.
Perawi: Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu
Kitab: Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi, Bab "Berapa Banyak Nabi ﷺ Menggempur", no. 4471
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
(QS. Ali 'Imran [3]: 200)
Ayat ini menunjukkan perintah Allah kepada kaum mukminin untuk bersabar, berjihad, dan selalu siap siaga dalam membela agama-Nya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa kata "ghazwah" (غَزْوَة) secara bahasa berarti peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi ﷺ secara pribadi. Adapun "sariyyah" (سَرِيَّة) adalah pasukan yang dikirim Nabi ﷺ tanpa beliau ikut serta secara langsung.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa jumlah peperangan yang diikuti Nabi ﷺ disebutkan dalam beberapa riwayat dengan angka yang berbeda-beda. Ada yang menyebut 19, 21, 25, dan 27 kali. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan cara menghitung—apakah termasuk peperangan yang hanya diikuti pasukan kecil, atau termasuk peristiwa tertentu seperti Fathu Makkah yang terjadi tanpa peperangan besar.
Imam Al-Bukhari sengaja meletakkan hadits ini dalam Kitab Al-Maghazi untuk menunjukkan perhatian para sahabat terhadap detail perjuangan Nabi ﷺ. Ini juga menjadi bukti bahwa para sahabat sangat antusias mencatat dan menghafal sejarah perjuangan Islam.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kisah-kisah peperangan Nabi ﷺ bukan sekadar sejarah biasa, tetapi mengandung pelajaran tentang keimanan, kesabaran, pengorbanan, dan strategi dakwah yang harus dipelajari oleh setiap muslim.
Adapun Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sendiri ikut serta dalam 27 peperangan, dan beliau mengirim pasukan dalam 47 sariyyah. Namun angka-angka ini bisa berbeda karena perbedaan metode penghitungan para ulama.
Yang penting dipahami dari hadits ini adalah:
- Keberanian dan kesetiaan sahabat — Zaid bin Arqam yang masih muda saat itu telah ikut serta dalam 17 peperangan, menunjukkan semangat jihad yang tinggi sejak usia muda.
- Perjuangan Nabi ﷺ yang luar biasa — Beliau tidak hanya berdakwah dengan lisan, tetapi juga berjuang dengan jiwa dan raga di medan perang demi menegakkan kalimat Allah.
- Pentingnya sejarah Islam — Para sahabat dan ulama sangat memperhatikan detail sejarah perjuangan Nabi ﷺ untuk dijadikan pelajaran dan teladan bagi umat.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat muda dari kalangan Anshar. Beliau ikut serta dalam Perang Khaibar dan peperangan lainnya bersama Rasulullah ﷺ. Dalam riwayat lain, Zaid bin Arqam juga meriwayatkan hadits tentang Ghadir Khum, yang menunjukkan kedekatannya dengan Nabi ﷺ.
Yang menarik, ketika Abu Ishaq as-Sabi'i—seorang tabi'in yang terkenal—bertanya kepada Zaid bin Arqam tentang jumlah peperangan, beliau menjawab dengan penuh keyakinan: "Tujuh belas." Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan dan mengingat detail perjuangan mereka bersama Nabi ﷺ, bukan karena ingin membanggakan diri, tetapi karena kecintaan mereka kepada Rasulullah ﷺ dan perjuangan Islam.
Hikmah dari kisah ini: kecintaan sejati kepada Nabi ﷺ bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan pengorbanan dan kesediaan untuk berjuang di jalan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Meneladani semangat jihad para sahabat — Jihad tidak selalu berarti perang; bisa juga berjuang melawan hawa nafsu, belajar ilmu agama, dan berdakwah dengan cara yang baik.
- Menghafal dan mempelajari sirah Nabi ﷺ — Sejarah perjuangan Nabi ﷺ adalah sumber pelajaran berharga bagi kehidupan kita.
- Menumbuhkan keberanian dalam kebenaran — Sebagaimana Zaid bin Arqam yang berani berjuang sejak muda, kita pun harus berani membela kebenaran sesuai kemampuan kita.
- Bersyukur atas kemudahan beribadah — Kita tidak dituntut berperang seperti para sahabat, tetapi kita tetap bisa berjihad dengan harta, ilmu, dan doa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.